Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Hikmah Ramadan 2025

Berpuasa secara Mindfullness

Alhamdulillah, bulan ramadhan kembali datang. Bulan mulia penuh keberkahan. Bulan kesembilan dalam tahun hijriyah ini memiliki banyak sebutan

Editor: Sudarma Adi
zoom-inlihat foto Berpuasa secara Mindfullness
ISTIMEWA
Prof. Hj. Muslihati sebagai Sekretaris Komisi Perberdayaan Perempuan Remaja dan Keluarga MUI Jawa Timur dan Guru Besar Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang

Mereka berusaha menghindari bahkan mengelola diri agar jauh dari perbuatan tersebut. Puasa level kedua puasa yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran bahwa ibadah puasa nya tidak boleh dinodai oleh perbuatan tercela, sekalipun tanpa suara, semisal berbagai aktivitas kurang baik melalui gadget berbagai platform sosial media atau artificial intelligence yang ada. 

Puasa level ketiga adalah level tertinggi menurut Imam Al-Ghazali. Di level khushusil khushus ini puasa tidak saja menahan diri dari maksiat, namun juga menjaga hati agar selalu tertaut pada Allah SWT.

Ketika terbersit hal lain selain Allah SWT seperti harta duniawi maka puasanya dianggap batal. Mengingat betapa beratnya laku puasa di level ini, maka tidak mengherankan jika level ini hanya mampu ditunaikan oleh para nabi dan kekasih Allah SWT. 

Bagi kita yang masih terikat dengan aktivitas dan kebutuhan duniawi, tentu kualitas level ketiga sangat berat untuk dicapai.

Namun demikian, kita perlu terus berusaha mencapai kualitas puasa dari waktu ke waktu agar tidak ternoda dari perbuatan buruk yang dapat merusak hakikat dan menghilangkan pahala puasa.

Upaya untuk meningkatkan kualitas puasa sangat penting agar kita meraih predikat istimewa yang dijanjikan Allah SWT, mencapai kualifikasi orang-orang yang bertaqwa.

Berpuasa secara Mindfullness 

Melaksanakan puasa dengan baik dengan menahan diri dari berbagai godaan yang dapat menodai pahala puasa, memerlukan latihan berproses.

Kesadaran sebagai hamba yang wajib mengabdi dan bersyukur pada sang Khalik menjadi modal penting dalam menjalani ibadah puasa ramadhan secara khusyuk dan mindfulness. 

Apasih yang dimaksud dengan puasa secara mindfulness.

Mari kita mulai dengan memahami apa itu mindfulness terlebih dahulu. Diksi kondisi psikologis ini dimaknai sebagai kemampuan menyadari sepenuhnya situasi dan momen saat ini.

Mindfullness berarti hadir secara utuh jiwa dan raga dengan penuh perhatian, tenang dan tidak reaktif secara emosional dalam satu situasi saat ini. 

Kesadaran yang dimaksud meliputi (1) kesadaran mengenai posisi diri kita sebagai hamba yang diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT (QS Addzariyat ayat 56) (2) kesadaran bahwa kita ditelah diciptakan Allah SWT dengan bentuk sebaik-baiknya (QS Attin ayat 4) (3) kesadaran bahwa kita dimulyakan oleh Allah SWT (QS Al Isro ayat 70) (4) bahwa kita sangat perlu bersandar dan bermunajat pada Allah SWT dalam segala gerak kehidupan kita dan Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk berdoa (QS Al Baqarah 186), dan doa orang berpuasa adalah doa yang potensial diijabah oleh Allah (5) kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang memiliki dorongan nafsu yang dapat menjerumuskan pada kelalaian dan keterpurukan (QS Al Kahfi ayat 28) dan (6) kesadaran akan kesempatan emas untuk beribadah di bulan ramadhan yang sangat Istimewa.

Semua kesadaran itu dapat menjadi motivasi, refleksi dan evaluasi sekaligus bahan untuk membangun mindfulness dalam diri kita disaat melaksanakan ibadah puasa. 

Puasa secara mindful berarti menjalani puasa dengan penuh kesadaran mengenai tata cara menjalaninya agar sesuai syariat dan mencapat esensi hakikat.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved