Dinkes Kota Malang Temukan Takjil Berbahan Kimia Berbahaya, Warga Diimbau Berhati-hati
Dinas Kesehatan Kota Malang telah menemukan sejumlah contoh makanan takjil yang mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan.
Penulis: Benni Indo | Editor: Dwi Prastika
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Masyarakat Kota Malang diimbau untuk berhati-hati dan cermat saat membeli makanan hidangan berbuka puasa atau takjil.
Dinas Kesehatan Kota Malang telah menemukan sejumlah contoh makanan yang mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan.
Makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya itu didapat dari pedagang yang menjajakan produknya di tempat jualan takjil.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Husnul Muarif saat ditemui di Terminal Arjosari Malang mengatakan, bahan kimia berbahaya yang ditemukan antara lain adalah pewarna kuning.
Pewarna kuning atau metanil yellow merupakan bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan.
Zat ini dilarang sebagai bahan campuran produk makanan.
"Kami sudah periksa 12 titik pasar takjil. Kalau kandungan boraks tidak ada, kandungan formalin juga tidak ada, yang ada itu bahan pewarna tambahan yang berwarna kuning," katanya, Kamis (20/3/2025).
Temuan itu berada di dua titik pasar takjil.
Temuan bahan kimia itu berada di makanan berupa es blewah.
Pihak Dinkes Kota Malang telah memberikan imbauan kepada pedagang agar tidak menggunakan bahan berbahaya itu lagi.
"Sudah kami berikan informasi kepada yang menjual, sehingga makanan yang dijual tidak boleh diberi bahan pewarna tambahan," kata Husnul.
Baca juga: Antusias Warga Saat Polres Trenggalek Adakan Aksi Sosial, Ada Cek Kesehatan Gratis dan Bagi Takjil
Dinkes Kota Malang dan petugas dari puskesmas terdekat akan terus mendatangi pedagang yang kedapatan menggunakan bahan kimia berbahaya.
Petugas harus memastikan kembali bahwa pedagang tidak menjual kembali barang dagangannya yang dicampur bahan kimia.
Dijelaskan Husnul, warga bisa mengetahui jenis makanan yang mengandung bahan kimia dari warnanya.
Jika warna makanannya sangat mencolok, perlu diwaspadai.
Jangan tergiur dengan makanan yang berwarna mencolok. Lebih bagus lagi warga diimbau untuk memasak sendiri makanan berbuka.
"Ya jadi, kalau bahan pewarna tambahan itu, kenali warnanya yang lebih mencolok. Misal Rodhamin itu kan merah ya, misal minuman apa, kok warnanya lebih dari biasanya, itu tanda fisik yang harus diwaspadai. Bahan kimia itu berbahaya bagi tubuh dalam jangka panjang," terang Husnul.
Kabid Kesmas Dinkes Kota Malang, drg Muhammad Zamroni mengatakan jika pedagang masih menggunakan bahan kimia tersebut, akan dilaporkan ke pihak berwajib.
Zamroni juga mengatakan, berdasarkan laporan yang ia terima, ditemukan juga dua contoh makanan yang mengandung Rhodamin B pada makanan jenis cenil.
Rodhamin B adalah bahan kimian yang biasa digunakan dalam industri tekstil.
Zat ini juga biasanya digunakan untuk pewarna pelacak di dalam air. Bahan ini ditemukan di pedagang penjual takjil di kawasan Kecamatan Lowokwaru, Malang.
"Orang yang mengkonsumi tentu bisa keracunan. Kami sudah lakukan pembinaan kepada pedagang tersebut," kata Zamroni.
Setiap tahun, Dinkes Kota Malang secara rutin melakukan pembinaan terhadap penjual makanan di berbagai wilayah.
Pembinaan ini melibatkan tenaga puskesmas dan sanitarian yang bertugas memastikan bahan-bahan makanan aman dan tidak membahayakan kesehatan.
Dikatakan Zamroni, masyarakat cenderung tertarik pada makanan dengan warna yang mencolok.
Namun, hal itu perlu diwaspadai karena warna yang mencolok bisa jadi terdapat bahan yang tidak sehat.
Sejak hari pertama puasa, petugas kesehatan turun langsung ke lapangan untuk melakukan pembinaan.
Mereka memeriksa dagangan yang dijual, mengambil sampel makanan yang mencurigakan, dan melakukan pengujian di laboratorium kesehatan masyarakat.
"Kami bekerja sama dengan bidang farmasi untuk melakukan pengujian sampel makanan. Jika ditemukan bahan berbahaya seperti formalin atau boraks, kami akan melakukan pembinaan lebih lanjut. Jika diperlukan, kami akan berkoordinasi dengan Balai POM untuk melakukan tindakan lebih lanjut," tegasnya.
Selain pengawasan di pusat jajanan takjil, Dinkes Kota Malang juga melakukan pembinaan terhadap pedagang di pusat-pusat keramaian seperti Kayutangan Heritage dan pasar tradisional.
Pembinaan ini meliputi pelatihan penjamah makanan untuk memastikan makanan yang disajikan higienis dan aman.
Malang
takjil
Husnul Muarif
Terminal Arjosari
boraks
TribunJatim.com
berita Kota Malang terkini
Tribun Jatim
berita Jatim terkini
Bocor Desain Terbaru iPhone 17 Hingga iPhone 20, Bakal Tampil Beda, Apple Usung Hape Lipat? |
![]() |
---|
Daftar Kontroversi Ustaz Evie Effendi yang Diduga Pukul dan Ludahi Anak, MUI Anggap Memprihatinkan |
![]() |
---|
Lurah Sidik Rugi Rp 60 Juta karena Dikira Anggota DPR, Pendemo Pukuli Wajah hingga Jarah Mobilnya |
![]() |
---|
Ini Tips Atur Siklus Haid bagi Jemaah Haji dan Umrah, dr Mahida: Pengaturan Hormon |
![]() |
---|
Apes Iryna Pindah Negara Demi Hindari Perang, Malah Meninggal di Tangan Residivis |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.