Hikmah Ramadan 2025
Berpuasa, Media Sosial dan Bertapa
Semua ibadah manusia mayoritas bisa dilihat pengerjaannya. Misalnya ketika orang Shalat, orang lain bisa melihatnya, paling tidak diri sendiri bisa me
Oleh: H.M.Sururi
Ketua Komisi Infokom MUI Jatim
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Semua ibadah manusia mayoritas bisa dilihat pengerjaannya. Misalnya ketika orang Shalat, orang lain bisa melihatnya, paling tidak diri sendiri bisa melihat, apakah rukun-rukunnya dijalankan dengan benar atau tidak.
Demikian pula haji, sedekah, membaca Al Qur'an atau lainnya. Hampir semua ibadah ada celah untuk dipamerkan. Namun tidak dengan puasa.
Kegiatan manusia modern hari ini, sudah demikian tergantung dan intim dengan media sosial. Apapun kegiatan manusia bisa dipamerkan melalui media sosial.
Saya yakin, mayoritas penduduk dunia sudah memiliki akun media sosial. Melalui itu, mereka menunjukkan aktivitas yang dilakukan. Bahkan ada yang saking kuatnya dengan dunia media sosial, hampir tak ada batas ruang pribadi dan sosial.
Seseorang bisa mengumbar urusan rumah tangga di media sosial. Bagi yang jatuh cinta, perjalanan cintanya juga ditampilkan di media sosialnya. Ada yang kegiatan mulai bangun tidur sampai tidur lagi juga dimedsoskan. Bisa melalui story di Instagram, status di WA atau di Facebook.
Orang juga berlomba-lomba menyampaikan ide-idenya melalui media sosial. Ada pula menyampaikan nasehat-nasehatnya. Bahkan ada pula yang marah-marah di media sosial. Akhirnya media sosial menjadi saluran semua pemikiran, perasaan dan aktivitas ditumpahkan.
Ada yang bermuatan positif, misalnya mengajak orang lain berbuat baik. Ada juga yang negatif mengumbar aib diri sendiri atau orang lain. Media sosial adalah alat, tergantung manusia apakah akan dibuat kebaikan atau keburukan. Nilai media sosial tergantung pemanfaatannya bagi manusia.
Kembali pada berpuasa. Selama menjalankan puasa Ramadhan manusia tetap berpeluang berbuat maksiat dan kebaikan. Apakah melalui media sosial atau tidak. Mereka yang waktunya hampir dihabiskan di media sosial juga memiliki peluang yang sama.
Oleh karena itu bijak dalam memanfaatkan media sosial sangat penting. Terlebih selama Puasa Ramadhan. Banyak aplikasi, sumber berita dan tayangan di media sosial yang menawarkan kebaikan.
Misalnya aplikasi Al Qur'an, orang bisa memasangnya di HPnya. Sewaktu-waktu dan dimanapun dapat dimanfaatkan membaca Al Qur'an.
Dalam beberapa Hadits, Allah menegaskan bahwa Puasa adalah untukNYA, dan pahalanya langsung dari Allah. Jika shalat misalnya ketika jama'ah akan mendapat pahala 27 kali lipat/derajat, maka berpuasa payalanya bisa berlipat-lipat menurut Allah sendiri yang membalasnya.
Kita tidak bisa memamerkan puasa kita. Apakah misalnya kita menunjukkan gerakan loyo itu sebagai bentuk pamer puasa kita. Orang lain tidak tahu betul.
Orang yang kelihatan semangat menunjukkan tidak puasa, kita tidak tahu betul. Maka berpuasa adalah rahasia manusia dengan Allah, ibadah khusus, ibadah keintiman. Urusannya hanya antara pelaku puasa dengan Allah, tak ada urusan dengan manusia lain.
Dalam masyarakat ada ungkapan populer, yakni "tapa ing rame", bertapa dalam situasi rame. Umumnya orang bertapa itu di tempat-tempat sepi agar bisa berkonsentrasi. Namun berpuasa Ramadhan tidak demikian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/HMSururi-Ketua-Komisi-Infokom-MUI-Jatim-dalam-artikel-Hikmah-Ramadan.jpg)