Pemprov Jatim Dorong Dekarbonisasi, Perkuat Industri Hijau

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) terus mendorong upaya dekarbonisasi sektor industri melalui pengembangan industri hijau. Hingga kini,

Tayang:
Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Ndaru Wijayanto
tribunjatim.com/Fikri Firmansyah
SESI DISKUSI - Pembina Industri Ahli Muda Disperindag Jatim Ira Yuni Pantiwardhani (kiri) bersama Setyo Wahyu Handoni selaku Plant Manager dan Operation Development Manager PT Sinar Karya Duta Abadi (kanan) saat sesi diskusi pelatihan jurnalistik bertema dekarbonisasi industri di Hotel Alana Surabaya, Rabu (18/6/2025). Acara ini digelar oleh Institute for Essential Services Reform (IESR). 

Ekspansi Pasar dan Tantangan Ekspor Hijau

Setyo menjelaskan PT Sinar Karya Duta Abadi saat ini memiliki lima pabrik yang berlokasi di Tangerang dan Serang, Banten; Gresik dan Mojokerto, Jawa Timur; serta Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Total kapasitas produksi dari kelima pabrik tersebut mencapai 72 juta meter persegi keramik per tahun.

"Produk kami dipasarkan di seluruh Indonesia melalui 32 ribu outlet dan juga diekspor ke Malaysia dan Maladewa," ia mengungkapkan.

Sejauh ini, Setyo menambahkan, penerapan industri hijau belum berpengaruh besar terhadap pasar ekspor, khususnya di Asia Tenggara. “Negara-negara seperti Malaysia belum mensyaratkan sertifikasi hijau.”

Namun, di pasar Uni Eropa, tren penerapan industri hijau sudah mulai terlihat dengan adanya aturan Carbon Border Adjustment Mechanism (C-BAM). Kebijakan itu memberi harga pada karbon yang terkandung di dalam produk impor. Tujuannya mencegah ‘kebocoran karbon’ dan memastikan bahwa industri di Uni Eropa tidak dirugikan oleh impor barang yang diproduksi dengan emisi karbon yang lebih tinggi.

Penerapan prinsip industri hijau di PT Sinar Karya Duta Abadi dilatari oleh visi perusahaan yang ingin berkontribusi positif terhadap lingkungan dan pembangunan nasional. “Kami percaya, industri harus berkembang dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan,” Setyo menuturkan.

IESR Dorong Jurnalis Angkat Isu Dekarbonisasi

Institute for Essential Services Reform (IESR) mendorong para jurnalis memperluas perspektif pemberitaan seputar dekarbonisasi industri.

"Selama ini isu dekarbonisasi cenderung diliput dari sisi konflik atau pencemaran lingkungan. Padahal banyak inisiatif positif dari industri maupun pemerintah daerah yang layak dipublikasi," ujar Koordinator Pelibatan Pemangku Kepentingan Dekarbonisasi Industri dari IESR Rahmat JES kepada Tribun Jatim Network, saat pelatihan Jurnalistik di hari pertama, Selasa (17/6/25), di Hotel Alana Surabaya.

Rahmat mengungkapkan saat ini mayoritas pelaku industri membiayai proses transisi energi secara mandiri.

"Dukungan pemerintah, khususnya dari kementerian, masih sangat minim, terutama dalam memfasilitasi teknologi. Sebagian besar hanya bersifat pendampingan.”

Dalam beberapa kasus, dorongan transisi justru berasal dari pasar dan investor. Contohnya, sebuah perusahaan publik, industri keramik, yang merupakan emiten Bursa Efek Indonesia melakukan transisi energi karena tekanan dari pemegang saham.

Sebagian pelaku industri lain, mulai bergerak karena tersedianya teknologi tepat guna yang dinilai lebih efisien secara ekonomi.

IESR juga menyoroti tantangan pembiayaan. Meskipun sektor perbankan telah menyediakan skema pembiayaan hijau, portofolio proyek industri yang mengakses dana tersebut masih terbatas. “Bank punya kapasitas, tapi karena belum banyak industri yang mengajukan proyek hijau, mereka belum berani masuk lebih dalam,” ungkapnya

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved