TRIBUNJATIM.COM - Captain Vincent Raditya membeberkan sesuatu hal yang cukup mencurigakan dari hasil analisanya terkait data Sriwijaya Air SJ 182 Flight Radar 24.
Ia menuturkan hanya dalam waktu 1 menit, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 jatuh dari ketinggian 11 ribu dengan kecepatan yang sangat ekstrem.
Analisa tersebut dijelaskan Captain Vincent Raditya melalui channel YouTube Vincent Raditya.
Captain Vincent Raditya mengurai analisa terkait data pesawat Sriwijaya Air SJ182 sebelum jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2020).
Analisa tersebut disampaikan Captain Vincent Raditya berdasarkan data Sriwijaya Air SJ 182 yang tertera di situs Flight Radar 24.
Melalui kanal YouTube-nya, Captain Vincent Raditya menjelaskan perihal keadaan serta kondisi pesawat Sriwijaya Air SJ 182 sebelum jatuh.
Penjelasan tersebut disampaikan Captain Vincent Raditya berdasarkan keilmuan serta pengalamannya selama menjadi pilot.
"Saya akan membahas data yang ada di flight radar 24. Saya tidak akan membahas apa kira-kira penyebabnya. Saya hanya membahas, apa data yang ada di flightradar24," kata Captain Vincent Raditya dikutip TribunnewsBogor.com ( grup TribunJatim.com ), Senin (11/1/2021).
Baca juga: Bahaya Pesawat Tua? Sriwijaya Air yang Jatuh Berumur 26 Tahun, Captain Vincent: Banyak Sekali Faktor
Baca juga: Bukan Ajalku Cerita Pramugari yang Terhindar dari Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air, Rute Dipindah
Sebelum masuk ke penjelasan, Captain Vincent Raditya memberikan peringatan.
Bahwa ia tidak akan mengurai asumsi terkait penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182.
Dalam videonya, Captain Vincent Raditya hanya akan mengurai penjelasan terkait data yang ada di situs flightradar24 mengenai pesawat SJ 182.
"Data yang ada di flightradar ini bisa saja salah, belum tentu akurat. Ini bukan sesuatu yang pasti, hanya ancer-ancer saja," sambung Captain Vincent Raditya.
Memulai analisanya, Captain Vincent Raditya menunjukkan data yang ada di flightradar24 mengenai posisi pesawat Sriwijaya Air SJ 182.
Pada pukul 13.37 WIB, pesawat masih terparkir di Bandara Soekarno Hatta.
Captain Vincent Raditya lantas menjelaskan detail per menit tiap pergerakan pesawat tersebut.
Baca juga: Pasutri Jadi Korban Jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182, Pulang ke Ponorogo saat Ayahnya Meninggal Dunia
Baca juga: YouTuber Faisal Rahman Korban Sriwijaya Air, Tata Liem: Tak Bisa Lagi Dihubungi, Foto Terakhir Viral
Mulai dari saat pesawat terparkir di Bandara Soetta hingga take off.
"Pukul 14.36 WIB pesawat mulai take off. Pada saat take off-nya sendiri, bisa dikatakan cukup normal, kecepatannya cukup normal," ujar Captain Vincent Raditya.
Terus melihat data yang terpampang di situs, Captain Vincent Raditya tak melihat ada hal aneh saat pesawat tersebut mulai take off.
Pada pukul 14.36 WIB, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 juga menurut Captain Vincent Raditya sudah on the track.
Artinya, pesawat memang sudah terbang di jalur yang seharusnya guna menuju Pontianak.
Pada pukul 14.39 WIB, kondisi pesawat menurut Captain Vincent Raditya masih normal.
Hal tersebut dilihat dari kecepatan, track hingga ketinggian yang tampak normal.
Namun tak sampai satu menit, pesawat tersebut mendadak oleng 3 derajat.
Yakni dari posisi semula 46 derajat menjadi 43 derajat.
Baca juga: Allah Masih Sayang Aku Kisah Wanita yang Gagal Naik Pesawat Sriwijaya Air: Tes Swabnya Gak Berlaku
Baca juga: Firasat Anak Pilot Sriwijaya Air, Bingung Sikap Ayah Beda dari Biasa, Beri Teguran Sebelum Terbang
Melihat hal tersebut, Captain Vincent Raditya menjelaskan bahwa itu lumrah terjadi.
Saat pesawat mengalami turbulensi, perpindahan posisi berubah sekian derajat adalah hal wajar.
"Bisa enggak terjadi? Bisa saja. Kalau kena turbulens, bisa saja dia belok ke kiri," kata Captain Vincent Raditya.
Namun, kemiringan pesawat Sriwijaya Air tersebut justru semakin bertambah.
Sebab dalam waktu sekian detik, pesawat tersebut kembali oleng dengan kemiringan tajam hingga 16 derajat.
"Tapi, tiba-tiba, tidak sampai 1 menit. Pesawat ini belok dari 46 ke 30 ini sudah 16 derajat off track. Ini sesuatu hal yang sudah cukup mencurigakan," ujar Captain Vincent Raditya.
Momen tersebut diakui Captain Vincent Raditya adalah indikasi awal pesawat Sriwijaya Air ada masalah.
Karena dalam detik selanjutnya, posisi pesawat tersebut terus berubah dan semakin oleng hingga 6 derajat.
Kala itu, kecepatan dan ketinggian pesawat masih normal yakni di atas 250 knot dengan ketinggian 10.000 kaki.
"Ini sudah mulai mengindikasikan pesawat menikung secara stip nih ke kiri. Di sini sudah out track. Dari 46 derajat pindah jadi 6 derajat. Waktunya 14.40 menit. Kurang dari 1 menit, pesawat ini off track 40 derajat," ungkap Captain Vincent Raditya.
Masih pada pukul 14.40 WIB, pesawat Sriwijaya Air tersebut secara mendadak juga mengalami penurunan ketinggian dan kecepatan yang drastis.
Hal tersebut menurut Captain Vincent Raditya adalah sebuah tanda bahwa Sriwijaya Air diduga mengalami stall.
Stall adalah kehilangan daya angkat. Pesawat bisa terbang karena adanya daya angkat.
Jika daya angkatnya hilang, pesawat tidak akan bisa terbang di udara.
"Kurang dari satu menit, pesawat ini menghadap ke kiri. Sangat drastis dan stip. Heading 339 derajat. Pesawat ini dive down (ketinggiannya berkurang menjadi) 8.900 kaki dari 10.700 kaki. Tiba-tiba kecepatannya 224 knot,"
"Ini ada kemungkinan, indikasi airspeed dia di bawah 200 knot. Artinya di pesawat, clean configuration, sudah cukup berisiko untuk terkena stall," pungkas Captain Vincent Raditya.
Terus menerus berubah posisi, pesawat Sriwijaya Air itu pun akhirnya mencapai ketinggian tak wajar.
Pun dengan kecepatan yang juga menurun.
"Ground speed 115 knot, ini indikasi crash kuat sekali. Bahwa pesawat ini terkena full stall. Akan sulit sekali untuk di-recover dengan ketinggian 5.400 kaki,"
"Ini sudah sesuatu yang enggak normal. Pesawat ini off track dengan kecepatan yang tidak seharusnya dan ketinggian yang tidak seharusnya," ujar Captain Vincent Raditya.
Baca juga: Kompor Tak Hidup, Perasaan Tak Enak Ibu Penumpang SJ 182, Curhat Pilu soal Menantu: Positif Hamil
Baca juga: PPKM di Kota Malang, Ini Alasan Sutiaji Pakai Pembatasan Jam Malam Sampai Pukul 20.00 WIB
Melihat kejanggalan tersebut, Captain Vincent Raditya pun menjelaskan.
Bahwa dalam waktu satu menit, pesawat tersebut mengalami perubahan mulai dari posisi, ketinggian hingga kecepatan yang drastis.
"Hanya dalam satu menit, pesawat itu jatuh dari ketinggian 11 ribu dengan kecepatan yang sangat ekstrem, 358 knot atau 553 km per jam," imbuh Captain Vincent Raditya.
Selesai membaca data tersebut, Captain Vincent Raditya kembali mengurai disclaimer.
Bahwa apa yang ia sampaikan hanya berdasarkan data.
Dengan akurasi ketepatan berkisar 20 sampai 30 persen saja.
"Inilah yang Saya bisa baca berdasarkan pengalaman saya di aviasi. Saya hanya memberikan gambaran dengan data kalau kita lihat. Ini bukan data yang pasti. Kita tidak bisa menerka-nerka. Tapi ini hanya baca data apa yang ada di dalam flight radar," tutup Captain Vincent Raditya.
Diwartakan sebelumnya, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 hilang kontak di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, pada Sabtu sekitar pukul 14.40 WIB.
Pesawat tersebut hilang kontak 4 menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Sabtu (9/1/2020).
Pesawat mengangkut 62 orang, yang terdiri dari 6 kru, 46 penumpang dewasa, tujuh anak-anak, dan tiga bayi.
Pesawat Sriwijaya Air sempat keluar jalur yakni menuju arah barat laut pada pukul 14.40 WIB.
Pihak Air Traffic Controller (ATC) kemudian menanyakan pilot mengenai arah terbang pesawat.
Namun, dalam hitungan detik, pesawat dilaporkan hilang kontak.
(TribunnewsBogor.com/Khairunnisa)
Artikel ini telah tayang di TribunnewsBogor.com dengan judul Analisa Capt Vincent Raditya soal Sriwijaya Air SJ 182, Curiga Pesawat Oleng Tajam dalam 1 Menit