Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Ficca Ayu Saraswaty
TRIBUNJATIM.COM - Perjalanan merantau Jovan Zachary Winarno dari Indonesia ke Amerika tak disangka membawanya bergabung ke militer.
Pemuda asal Surabaya itu tak mengira bahwa dirinya akan menjadi tentara AL di Negeri Paman Sam.
Semula ia hanya bermodalkan keinginan untuk melanjutkan studi di sana, namun kini ia justru berdinas di US Navy.
“Jadi, awalnya enggak ada kepikiran untuk join military. Saat mau berangkat tujuannya untuk kuliah, sempat minder karena Bahasa Inggris saya belum lancar,” ujarnya saat dihubungi TribunJatim.com (23/9/2021).
Baca juga: Eko Yuli Irawan The Movie: Gembala Kambing ke Olimpiade, Menembus Batas dan Menjaga Mimpi Jadi Juara
Sebelum kuliah, Jovan sempat bekerja sebagai pelayan restoran di Texas selama enam bulan.
Suatu hari ia mendapat informasi tentang menjadi tentara di AS, yang kini mengubah kehidupannya.
“Iya sempat kerja dulu di restoran, lalu ada teman ayah saya bilang kalau anaknya join military karena banyak benefit, yaudah akhirnya saya juga ikut,” ungkapnya.
Lahir 21 tahun lalu di Marietta, Georgia, Amerika Serikat membuat Jovan memiliki status kewarganegaraan Amerika Serikat. Sementara kedua orangtuanya merupakan Warga Negara Indonesia (WNI).
“Saya status kewarganegaraan Warga Negara Asing (WNA), kalau orangtua WNI, jadi dulu saya lahir di sini, otomatis WNA,” papar Jovan.
Jovan memilih bergabung menjadi tentara AL di Amerika Serikat karena tergiur dengan benefit yang ditawarkan. Ada banyak manfaat dari menjadi US Navy mulai dari asuransi, pendidikan, biaya makan, tempat tinggal, dan lain sebagainya.
Gaji yang didapat juga cukup besar, saat awal masuk Jovan mendapat 30 hingga 40 juta rupiah. Angka tersebut akan bertambah seiring dengan kenaikan pangkat.
Baca juga: Menikah Muda Itu Asyik, Psikolog Yudha: Kalau Kesiapan Usia, Mental, hingga Finansial Sudah Dipenuhi
Proses Bergabung Jadi US Navy
Menurut Jovan, proses untuk bergabung menjadi US Navy terbilang ketat, karena tidak semua negara bisa masuk, diperuntukkan khusus bagi warga negara Amerika atau mereka yang memiliki green card.
Menariknya, US Navy juga terbuka untuk perempuan. Maka tak heran kalau teman militer Jovan tidak hanya laki-laki saja.
Jovan menuturkan kalau pekerjaannya sebagai tentara AL di Amerika Serikat menganut sistem kontrak. Berbekal status kewarganegaraan Amerika, Jovan lalu mendaftar sebagai US Navy.
“Awalnya cuman butuh green card dan warga negara sini untuk join, lalu ada tes pendidikan. Misalnya udah lulus baru dikirim training, saat training bisa lulus/gagal,” terang Jovan.
Proses selanjutnya adalah bootcamp selama dua bulan. Bagi pemuda asal Surabaya itu, tantangan yang paling penting saat bootcamp adalah tes fisik. Jika tidak lulus tes fisik maka akan susah. Menentukan lulus atau tidaknya, terdapat sistem penilaian tertentu.
“Mereka ada sistem penilaian, nilai terendah 40. Kalau dapat nilai di atas 40, baru bisa ikut bootcamp. Kalau gagal bisa mengulang lagi, setidaknya tiga kali kesempatan,” imbuhnya.
Baca juga: Kisah Ramadan Pelajar Indonesia Puasa 16 Jam di Turki-Inggris, Tak Ada Azan hingga Masjid Dihidupkan
Terkait pangkat di US Navy, ada beberapa tipe mulai dari Stripe 1-3, Third-First class, dan Chief yang bertindak sebagai atasan. Jovan sendiri saat ini pangkatnya adalah Petty Officer Third Class.
“Untuk naik pangkat, biasanya ada selang waktunya. Stripe 1 ke 2 perlu waktu 9 bulan, 9 bulan lagi, enam bulan otomatis. Stripe ke centang butuh ambil tes dulu,” ungkap Jovan.
Saat awal bergabung menjadi US Navy, kemampuan Bahasa Inggris Jovan belum terlalu lancar, namun seiring berjalannya waktu satu hingga dua tahun, ditambah sudah ada teman mengobrol, akhirnya Jovan bisa berbicara dalam Bahasa Inggris.
Selayaknya militer pada umumnya, Jovan juga dibekali latihan menembak, latihan fisik setiap hari selama 1-2 jam, setelah itu baru mengerjakan pekerjaannya sesuai job masing-masing. Di US Navy sendiri, ada beragam posisi dan tidak semuanya merupakan teknisi kapal.
Baca juga: Film Pendek Omah Njero: Tempat Paling Sakral, Sendang Kapit Pancuran, hingga Ruang Semayam Para Ego
Pekerjaan Jovan di US Navy yakni engine man, di mana bertugas untuk pemeliharaan mesin-mesin di kapal dengan durasi jam bekerja rata-rata 8 jam per hari.
Untuk perbedaannya antara US Army, US Navy, dan US Navy Seal, Secara singkat, Jovan menjelaskan kalau US Navy lebih ke daratan atau Angkatan Darat, US Navy lebih ke laut dengan tugas berlayar, dan US Navy Seal bisa ke semuanya (pasukan khusus bisa darat maupun laut).
Pengalaman Jovan dalam berlayar, ia pernah berlayar ke Panama, Kolombia, Ekuador, El Savador, dan Guam. Guam merupakan pulau kecil milik pangkalan militer Amerika dan berada di daerah Asia.
Untuk agenda berlayar, Jovan menyebut tidak tentu, namun dalam jangka waktu lima tahun kontrak pasti ada agenda berlayar, bisa satu hingga dua kali.
Jenis kapal yang digunakan untuk berlayar juga bergantung pada misi yang ada. Sekali berlayar, waktu yang dibutuhkan mulai dari tiga, sembilan bulan hingga setahun.
Pengalaman kurang menyenangkan saat berlayar bagi Jovan sebetulnya tidak ada, mungkin pada saat tertentu ia mengalami mabuk laut. Kekhawatiran lainnya yaitu susah sinyal yang membuatnya sulit menghubungi keluarga, dan cuaca buruk yang membuatnya takut ketika kapal bergoyang-goyang.
Baca juga: Janji Teruskan Perjuangan Pakde, Mira Kirana ‘The Next Didi Kempot’ Ajak Anak Muda Cinta Budaya Jawa
Suka dan Duka
Menjalani hari-hari sebagai US Navy secara tidak langsung mengubah kehidupan Jovan. Anak pasangan Susanto dan Lidia itu mengaku kini wawasannya menjadi lebih luas dan dikelilingi oleh banyak teman dari beberapa negara.
Lebih lanjut, ia menjadi sosok yang mandiri dan jauh lebih dewasa mengingat peraturan di militer cukup ketat.
Bekerja sebagai tentara AL di Amerika Serikat juga membuatnya jauh dari keluarga.
“Dukanya kangen sama kelaurga, enggak bisa ketemu 2,5 tahun,” curhat alumni SMAK Frateran Surabaya itu.”
Jovan rupanya sudah sempat berencana pulang ke Indonesia dari tahun lalu, namun pandemi Covid-19 menjadi penghalangnya. Untuk pulang ke Indonesia, ia diberikan jatah cuti.
Baca juga: Berjaya di Panggung Balet, Michael Halim Peraih Solo Seal Punya Mimpi Besarkan Balet Kontemporer
“Jadi kita ada semacam vacation day, sebulan dapat dua setengah hari terus dikumpulin gitu, jadi total sekitar 3 minggu,” tambahnya.
Tentara AS yang masih ‘medok’ ini mengutarakan niatnya di masa depan. Ke depannya, Jovan berencana untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi di Amerika.
Setelah masa kontraknya habis, ia berencana masuk kuliah jurusan engineering. Jurusan tersebut dinilainya sesuai dengan pekerjaannya sebagai teknisi kapal.
Jovan tak lupa memberikan suntikan semangat bagi pemuda Indonesia yang ingin mengikuti jejaknya. Baginya prestasi tidak bisa dicapai tanpa semangat. Selain itu juga dibutuhkan mental baja untuk menjadi seorang tentara.
(TribunJatim.com/Ficca Ayu Saraswaty)