Endri memperkirakan, jika luas tanam yang rusak 400 hektare saja, kerugian yang dialami mencapai Rp 2 miliar.
Tanaman yang sudah wiwil pertama bisa dimanfaatkan untuk krosok, atau daun tembakau yang dikeringkan.
Harganya pun turun jauh, hanya sekitar Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per kilogram.
“Harganya jauh sekali jika dijadikan tembakau rajangan kering. Paling tidak sedikit mengurangi kerugian,” ucapnya.
Saat ini harga tembakau Tulungagung tembus Rp 130.000 per kilogram.
Endri meyakini harga akan terus naik karena jumlah panen yang terbatas karena banyak yang mati.
Karena itu Endri berharap agar hujan intensitas tinggi tidak lagi turun agar tanaman tembakau yang ada bisa panen.
“Kalau selamat dari hujan, pertengahan September (2025) ini sudah panen. Harganya pasti mahal karena barangnya langka,” tegasnya.
Saat ini Endri juga mendatangkan daun tembakau basah dari wilayah Kabupaten Magetan.
Tembakau ini dirajang dengan metode patik, atau dirajang dengan gagangnya untuk memasok permintaan pabrik rokok di Tulungagung.
Namun harganya masih di bawah tembakau hasil dari Tulungagung sendiri.