Dampak Pelemahan Rupiah Dirasakan Angkutan Kapal, Ongkos Perawatan Ikut Naik

Pelemahan rupiah menambah beban kenaikan beberapa kebutuhan angkutan kapal setelah perang Timur Tengah.

Tayang:
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Alga W
Tribun Jatim Network/Aflahul Abidin
CEK OLI KAPAL - Pekerja kapal mengecek drum berisi oli di dalam salah satu kapal milik perusahaan PT Sadina Mitra Bahari di Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi. Operator kapal mengeluhkan kenaikan kebutuhan perawatan dan suku cadang. 

Akibat kenaikan harga kebutuhan perawatan, pihak operator kapal harus berhemat.

Pergantian-pergantian barang di kapal yang tak berpengaruh terhadap sektor keselamatan akhirnya harus ditunda.

"Yang bisa dilakukan, ya, efesiensi. Barang yang harusnya ganti tapi bisa dibersihkan, ya dibersihkan dulu. Pipa-pipa yang bisa dilas, ya dilas dulu. Tidak diganti dulu," tambahnya.

Ketua Gapasdap Banyuwangi, Nurjatim menambahkan, harga-harga barang perawatan yang baik membuat ongkos yang harus dikeluarkan operator kapal bertambah.

Meski demikian, belum ada perusahaan kapal di lintas Jawa-Bali yang berencana mengurangi tenaga kerja.

"Isu pengurangan tenaga kerja tidak ada. Tapi pengeluaran memang meningkat," kata Nurjatim.

Pihaknya berharap, pemerintah pusat bisa merealisasikan penyesuaian tarif penyebrangan agar operasional kapal bisa maksimal. 

"Kami berharap pemerintah bisa menaikkan tarif penyebrangan. Karena tarif penyebrangan memang sudah lama tidak naik. Terakhir naik seingat kami tahun 2019," kata dia.

Sekadar informasi, penyebrangan Selat Bali dilayani oleh 55 kapal Ferry daei 24 perusahaan.

Setiap hari, jumlah kapal yang beroperasi berkisar antara 28 unit hingga 32 unit.

Hal itu bergantung tinggi-rendahnya kendaraan yang menyeberang di salah satu lintasan terpadat di Indonesia tersebut.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved