Lipsus Takjil Ramadan 2026

Waspada Takjil Berbahan Kimia Hingga Warna Mencolok, Ini Tips Aman dari Dinkes Batu

Menyikapi hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mengingatkan masyarakat agar lebih waspada dalam memilih takjil selama Ramadan.

Penulis: Dya Ayu | Editor: Torik Aqua
Tribun Jatim Network/Dya Ayu
TAKJIL - Ilustrasi pedagang takjil yang berdagang setiap tahun saat Ramadan di Jalan Diponegoro, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Minggu (1/3/2026). 

Ringkasan Berita:
  1. Dinkes Kota Batu mengedukasi pedagang dan masyarakat soal takjil aman.
  2. Pengawasan dilakukan di pedagang takjil Kota Batu.
  3. Waspada boraks, formalin, pewarna, dan bakteri E. coli pada takjil.

 

TRIBUNJATIM.COM - Semarak pasar takjil selama Ramadan 2026 ternyata masih ditemukan potensi ancaman kesehatan akibat penggunaan bahan berbahaya pada makanan dan minuman berbuka.

Meski tidak semua pedagang menggunakan bahan yang aman dikonsumsi, demi mengejar keuntungan dan tampilan produk yang lebih mencolok.

Menyikapi hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mengingatkan masyarakat agar lebih waspada dalam memilih takjil selama Ramadan.

Dinkes pun membagikan tips serta ciri-ciri makanan dan minuman yang mengandung bahan berbahaya.

Tenaga Sanitasi Lingkungan Ahli Muda Dinkes Kota Batu, Esty Setya Windari, menyebutkan beberapa zat berbahaya yang kerap ditemukan pada takjil, seperti boraks, formalin, hingga pewarna sintetis.

Baca juga: Warga Trenggalek Makin Rajin Ibadah Ramadan di Masjid Baiturrahman, Ada Takjil 250 Porsi Setiap Hari

Tenaga Sanitasi Lingkungan Ahli Muda Dinkes Kota Batu, Esty Setya Windari, mengatakan ada beberapa bahan pengawet berbahaya yang paling sering ditemukan pada makanan atau minuman takjil, di antaranya boraks, Rhodamin B, Methanyl Yellow, dan formalin.

“Selain itu, makanan yang ada kandungan Escherichia coli atau yang lebih dikenal sebagai bakteri E. coli, yang mungkin muncul karena penyajian makanan dan minuman tidak higienis,” kata Esty Setya Windari kepada Tribunjatim.com, Minggu (1/3/2026).

Esty menjelaskan ciri-ciri makanan atau minuman yang menggunakan bahan berbahaya biasanya dapat dilihat secara kasat mata dan terlihat dari fisiknya.

Misalnya memiliki warna yang mencolok dan bertekstur sangat kental.

“Kalau warnanya merah, itu merahnya mencolok dan kenyalnya berlebihan. Selain itu juga tidak mudah basi atau berubah bentuk karena ada pengawet berbahaya,” ujarnya.

Untuk pencegahan, Dinkes Kota Batu melakukan pengawasan dan pembinaan pada pedagang dengan memberikan edukasi serta pemasangan stiker untuk pedagang yang sudah mendapat pembinaan.

“Di Batu tidak ditemukan kasus selama bulan Ramadan dari tahun ke tahun, termasuk pengawasan Tempat Pengelolaan Pangan (TPP, red),” jelasnya.

Pada Ramadan tahun ini, Dinkes Batu melakukan sidak dengan mengambil sampel makanan dan minuman di beberapa pedagang takjil yang ada di Kota Batu secara acak pada 24–25 Februari 2026.

Sejumlah sampel makanan yang mencurigakan telah dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.

“Jika ditemukan indikasi awal pelanggaran, kami berikan edukasi. Kemudian setelah nantinya hasil lab keluar dan jika ada zat berbahaya, akan kami lakukan pendampingan kepada pedagang tersebut. Harapan kami masyarakat Kota Batu maupun wisatawan bisa menikmati takjil dengan perasaan tenang dan aman,” pungkasnya. (myu)

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved