Lipsus Takjil Ramadan 2026

Di Balik Segarnya Takjil Ramadan, Waspada Bahaya Boraks dan Formalin

Fenomena makanan berbahaya yang kerap keluar saat bulan Ramadan juga bukan tanpa sebab.

Tayang:
Penulis: Rifki Edgar | Editor: Alga W
Istimewa
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Dr dr Syifa Mustika, SpPD-KGEH, FINASIM 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Rifki Edgar

TRIBUNJATIM.COM - Takjil menjadi jajanan yang kerap diburu oleh masyarakat menjelang buka puasa.

Namun di sisi lain, peredaran takjil kerap diiringi kekhawatiran soal keamanan pangan.

Baca juga: Warga Antre dari Siang Serbu Pasar Murah Ramadan di Pare, Cabai Dijual Rp40 Ribu & Telur Rp22 Ribu

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Dr dr Syifa Mustika, SpPD-KGEH, FINASIM mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap penggunaan bahan berbahaya dalam makanan maupun minuman.

Seperti formalin, boraks, hingga pewarna tekstil pada makanan.

Menurutnya, bahan-bahan tersebut sejatinya bukan diperuntukkan bagi konsumsi manusia. 

Formalin biasa digunakan sebagai pengawet bahan biologis, boraks untuk keperluan industri, sementara rhodamin B dan methanyl yellow merupakan pewarna tekstil.

"Jika masuk ke tubuh, zat-zat ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual, muntah, hingga nyeri perut," ujarnya pada Minggu (1/3/2026).

"Dalam jangka panjang, dapat merusak organ seperti hati dan ginjal, bahkan meningkatkan risiko kanker," imbuh Syifa.

Ia menambahkan, bahaya terbesar dari zat tersebut adalah efeknya yang tidak selalu langsung terasa.

Kondisi ini membuat banyak orang merasa aman, meski sebenarnya zat berbahaya tersebut perlahan menumpuk di dalam tubuh.

Fenomena makanan berbahaya yang kerap mencuat saat Ramadan juga bukan tanpa sebab. 

Menurut Dr Syifa, meningkatnya jumlah pedagang, terutama pedagang musiman, menjadi salah satu faktor utama.

"Permintaan tinggi membuat sebagian orang mencari cara agar makanan terlihat lebih menarik atau tahan lama, meskipun caranya tidak aman," jelasnya.

Selain itu, intensitas pengawasan dari pemerintah yang meningkat pada periode ini juga membuat temuan kasus lebih banyak terekspos ke publik.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved