Penyebab Cuaca di Kota Batu & Malang Panas Sekalipun saat Malam Hari Akhir-akhir Ini

Cuaca panas yang menyengat dikeluhkan oleh masyarakat Kota Batu dan sekitarnya, beberapa hari belakangan.

Penulis: Dya Ayu | Editor: Alga W
TRIBUNJATIM.COM/ARIE NOER RACHMAWATI
PANAS DI BATU - Ilustrasi berita cuaca panas yang terjadi di Kota Batu dan sekitarnya, beberapa hari belakangan. 
Ringkasan Berita:
  • Kota Batu biasanya terkenal dengan udaranya yang sejuk serta angin sepoi-sepoi.
  • Namun, beberapa hari belakangan, terasa panas menyengat.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Dya Ayu

TRIBUNJATIM.COM, BATU - Beberapa hari belakangan ini, cuaca panas dikeluhkan masyarakat Kota Batu dan sekitarnya.

Kota yang biasanya terkenal dengan udaranya yang sejuk serta angin sepoi-sepoi, beberapa hari belakangan, terasa panas menyengat.

Baca juga: Harga Manggis Melambung Jadi Rp80 Ribu, Banyuwangi Punya Peluang & Potensi Besar

"Iya, 3-4 hari terakhir cuacanya panas dan ungkep (gerah) banget pas siang hari. Malam hari udaranya juga gitu," kata warga Temas yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Malang, Nuraini, kepada Tribun Jatim Network, Rabu (15/4/2026).

"Mau enggak mau harus pakai AC, padahal biasanya enggak harus pakai AC udah dingin," imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan Habib.

Pria asal Pesanggrahan tersebut menuturkan cuaca yang terik membuatnya malas keluar rumah saat siang hari.

Namun apa daya, kerjaannya sebagai tukang paket mengharuskan ia keliling setiap harinya.

"Panasnya kentang-kentang kalau orang Jawa bilang. Biasanya saya santai enggak pakai jaket," ujar Habib.

"Tapi beberapa hari belakangan ini enggak tahu kenapa udaranya gerah pol. Pakai jaket gerah, enggak pakai jaket panasnya menyengat di kulit," tuturnya.

Terkait cuaca panas yang terjadi di Kota Batu dan sekitarnya ini, Kalaksa BPBD Kota Batu, Suwoko menuturkan, berdasarkan rilis dari BMKG, kondisi ini terjadi karena masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

"Saat ini memasuki masa peralihan. Sehingga pola angin berubah dari angin Baratan menjadi angin Timur (Monsun Australia) di bulan ini," jelas Suwoko kepada TribunJatim.com. 

Lanjutnya, BMKG memprediksi musim kemarau di Jawa Timur tahun 2026 akan datang secara bertahap.

Dimulai bulan ini hingga bulan Juni mendatang dengan puncak kekeringan diproyeksikan terjadi pada Agustus.

Selain itu, diprediksi kemarau tahun ini lebih panjang dan kering, sehingga diimbau waspada kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (kahutla).

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved