Berita Bliar
Harga Plastik Meroket, Perajin Anyaman di Blitar Berharap Bisa Panen Rezeki
Sudah hampir 6 tahun, Hesti Retno Satuti (37), ibu rumah tangga asal Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Januar
Ringkasan Berita:
- Hesti Retno Satuti, ibu rumah tangga asal Kabupaten Blitar, telah menekuni usaha kerajinan perabotan dapur dari anyaman bambu selama hampir 6 tahun untuk menopang ekonomi keluarga.
- Berbekal keterampilan dari nenek dan pelatihan, Hesti mengembangkan berbagai produk seperti besek, tas belanja, tempat tisu, hingga hampers agar mampu bersaing dengan produk pabrikan dan mengikuti tren pasar.
Laporan wartawan TribunJatim.com, Samsul Hadi
TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Sudah hampir 6 tahun, Hesti Retno Satuti (37), ibu rumah tangga asal Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, bertahan menekuni usaha kerajinan perabotan dapur berbahan anyaman bambu.
Meski tidak besar, hasil dari usaha kerajinan perabotan dapur tradisional milik ibu dua anak ini setidaknya dapat menopang ekonomi keluarganya sehari-hari.
Sambil duduk, Hesti fokus menganyam potongan tipis bambu yang menjadi bahan kerajinan perabotan dapur tradisional di lantai rumahnya, Selasa (21/4/2025).
Kedua tangannya terlihat terampil menyilangkan potongan tipis bambu menjadi sebuah wadah berbentuk persegi.
Suami Hesti, Muhammad Ali, duduk di sampingnya ikut membantu merapikan kerajinan perabotan dapur dari anyaman bambu yang sudah setengah jadi.
Baca juga: Harga Plastik Terus Meroket, Disperindag Kota Blitar Minta Masyarakat Diet Plastik
"Ini sedang menyelsaikan pesanan besek (tempat jajanan) dari pusat oleh-oleh di Kademangan. Saya dapat pesanan 1.000 besek. Kalau pesanan banyak, biasanya pengerjaan dibantu suami," kata Hesti.
Hesti mulai fokus menekuni usaha kerajinan perabotan dapur dari anyaman bambu sejak 2020.
Ia belajar membuat kerajinan perabotan dapur anyaman bambu dari neneknya.
Dulu, nenek Hesti, juga perajin perabotan dapur tradisional dari anyaman bambu.
Tapi, nenek Hesti hanya fokus membuat satu jenis kerajinan perabotan dapur anyaman bambu berupa bakul tempat nasi.
"Saya belajar menganyam bambu dari nenek. Lalu, saya kembangkan sendiri. Pada 2017, saya pernah ikut pelatihan membuat kerajinan anyaman bambu di Surabaya," ujarnya.
Berbekal ilmu yang didapat dari pelatihan, Hesti menjadi tahu bambu bisa digunakan bahan untuk membuat bermacam kerajinan perabotan dapur.
Tak hanya bakul tempat nasi, tapi bambu juga bisa dikreasi untuk membuat perabotan rumah tangga lainnya seperti tas belanja, tempat tisu, tempat sampah, besek tempat jajan, bahkan tas hampers.
"Saya selalu berinovasi membuat bermacam perabotan dapur dan rumah tangga dari anyaman bambu agar bisa bertahan," katanya.
Menurut Hesti, perajin perabotan dapur tradisional dari anyaman bambu memang harus terus berinovasi agar tidak kalah dengan produk pabrikan.
Perajin perabotan dapur tradisional anyaman bambu harus mengikuti tren dan permintaan pasar agar usahanya tidak mati.
Selain itu, dengan berinovasi juga dapat meningkatkan harga jual kerajinan perabotan dapur dan perabotan rumah tangga berbahan anyaman bambu.
"Dulu, di desa saya ini banyak perajin anyaman bambu. Tapi, mayoritas hanya membuat tompo atau bakul tempat nasi. Akhirnya, banyak yang berhenti tidak bertahan," ujarnya.
Hesti bersyukur usahanya masih bertahan sampai sekarang meski tidak terlalu besar.
Hampir setiap hari, ia memproduksi bermacam perabotan dapur pesanan dari pelanggan.
Dalam sebulan, ia masih bisa memproduksi minimal 500 unit bermacam kerajinan perabotan dapur pesanan dari pelanggan.
Pesanan paling banyak, yaitu, tas belanja dan besek untuk tempat jajan maupun nasi.
Di momen tertentu, seperti saat menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, pesanan besek lumayan banyak untuk acara selamatan.
Ia menjual kerajinan perabotan dapur tradisional anyaman bambu dengan harga paling murah mulai Rp 3.500 per biji hingga harga paling mahal ratusan ribu.
"Rata-rata omzet minimal per bulan sekitar Rp 2 juta. Kalau pesanan pas ramai omzet bisa sampai Rp 8 juta per bulan. Hasilnya sudah lumayan untuk ekonomi keluarga," katanya.
Hesti berharap, di tengah harga plastik mahal seperti sekarang ini, pesanan kerajinan perabotan dapur tradisional anyaman bambu bisa meningkat.
Dengan begitu, ekonomi perajin perabotan dapur tradisional berbahan anyaman bambu bisa ikut naik.
"Sekarang pesanan masih normal, belum ada peningkatan. Mungkin nanti pesanan yang ramai tas belanja, karena harga tas kresek mahal," ujarnya.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/KERAJINAN-ANYAMAN-BAMBU-Hesti-Retno-Satuti-37-sedang-mengerjakan.jpg)