Duka di Pelabuhan Gresik: Tertahan Cuaca Buruk, Perantau Malaysia Gagal Peluk Ibu Sebelum Wafat

Sanwari tampak kecewa, keinginannya bisa pulang ke Pulau Bawean kandas. Kabar duka kepergian ibunya lebih dulu sampai ketimbang kapal cepat

Tayang:
Penulis: Willy Abraham | Editor: Sudarma Adi
Tangkapan layar video
CERITA PENUMPANG - Kondisi penumpang kapal gagal berlayar saat berada di tempat penginapan dekat Pelabuhan Gresik. 

Ringkasan Berita:
  • Penyebab Utama: Cuaca buruk dan gelombang laut setinggi 2 meter di Laut Jawa.
  • Durasi Penundaan: Pelayaran resmi ditunda sejak 9 Januari 2026 hingga hari ini (15 Januari 2026).
  • Rute Terdampak: Lintasan Gresik–Bawean dan Paciran (Lamongan)–Bawean.
  • Kondisi Penumpang: Ratusan warga tertahan di penginapan; mulai dari perantau, pasien, hingga pegawai negeri.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Willy Abraham

TRIBUNJATIM.COM, GRESIK - Sanwari tampak kecewa, keinginannya bisa pulang ke Pulau Bawean kandas. Kabar duka kepergian ibunya lebih dulu sampai ketimbang kapal cepat yang mengantarkannya.

Keinginannya pulang untuk memeluk ibunya yang sedang sakit di Pulau Bawean pupus. Cuaca buruk dan gelombang laut tinggi memupus harapan Sanwari.

Setibanya di Indonesia, tepatnya di pelabuhan Gresik, tak ada kapal berlayar. Tak ada perjalanan. Begitupula pelabuhan Paciran, Lamongan menuju Bawean.

Yang tersisa hanyalah kabar duka.

Baca juga: Tumbangkan Waanal Brothers 1-2, Gresik United Akhiri Rentetan Hasil Buruk Liga Nusantara 2025/2026

Pria asal Dusun Kuduk-kuduk, Desa Patarselamat, Kecamatan Sangkapura itu kini harus menerima kenyataan pahit.

Ibunya, Atma binti Atli, meninggal dunia sebelum ia sempat menginjakkan kaki di kampung halaman, Pulau Bawean, Gresik.

Sanwari adalah perantauan asal Kuala Lumpur, Malaysia, terpaksa tertahan di Gresik sejak beberapa hari terakhir.

Ia bersama ratusan calon penumpang lainnya menunggu kapal yang tak kunjung beroperasi akibat gelombang laut yang mencapai dua meter.

Dia tinggal di sebuah penginapan sederhana di Jalan Yos Sudarso, Gresik, mata Sanwari berkaca-kaca.

"Saya tiba di Indonesia Jumat (9/1/2026). Niat saya pulang ingin bertemu ibu yang sedang sakit, rencana pulang Jumat naik Kapal Ferry Gili Iyang tapi tidak beroperasi begitu juga kapal cepat, hingga hari ini, Tadi pagi sekitar pukul 05.00 WIB, dapat kabar ibu meninggal dunia," ujarnya, Kamis (15/1/2026).

Pria berusia 50 tahun ini menghabiskan separuh hidupnya dengan mengadu nasib di Negeri Jiran. Ia jarang pulang. Dua sampai lima tahun sekali baru bisa menyapa kampung halaman.

Kepulangannyan tahun ini  bukan untuk liburan, tapi untuk merawat ibunya yang sedang sakit. Namun nasib berkata lain.

"Ini sudah dua tahun tidak pulang ke kampung. Mau pulang, untuk menjenguk dan merawat ibu yang sakit, sekarang ibu sudah istirahat memenuhi panggilan tuhan," katanya.

Ia pun hanya bisa pasrah, sembari berharap ada solusi agar para penumpang yang tertahan bisa segera diseberangkan.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved