Jalan Lingkar Selatan Bojonegoro Siap Masuk Tahap DED, Terintegrasi Flyover untuk Urai Kemacetan

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mematangkan rencana proyek infrastruktur strategis Jalan Lingkar Selatan (JLS).

Penulis: Misbahul Munir | Editor: Alga W
Tribun Jatim Network/Misbahul Munir
JLS - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mematangkan rencana pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS), studi kelayakan (feasibility study) oleh tim Pusat Kajian LKFT Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada juga telah dipaparkan di Ruang Angling Dharma yang dihadiri oleh Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono; Ketua DPRD Bojonegoro, Abdullah Umar; dan lainnya. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Misbahul Munir

TRIBUNJATIM.COM - Pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS) digadang-gadang menjadi solusi kemacetan di kawasan perkotaan.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mematangkan rencana proyek infrastruktur strategis tersebut.

Baca juga: Harga Ayam Broiler di Surabaya Capai Rp41 Ribu per Kg di Awal Ramadan, Dirut RPH: Relatif Sama

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang (PU BMPR) Bojonegoro, Chusaifi Ivan mengatakan, studi kelayakan telah dirampungkan pada tahun 2025.

Menurutnya, hasil studi kelayakan (feasibility study) oleh tim Pusat Kajian LKFT Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada juga telah dipaparkan di Ruang Angling Dharma, Bojonegoro.

"Kajian ini menjadi fondasi penting sebelum proyek berlanjut ke tahapan teknis berikutnya," kata Ivan.

Setelah study kelayakan, lanjut Ivan, tahap selanjutnya akan masuk tahap penyusunan Detailed Engineering Design (DED).

"Pada 2026, kita lanjutkan dengan penyusunan DED untuk JLS yang terintegrasi flyover dan jembatan," ujar Ivan.

"Dokumen pengadaan tanah, penyusunan AMDAL, serta ANDALALIN juga akan dilaksanakan secara paralel," tambahnya.

Sebab kata Ivan, pembangunan JLS tidak semata berorientasi pada konstruksi fisik, melainkan turut memperhatikan aspek lingkungan, sosial, hingga kelayakan lalu lintas.

"Dokumen pendukung masih berproses disiapkan," tambahnya.

Nantinya, JLS akan dibangun di wilayah selatan rel kereta api.

Dibangun sebelum akses masuk wilayah kota.

Selain itu bakal pula ada flyover dinilai menjadi solusi kunci untuk meminimalkan hambatan arus kendaraan.

Penguraian kemacetan difokuskan pada dua simpul krusial, yakni Bundaran Jetak dan simpang Proliman Kapas.

Kedua titik tersebut selama ini kerap mengalami kepadatan akibat tingginya arus kendaraan berat serta terbatasnya fasilitas penunjang, termasuk rest area bagi angkutan logistik.

"Ke depan, jalur ini diprioritaskan bagi kendaraan bermuatan besar."

"Dengan demikian, distribusi logistik tidak lagi melintasi pusat kota yang selama ini menjadi titik kepadatan lalu lintas," tutupnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved