Pakde Karwo: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diikuti Daya Beli Masyarakat
Gubernur Jawa Timur Periode 2009-2019 Soekarwo berbicara luas terkait situasi ekonomi nasional
Penulis: Fatimatuz Zahroh | Editor: Ndaru Wijayanto
Ringkasan Berita:
- Soekarwo (Pakde Karwo) menekankan pertumbuhan ekonomi harus diiringi peningkatan daya beli masyarakat
- Pakde Karwo menyebut terdapat beberapa langkah strategis yang perlu terus didorong, seperti penciptaan lapangan kerja produktif
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Periode 2009-2019 Soekarwo berbicara luas terkait situasi ekonomi nasional. Dalam wawancara bersama media, pria yang akrab disapa Pakde Karwo itu menegaskan ekonomi Indonesia kini telah memasuki babak baru.
“Kondisi saat ini menjadi penanda penting ketika ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,11 persen. Angka ini bukan hanya menunjukkan ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global, tetapi juga mencerminkan bahwa mesin konsumsi dan investasi nasional masih bekerja relatif baik,” kata Pakde Karwo, Senin (22/2/2026).
Lebih dari itu, Indonesia juga mencatat tonggak sejarah baru ketika Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita untukpertama kalinya menembus angka 5.000 dolar AS per tahun.
Pencapaian ini menandai bahwa struktur ekonomi nasional sedang bergerak menuju fase yang lebih matang dan berpotensi memperluas kelas menengah.
Baca juga: Sosialisasikan Program MBG di Sidoarjo, DPR RI Soroti Pengawasan dan Dampak Ekonomi
“Namun, di balik capaian makro tersebut, terdapat satu pertanyaan mendasar yaitu sejauh mana pertumbuhan ekonomi dan kenaikan pendapatan rata-rata tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas, terutama kelompok bawah dan rentan?,” ujarnya.
Di sinilah, dikatakan Pakde Karwo, pentingnya melihat daya beli rakyat sebagai indikator yang lebih substantif daripada sekadar angka pertumbuhan.
“Daya beli masyarakat merupakan cerminan langsung dari kemampuan ekonomi rumah tangga. Ketika daya beli menguat, konsumsi meningkat, sektor produksi bergerak, dan lapangan kerja terbuka,” tegasnya.
Sebaliknya, ketika daya beli melemah, pertumbuhan ekonomi berisiko kehilangan fondasi terpentingnya, yaitu permintaan domestik.
Ia pun mengulas pengalaman berbagai negara yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tidak diikuti penguatan daya beli hanya akan menghasilkan kemajuan semu. Statistik makro membaik, tetapi kesejahteraan riil masyarakat berjalan lambat.
“Dalam struktur ekonomi Indonesia, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik bruto. Artinya, kekuatan ekonomi nasional sangat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk membelanjakan pendapatan secara sehat dan berkelanjutan,” urainya.
Oleh sebab itu, dikatakannya, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah struktur ketenagakerjaan yang masih didominasi sektor informal.
Sebagian besar masyarakat bekerja dengan pendapatan tidak tetap dan perlindungan sosial yang terbatas.
Dalam situasi seperti ini, kenaikan harga pangan, energi, atau transportasi dapat dengan cepat menggerus kemampuan konsumsi rumahtangga.
“Karena itu, keberhasilan menjaga pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen harus dibaca sebagai momentum yang perlu dijaga, bukan sekadar angka yang disyukuri. Pertumbuhan yang baik harus diikuti dengan kebijakan yang mampu memperkuat daya beli masyarakat secara nyata,” tegasnya.
| Universitas Ciputra Surabaya Buka 3 Prodi Baru, Jawab Kebutuhan Tenaga Kesehatan |
|
|---|
| Ramalan Cuaca Jatim Senin 20 April 2026, Hampir Semua Daerah Cerah, Jember Hujan Petir |
|
|---|
| Bola Terpopuler: Rashford Dikembalikan Barcelona hingga AC Milan Dilema Pilih Striker |
|
|---|
| Bertahun-tahun Menabung, Mbah Tema Gagal Umrah sampai Terlantar 15 Hari setelah Ditipu ASN |
|
|---|
| Agus Bakar Rumah Orangtua karena Kesal Disuruh Merantau, Baru Dicerai Istri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Gubernur-Jawa-Timur-Periode-2009-2019-Soekarwo-berbicara-soal-ekonomo.jpg)