Sejarah di Jatim
Kya-Kya Kembang Jepun: Jejak Perdagangan Kolonial hingga Jadi Wisata Pecinan Surabaya
Dari jejak perdagangan kolonial, Kya-Kya Kembang Jepun Surabaya kini bangkit sebagai Wisata Pecinan yang memadukan sejarah, budaya, dan kuliner khas.
Penulis: Septadera Candra Purnama | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Kya-Kya Kembang Jepun merupakan kawasan bersejarah Surabaya yang dulu bernama Handelstraat dan menjadi pusat perdagangan sejak era kolonial.
- Nama “kya-kya” berarti jalan-jalan dalam bahasa Hokkian, sementara “Kembang Jepun” muncul pada masa pendudukan Jepang dengan beragam versi sejarah.
- Setelah sempat meredup, kawasan ini bangkit lewat proyek "Kya-Kya 2003" dan "Kya-Kya Reborn 2022" sebagai wisata Pecinan dan ikon Kota Tua Surabaya.
TRIBUNJATIM.COM – Kya-Kya Kembang Jepun menjadi salah satu kawasan bersejarah di Kota Surabaya yang dikenal sebagai pusat perdagangan, destinasi wisata kuliner, dan budaya.
Lebih dari itu, kawasan ini juga menyimpan sejarah panjang yang merekam dinamika perdagangan, kolonialisme, hingga kebangkitan wisata Kota Tua.
Berlokasi di Jalan Kembang Jepun, Kecamatan Pabean Cantikan, kawasan ini menjadi bagian penting dari jejak sejarah Surabaya sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan.
Asal-Usul Nama Kya-Kya dan Kembang Jepun
Istilah Kya-Kya” diketahui berasal dari bahasa Hokkian yang berarti “jalan-jalan”.
Nama ini kemudian identik dengan suasana wisata malam dan kuliner di kawasan Pecinan Surabaya.
Sementara, nama “Kembang Jepun” sendiri memiliki beberapa versi sejarah.
Pada masa kolonial Belanda, kawasan ini bernama Handelstraat yang dalam bahasa Belanda berarti “jalan perdagangan”.
Berasal dari kata “handel” yang berarti perdagangan dan “straat” yang artinya jalan.
Nama Kembang Jepun muncul pada masa pendudukan Jepang.
Sebagaimana dikutip dari Kompas.com, sebutan tersebut berkaitan dengan banyaknya serdadu Jepang (Jepun) yang memiliki “kembang” atau teman wanita di sekitar kawasan tersebut.
Sementara itu, dilansir dari Kompasiana.com, nama Kembang Jepun juga dapat dimaknai sebagai “Bunga Jepang”.
Penamaan tersebut karena mencerminkan keberadaan komunitas Jepang yang cukup besar di kawasan ini pada akhir abad ke-19.
Baca juga: Asal-Usul Gunung Semeru, dari Legenda Mahameru dan Sejarah Letusan hingga Misteri Ranu Kumbolo
Pusat Perdagangan Sejak Era Kolonial
Kya-Kya
Kya Kya Surabaya
Kya-kya Reborn
Kembang Jepun
Jalan Kembang Jepun
Kampung Pecinan
wisata kuliner
wisata kuliner khas Pecinan
wisata kuliner di Surabaya
Chinatown
Surabaya
Kota Surabaya
Jawa Timur
Tribun Jatim
TribunJatim.com
| Menelusuri Museum Huruf Jember, Berawal dari Komunitas Kreatif hingga Jadi Ruang Sejarah Aksara |
|
|---|
| Mengenal Kampung Belgia Jember, Permukiman Kolonial Gaya Eropa Berusia Seabad di Tengah Kebun Karet |
|
|---|
| Sejarah Pintu Air Jagir Surabaya, dari Lokasi Pertempuran Lawan Tar-tar menjadi Pengendali Banjir |
|
|---|
| Sejarah Taman Nasional Baluran, dari Hutan Lindung hingga Dijuluki Africa van Java |
|
|---|
| Candi Jedong Mojokerto, Gapura Kuno Majapahit Pintu Masuk Area Suci di Lereng Gunung Penanggungan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Kya-Kya-Kembang-Jepun-Surabaya.jpg)