Sejarah di Jatim
Sejarah Taman Nasional Baluran, dari Hutan Lindung hingga Dijuluki Africa van Java
Taman Nasional Baluran dikenal sebagai Africa van Java dengan hamparan savana dan satwa endemik. Begini sejarah serta pesona kawasan konservasinya.
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Taman Nasional Baluran dijuluki Africa van Java karena memiliki hamparan savana luas yang menyerupai padang rumput Afrika.
- Sejarah Baluran dimulai sejak era Hindia Belanda, dari hutan lindung hingga resmi jadi taman nasional pada 1980.
- Baluran memiliki beragam ekosistem dan menjadi habitat banteng Jawa, rusa, hingga macan tutul.
- Selain kawasan konservasi, Baluran juga menjadi destinasi wisata alam populer dengan Savana Bekol dan Pantai Bama sebagai daya tarik utama.
TRIBUNJATIM.COM - Taman Nasional Baluran menjadi salah satu kawasan konservasi paling terkenal di Jawa Timur.
Kawasan yang berada di Kabupaten Situbondo ini dikenal luas karena memiliki hamparan savana yang eksotis hingga dijuluki Africa van Java.
Secara administratif, Taman Nasional Baluran berada di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Kawasan ini memiliki luas sekitar 25.000 hektare hingga 29.706,59 hektare.
Dikutip dari tnbaluran.ksdae.kehutanan.go.id, Taman Nasional Baluran merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli dan dikelola menggunakan sistem zonasi.
Kawasan ini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, budidaya, hingga pariwisata dan rekreasi alam.
Pengelolaannya juga mengacu pada prinsip konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem.
Secara geografis, kawasan Baluran berada di koordinat 114° 29’ 10” – 114° 39’ 10” BT dan 7° 29’ 10” – 7° 55’ 55” LS.
Di bagian utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah timur berbatasan dengan Selat Bali, sementara sisi selatan dan barat berbatasan dengan sejumlah desa dan aliran sungai.
Baca juga: Rekomendasi Tujuh Pantai di Situbondo, Pesona Africa van Java yang Memikat Mata
Awal Sejarah Baluran
Sejarah kawasan Baluran bermula sejak masa pemerintahan Hindia Belanda.
Pada awalnya, kawasan ini dikenal sebagai lokasi berburu dan area hutan yang memiliki potensi besar bagi perlindungan satwa liar.
Dilansir dari Kompas.com, sebelum tahun 1928 seorang pemburu berkebangsaan Belanda bernama A.H. Loedeboer pernah singgah di kawasan Baluran.
Loedeboer disebut memiliki perhatian besar terhadap kekayaan alam Baluran. Ia menilai kawasan tersebut sangat penting untuk perlindungan satwa, khususnya mamalia besar.
Pada tahun 1920, eksistensi kawasan Baluran diawali dengan usulan pencadangan Hutan Blitoksa seluas 1.553 hektare untuk dijadikan areal hutan produksi tanaman jati atau jati bosch.
Kemudian pada tahun 1928, upaya konservasi mulai dirintis oleh Kebun Raya Bogor. Langkah itu menjadi awal perlindungan kawasan Baluran sebagai habitat alami satwa liar.
Taman Nasional Baluran
Baluran
kawasan Taman Nasional Baluran
Hutan Baluran Situbondo
Africa van Java
Situbondo
Jawa Timur
Tribun Jatim
Sejarah di Jatim
Savana Bekol
hutan lindung
TribunJatim.com
Jatim
TN Baluran
Loedeboer
wisata di Jawa Timur
Wisata Situbondo
Sejarah Taman Nasional Baluran
meaningful
Banteng Jawa
| Candi Jedong Mojokerto, Gapura Kuno Majapahit Pintu Masuk Area Suci di Lereng Gunung Penanggungan |
|
|---|
| Candi Karang Besuki di Kota Malang, Situs Hindu Kuno yang Tersembunyi di Area Pemakaman |
|
|---|
| Jejak Gedung Cerutu Surabaya, Bangunan Ikonik Kota Lama Bergaya Eropa Simbol Ekonomi Kolonial |
|
|---|
| Sempat Tertunda Krisis Moneter, Begini Perjalanan Suramadu Jadi Jembatan Terpanjang di Indonesia |
|
|---|
| Candi Jawar di Kabupaten Malang, Situs Purbakala Tempat Meditasi Resi dan Empu di Lereng Semeru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/savana-bekol-taman-nasional-baluran-situbondo.jpg)