Sejarah di Jatim

Menyusuri Jejak Sejarah Jembatan Merah, Simbol Keberanian Arek Suroboyo

Jembatan Merah Surabaya, saksi sejarah kolonial sekaligus simbol keberanian arek Suroboyo. Kini menjadi destinasi wisata sejarah.

KOMPAS.com/SUCI RAHAYU
SEJARAH JEMBATAN MERAH - Salah satu tempat sejarah di Surabaya sejak zaman Belanda, Jembatan Merah menjadi saksi pertempuran 10 November sekaligus simbol keberanian arek Suroboyo. Kini menjadi destinasi wisata sejarah. 

Ringkasan Berita:
  • Jembatan Merah menghubungkan dua kawasan penting di Surabaya dan menjadi saksi sejarah sejak era kolonial.
  • Dikenal sebagai Roode Brug, jembatan ini berfungsi sebagai penghubung perdagangan serta pusat pemerintahan Belanda.
  • Insiden Mallaby dan Pertempuran 10 November menjadikan jembatan merah simbol keberanian arek Suroboyo.
  • Kini dirawat menjadi objek wisata sejarah dengan bangunan kolonial di sekitarnya.

 

TRIBUNJATIM.COM - Jembatan Merah menjadi salah satu ikon paling bersejarah di Kota Surabaya, Jawa Timur. 

Jembatan yang membentang di atas Sungai Kalimas ini tidak hanya berfungsi sebagai penghubung dua kawasan, tetapi juga menjadi saksi berbagai peristiwa penting sejak era kolonial hingga masa Revolusi Nasional Indonesia.

Berada di Kecamatan Pabean Cantikan, Jembatan Merah menghubungkan Jalan Rajawali di sisi barat dengan Jalan Kembang Jepun di sisi timur. 

Kawasan ini sejak dulu dikenal sebagai pusat perdagangan dan aktivitas ekonomi Kota Surabaya.

Warna merah yang melekat pada pagar jembatan menjadi ciri khas tersendiri. 

Meski tampak sederhana, warna tersebut menyimpan makna historis yang kuat bagi warga Kota Pahlawan.

Baca juga: Sejarah Kampung Ampel Surabaya, dari Pusat Dakwah Hingga Wisata Kuliner

Awal Mula: Perjanjian Mataram dan VOC Tahun 1743

Melansir dari Grid.id, keberadaan Jembatan Merah tidak lepas dari perjanjian antara Pakubuwono II dari Mataram dengan VOC pada 11 November 1743.

Dalam perjanjian tersebut, sejumlah wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Surabaya, berada di bawah pengaruh VOC. 

Sejak saat itu, Surabaya tumbuh sebagai kota pelabuhan strategis di bawah kekuasaan Belanda.

Pada masa kolonial, jembatan tersebut dikenal dengan nama Roode Brug, yang dalam bahasa Belanda berarti Jembatan Merah.

Perannya sangat penting karena menjadi penghubung antara kawasan perdagangan di sisi timur Sungai Kalimas, yang banyak ditempati komunitas Tionghoa dan Arab, dengan wilayah barat yang menjadi pusat pemerintahan kolonial serta permukiman warga Eropa.

Jembatan ini menjadi satu-satunya akses penting yang menghubungkan jalur perdagangan di Kalimas dengan Gedung Karesidenan Surabaya

Tak heran, kawasan di sekitarnya berkembang pesat sebagai pusat ekonomi.

Surabaya pun dikenal sebagai salah satu kota dagang tersibuk pada masa kolonial Belanda.

Perombakan Besar Tahun 1890

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved