Sejarah di Jatim
Sejarah Kampung Ampel Surabaya, dari Pusat Dakwah Hingga Wisata Kuliner
Jelajahi Kampung Ampel Surabaya, tempat sejarah, kuliner khas Timur Tengah, dan tradisi turun-temurun yang bertemu di satu kawasan.
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Kampung Ampel Surabaya berkembang dari pusat dakwah Sunan Ampel abad ke-15 yang menjadi kawasan bersejarah dan wisata religi.
- Komunitas Arab, Jawa, dan Madura hidup berdampingan, membentuk identitas Kampung Arab dengan budaya akulturatif.
- Kawasan ini terkenal dengan perdagangan, kuliner khas Timur Tengah, dan pusat belanja perlengkapan ibadah.
- Toleransi, sejarah, dan jiwa dagang warga membuat Ampel tetap ramai dikunjungi wisatawan.
TRIBUNJATIM.COM - Kampung Ampel Surabaya dikenal sebagai salah satu kawasan wisata bersejarah di Kota Pahlawan.
Berada di Surabaya bagian utara, kawasan ini bukan sekadar destinasi ziarah, tetapi juga menyimpan jejak panjang penyebaran Islam dan perkembangan komunitas Arab di Nusantara.
Dikutip dari Kompas.com, Kampung Ampel merupakan salah satu kampung Arab di Indonesia yang hingga kini masih dihuni keturunan asli Timur Tengah.
Budaya leluhur pun masih tetap terjaga, meski telah berakulturasi dengan masyarakat Jawa, Madura, hingga Tionghoa.
Kawasan ini tumbuh di sekitar Masjid dan Makam Sunan Ampel.
Aktivitas perdagangan, kuliner khas Timur Tengah, serta deretan toko perlengkapan ibadah menjadi bagian dari keseharian warga.
Nama Ampel sendiri diambil dari istilah Ampel Denta, yang merujuk pada wilayah rawa-rawa yang dahulu menjadi hadiah dari Raja Majapahit kepada Sunan Ampel alias Raden Rahmat.
Jejak Sunan Ampel dan Awal Penyebaran Islam
Kampung Ampel tak bisa dilepaskan dari sosok Sunan Ampel, salah satu Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa.
Ia memiliki nama kecil Raden Rahmat Rahmatullah, putra dari Maulana Ibrahim Asmoroqondi dan Dewi Chandrawulan, putri Raja Champa.
Berdarah Yaman dan lahir di Kamboja, Raden Rahmat kemudian hijrah ke Jawa dan menjadikan Ampel sebagai pusat dakwah pada abad ke-15.
Kompleks Masjid Sunan Ampel didirikan sekitar tahun 1421. Di kawasan ini pula berkembang pondok pesantren yang berpengaruh hingga mancanegara.
Masjid tersebut dikelilingi lima gapura yang melambangkan ajaran “Mo Limo” atau lima larangan, yakni berjudi, mabuk, mencuri, berzina, dan menggunakan narkoba.
Hingga kini, kompleks makamnya menjadi tujuan utama peziarah dari berbagai daerah.
Baca juga: Asal Usul Langgar Gantung Blitar, Warisan Sejarah Islam Laskar Diponegoro yang Terlupakan
Kampung Ampel
Surabaya
sejarah
Sunan Ampel
wisata kuliner
Wisata Religi Ampel Surabaya
kawasan Sunan Ampel
dakwah
Wisata Ampel
Tribun Jatim
TribunJatim.com
wisata Surabaya
| Candi Bangkal Mojokerto, Jejak Megah Kerajaan Majapahit dan Simbol Dewa Surya yang Tersembunyi |
|
|---|
| Museum Brawijaya Malang, Jejak Perjuangan TNI dan Pelestarian Warisan Patriotisme Bangsa |
|
|---|
| Pesona Candi Sirah Kencong Blitar, Jejak Majapahit di Lereng Gunung dan Kebun Teh |
|
|---|
| Menelusuri Museum Wajakensis yang Merekam Peradaban Manusia di Tulungagung |
|
|---|
| Menelusuri Jejak Sejarah Peradaban Kediri yang Tersimpan di Museum Airlangga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-surabaya-warga-keturunan-arab-di-kawasan-ampel-surabaya.jpg)