Tradisi dan Budaya di Jatim
Tradisi Malam Selawe Gresik, Dari Itikaf Warisan Sunan Giri Hingga Gerakkan Ekonomi Masyarakat
Ribuan peziarah padati Giri saat Malam Selawe. Dari i’tikaf warisan Sunan Giri hingga ramainya bazar UMKM, tradisi ini selalu dinanti tiap Ramadan.
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Tradisi Malam Selawe digelar setiap malam ke-25 Ramadan di kawasan Makam Sunan Giri, Gresik, dan selalu dipadati ribuan peziarah.
- Berawal dari ajakan Sunan Giri untuk itikaf di malam ganjil, tradisi ini berisi doa, zikir, pengajian, dan ziarah makam.
- Selain kegiatan religi, acara juga diramaikan bazar dan Giri Expo yang menggerakkan UMKM serta ekonomi warga.
- Sempat terhenti saat pandemi, Malam Selawe kini kembali ramai dengan tetap menekankan esensi ibadah.
TRIBUNJATIM.COM - Tradisi Malam Selawe menjadi momen yang selalu dinanti masyarakat Kabupaten Gresik setiap bulan Ramadan.
Kegiatan tersebut digelar setiap malam ke-25, atau tepatnya setelah memasuki hari ke-24 ramadan. Dalam bahasa Jawa, malam ke-25 dikenal dengan sebutan “selawe” yang berarti dua puluh lima.
Tradisi ini dipusatkan di kawasan Makam Sunan Giri, Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Ribuan peziarah dari dalam dan luar daerah memadati area makam hingga sepanjang Jalan Sunan Giri.
Dikutip dari disparekrafbudpora.gresikkab.go.id, Malam Selawe merupakan kegiatan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Rangkaian acaranya meliputi istigasah, doa bersama, pengajian atau mauidlotul hasanah, hingga ziarah ke makam wali.
Malam Selawe diyakini sebagai salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan yang berpeluang turunnya Lailatul Qadar.
Karena itu, malam ini disebut sebagai puncak Ramadan bagi para peziarah di Gresik.
Para jamaah berbaur melantunkan Surah Yasin, tahlil, dzikir, hingga doa bersama. Harapannya, selain mendapat keberkahan, juga meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar.
Baca juga: Tradisi Pasar Bandeng di Gresik, Kemeriahan Ramadan yang Jadi Warisan Budaya Gerakkan Ekonomi Warga
Jejak Sejarah Sejak Zaman Sunan Giri
Tradisi Malam Selawe telah ada sejak masa Sunan Giri, salah satu tokoh Wali Songo yang menyebarkan Islam di Gresik.
Melansir Kompas.com, tradisi ini berawal dari ajakan Sunan Giri kepada para santri dan masyarakat untuk meningkatkan ibadah di malam-malam ganjil akhir Ramadan dengan cara itikaf di Masjid Giri.
Ajaran tersebut kemudian dilestarikan secara turun-temurun oleh masyarakat hingga berkembang menjadi tradisi tahunan.
Dalam pelaksanaannya, warga melakukan itikaf, mengaji, salat tasbih, berdzikir, serta membaca Al-Qur’an di sekitar makam dan Masjid Jami’ Giri.
Sejak dahulu Sunan Giri memang mendorong peningkatan ibadah di malam ganjil Ramadan sebagai bentuk pencarian keberkahan Lailatul Qadar.
Seiring waktu, tradisi ini terus hidup dan menjadi identitas religius masyarakat Gresik, khususnya di kawasan Giri.
Rangkaian Kegiatan dan Geliat UMKM
Selain kegiatan religi, Malam Selawe juga diramaikan dengan Giri Expo dan bazar UMKM.
Stan-stan pedagang berjajar sepanjang jalan mulai dari kawasan Kebomas hingga area parkir makam.
Suasana dari simpang empat Kebomas sampai kompleks makam dipadati pedagang makanan, minuman, perlengkapan ibadah, hingga aneka kebutuhan lainnya.
Tak hanya itu, pameran budaya seperti Damar Kurung juga turut ditampilkan untuk memperkenalkan warisan daerah kepada pengunjung.
Pemerintah Kabupaten Gresik juga memanfaatkan momentum ini untuk mengajak masyarakat mengunjungi Museum Sunan Giri sebagai wisata edukasi cagar budaya peninggalan wali.
Kegiatan tersebut biasanya berlangsung hingga menjelang subuh.
Sepanjang malam, lautan manusia memadati kawasan Giri, bahkan beberapa ruas jalan ditutup untuk kendaraan karena tingginya antusiasme masyarakat.
Baca juga: Tradisi Bibibi di Probolinggo, Anak-anak Keliling Kampung Dapat Sedekah Malam 27 Ramadan
Sempat Terhenti Saat Pandemi
Tradisi Malam Selawe sempat ditiadakan selama dua tahun akibat pandemi Covid-19. Pembatasan aktivitas masyarakat membuat kegiatan ini tidak dapat digelar seperti biasanya.
Namun setelah kondisi membaik, Pemerintah Kabupaten Gresik kembali mengizinkan pelaksanaan tradisi tersebut mulai 2022.
Sejak saat itu, Malam Selawe kembali ramai dan menjadi magnet peziarah.
Pada Ramadan 2025, kegiatan diisi dengan doa bersama dan pembacaan Surah Al-Ikhlas sebanyak 1.000 kali di Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri.
Agenda tersebut dihadiri oleh pemerintah daerah, tokoh agama, serta masyarakat umum.
Kehadiran ribuan peziarah tidak hanya memperkuat nuansa spiritual, tetapi juga berdampak pada perputaran ekonomi masyarakat.
Meski kini semakin ramai dan identik dengan pasar malam, masyarakat diingatkan agar tidak melupakan esensi utama tradisi ini, yakni meningkatkan ibadah dan ketakwaan di malam ganjil Ramadan.
Sebagai identitas budaya dan religi yang terus dijaga, Malam Selawe tetap menjadi simbol kuat perpaduan antara tradisi, spiritualitas, dan kebersamaan warga Gresik dari masa ke masa.
Malam Selawe
Gresik
Sunan Giri
Tribun Jatim
tradisi Malam Selawe
Ramadan
itikaf
Giri
Tradisi Gresik
TribunJatim.com
UMKM
Lailatul Qadar
tradisi di Jatim
Kecamatan Kebomas
| Grebeg Tengger Tirto Aji, Tradisi Pengambilan Air Suci yang Jadi Simbol Syukur dan Harmoni Alam |
|
|---|
| Tradisi Mbabar Mbubur Suro Malang, Ritual Sakral Menyambut Tahun Baru Islam di Makam Ki Ageng Gribig |
|
|---|
| Meriahnya Tradisi Tumpengan Manggis di Jombang, Dari Kirab hingga Rebutan Dua Ton Buah Gratis |
|
|---|
| Tradisi Kebur Ubalan Kediri, Ritual Sakral Simbol Kemakmuran Desa |
|
|---|
| Mengenal Kesenian Jaranan Kediri, Dari Legenda Dewi Songgolangit hingga Atraksi Kesurupan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Tradisi-Malam-Selawe-di-Makam-Sunan-Giri-Gresik-ilustrasi-Makam-Sunan-Giri-Gresik.jpg)