Tradisi dan Budaya di Jatim

Tradisi Petik Laut Pacitan, Ritual Syukur Nelayan Sambut Tahun Baru Islam 1 Muharram

Tradisi Petik Laut Pacitan kembali digelar. Nelayan melarung tumpeng ke laut sebagai wujud syukur dan doa keselamatan. Seperti apa prosesi lengkapnya?

Tayang:
Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
setda.pacitankab.go.id
TRADISI PETIK LAUT - Ratusan nelayan Tamperan, Pacitan serta masyarakat umum memadati dermaga Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan Kelurahan Sidoharjo. Kehadiran mereka tak lain untuk menyaksikan prosesi larung tumpeng atau sedekah laut menyongsong Tahun Baru Islam 1 Muharram. 

Ringkasan Berita:
  • Tradisi petik laut digelar dalam Festival Nelayan Pacitan di PPP Tamperan sebagai wujud syukur nelayan atas hasil laut dan doa keselamatan saat melaut.
  • Prosesi diawali doa bersama, kembul bujono, hingga kirab tumpeng yang kemudian dilarung ke laut menggunakan kapal nelayan sebagai simbol sedekah laut.
  • Festival juga dimeriahkan kesenian tradisional seperti hadrah, kethek ogleng, reog, dan wayang ruwatan serta menjadi potensi pengembangan wisata bahari Pacitan.

 

TRIBUNJATIM.COM – Tradisi petik laut atau sedekah laut masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Tradisi ini biasanya digelar oleh para nelayan sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil laut sekaligus doa untuk keselamatan saat melaut.

Di Pacitan, tradisi tersebut menjadi bagian dari Festival Nelayan Pacitan yang berlangsung di kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan.

Kegiatan ini digelar bertepatan dengan peringatan Tahun Baru Islam atau 1 Muharram 1447 Hijriah.

Festival ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi simbol hubungan erat antara masyarakat pesisir dengan laut yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Selain ritual sakral, kegiatan tersebut juga diramaikan dengan berbagai pertunjukan seni budaya khas Pacitan serta menjadi ruang kebersamaan antara nelayan, masyarakat, dan pemerintah daerah.

Ritual Sedekah Laut sebagai Wujud Syukur Nelayan

Dilansir dari dkp.jatimprov.go.id, Festival Nelayan Pacitan ini diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama dan sesepuh nelayan di halaman kantor UPT PPP Tamperan.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan kembul bujono, yaitu makan bersama antara nelayan, masyarakat pesisir, tokoh adat, serta pejabat daerah sebagai simbol kebersamaan.

Prosesi utama dalam tradisi ini adalah kirab buceng suci dan tumpeng yang diarak menuju kapal nelayan.

Tumpeng kemudian dilarung ke tengah laut menggunakan puluhan kapal sebagai bagian dari ritual sedekah laut.

Tradisi larung sesaji ini diyakini sebagai bentuk komunikasi spiritual dengan alam, sekaligus permohonan keselamatan serta harapan agar para nelayan mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah.

Wakil Ketua HNSI Pacitan, Ahmad Andri Hermansyah, mengatakan tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang tetap dijaga oleh masyarakat nelayan Pacitan hingga sekarang.

Baca juga: Tradisi Malam Selawe Gresik, Dari Itikaf Warisan Sunan Giri Hingga Gerakkan Ekonomi Masyarakat

Tradisi Menyambut Tahun Baru Islam

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved