Sejarah di Jatim

Menguak Sejarah Candi Brahu Trowulan, Candi Bata Merah yang Diduga Tempat Pembakaran Raja Majapahit

Candi Brahu di Mojokerto menjadi salah satu peninggalan penting Kerajaan Majapahit yang diduga pernah digunakan sebagai tempat kremasi raja.

TribunJatim.com/Mohammad Romadoni
CANDI BRAHU TROWULAN - Candi Brahu merupakan situs peninggalan bersejarah bercorak Buddha dari zaman Kerajaan Majapahit, yang terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Candi yang terbuat dari susunan batu bata merah ini diduga pernah difungsikan sebagai tempat pembakaran raja. 
Ringkasan Berita:
  • Candi Brahu merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di kawasan Trowulan, Mojokerto, dan diduga memiliki fungsi penting dalam aktivitas keagamaan pada masa kerajaan.
  • Nama “Brahu” diduga berasal dari kata Wanaru atau Warahu dalam Prasasti Alasantan tahun 939 M. 
  • Bangunan ini juga diduga pernah digunakan sebagai tempat kremasi raja atau tokoh penting Majapahit.
  • Candi Brahu kini menjadi bagian dari situs cagar budaya Trowulan serta destinasi wisata sejarah yang dilestarikan.

 

TRIBUNJATIM.COMKabupaten Mojokerto menyimpan banyak peninggalan sejarah dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit.

Salah satu situs bersejarah yang masih berdiri hingga kini adalah Candi Brahu di kawasan Trowulan.

Candi ini dikenal sebagai salah satu bangunan kuno yang memiliki kaitan erat dengan aktivitas keagamaan pada masa Majapahit. Sebutan lainnya adalah candi bata merah.

Selain itu, terdapat pula dugaan bahwa Candi Brahu pernah digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah raja atau tokoh penting kerajaan.

Berikut sejarah lengkap Candi Brahu yang menjadi bagian dari kawasan situs arkeologi Trowulan.

Lokasi Candi Brahu di Kawasan Trowulan

Candi Brahu terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Lokasinya berada sekitar dua kilometer di utara jalan raya Mojokerto–Jombang.

Untuk menuju candi ini pengunjung dapat masuk melalui jalan yang berada di depan Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.

Kemudian pengunjung lanjut menempuh perjalanan sekitar 1,8 kilometer.

Diketahui, posisi candi berada di tengah area persawahan dan agak jauh dari permukiman warga.

Lokasinya juga tidak jauh dari Museum Trowulan yang menjadi pusat informasi sejarah Majapahit.

Asal-usul Nama Candi Brahu

Nama “Brahu” diduga berasal dari kata Wanaru atau Warahu, yang disebut dalam Prasasti Alasantan.

Sebagaimana dilansir dari regional.kompas.com, prasasti tersebut dibuat pada tahun 861 Saka atau sekitar 9 September 939 Masehi atas perintah Raja Mpu Sindok dari Kahuripan.

Prasasti tersebut ditemukan tidak jauh dari lokasi Candi Brahu, sehingga para ahli menduga nama bangunan suci dalam prasasti tersebut merujuk pada candi ini.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan Trowulan sudah menjadi pusat aktivitas keagamaan sejak masa yang lebih awal sebelum berdirinya Majapahit.

Baca juga: Sejarah Candi Jago di Malang, Peninggalan Kerajaan Singhasari yang Sarat Relief Hindu-Buddha

Diduga Tempat Pembakaran Jenazah Raja

Salah satu pendapat yang berkembang menyebutkan bahwa Candi Brahu digunakan sebagai tempat kremasi atau pembakaran jenazah raja-raja Majapahit.

Dalam sebuah prasasti yang berkaitan dengan masa pemerintahan Mpu Sindok, disebutkan bahwa bangunan ini pernah digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah atau krematorium bagi raja-raja.

Namun, penelitian arkeologi hingga kini belum menemukan sisa abu jenazah di dalam bilik candi.

Hal ini diduga karena tempat penyimpanan abu atau bokor sudah dijarah pada masa lampau.

Sementara menurut srigitarja.mojokertokab.go.id, Candi Brahu juga diperkirakan memiliki fungsi keagamaan yang kuat sebagai tempat ritual atau pemujaan pada masa Majapahit.

Selain itu, cerita rakyat setempat juga menyebut bahwa candi ini berkaitan dengan Raja Brawijaya, meskipun kebenarannya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Candi Bercorak Buddha

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Candi Brahu memiliki corak agama Buddha.

Konon, dugaan tersebut didasarkan pada penemuan berbagai benda kuno di sekitar kawasan candi, seperti arca logam, alat upacara keagamaan, serta perhiasan dari emas yang menunjukkan ciri budaya Buddhis.

Menurut jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id, bentuk puncak candi yang diduga menyerupai stupa juga memperkuat dugaan bahwa bangunan ini memiliki karakteristik arsitektur Buddha.

Selain itu, temuan arca Buddha Wairocana, Kuwera bersama Yakshi, serta berbagai perhiasan logam dari emas dan perak menunjukkan adanya pengaruh kuat budaya Buddhis di kawasan tersebut.

Baca juga: Asal Usul Candi Bajang Ratu, Gapura Megah Peninggalan Kerajaan Majapahit

Arsitektur Candi dari Bata Merah

Candi Brahu Trowulan Mojokerto
Candi Brahu Trowulan, candi bata merah yang diduga pernah jadi tempat pembakaran Raja Majapahit. (budayajatim.com)

Candi Brahu dibangun menggunakan bata merah, material yang umum digunakan pada bangunan Majapahit.

Diketahui, candi ini memiliki ukuran sekitar 22,5 meter panjang, 18 meter lebar, dan tinggi sekitar 20 meter.

Posisi Candi Brahu menghadap ke arah barat dan memiliki bilik utama yang terletak cukup tinggi dari permukaan tanah.

Di dalam bilik candi terdapat altar yang dahulu digunakan untuk menempatkan arca serta sesaji dalam upacara keagamaan.

Selain itu, bagian tubuh dan atap candi tidak dihiasi relief atau ukiran.

Namun susunan bata pada bangunan candi dibuat sedemikian rupa hingga membentuk gambar pola geometris yang indah.

Baca juga: Menguak Asal-Usul Candi Singosari, Warisan Berharga Era Kertanegara sebagai Simbol Toleransi

Candi Besar di Kawasan Majapahit

Dilihat dari ukurannya, Candi Brahu termasuk salah satu candi besar di kawasan Trowulan.

Menurut catatan sejarah, bangunan ini pertama kali dicatat oleh Thomas Stamford Raffles pada tahun 1815 dalam penelitiannya mengenai peninggalan sejarah di Jawa.

Raffles kemudian menyebut Candi Brahu “One of the gateways of Mojopahit” atau bangunan penting di kawasan Majapahit dalam bukunya History of Java yang terbit pada 1817.

Candi-candi di Sekitar Candi Brahu

Di sekitar Candi Brahu dahulu terdapat beberapa candi lain yang kini sebagian besar telah runtuh.

Beberapa candi yang pernah ada di sekitar kawasan tersebut antara lain Candi Muteran, Candi Tengah, Candi Gedong, dan Candi Gentong.

Namun saat ini sebagian besar candi tersebut sudah tidak terlihat lagi.

Hanya situs Candi Gentong yang masih dapat ditemukan sisa pondasinya sekitar 400 meter di sebelah timur Candi Brahu.

Baca juga: Mengulik Sejarah Candi Badut, Candi Tertua di Jawa Timur yang Menyimpan Jejak Kerajaan Kanjuruhan

Dipugar untuk Melestarikan Warisan Majapahit

Seiring berjalannya waktu, kondisi Candi Brahu sempat mengalami kerusakan dan memerlukan pemugaran.

Karena itu, pemerintah melakukan pemugaran terhadap candi ini pada tahun 1990 hingga 1995 untuk menjaga kelestarian bangunan bersejarah tersebut.

Sebagai bagian dari kawasan cagar budaya Trowulan, Candi Brahu kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang banyak dikunjungi masyarakat.

Selain menarik bagi wisatawan, candi ini juga sering menjadi lokasi penelitian arkeologi serta kegiatan edukasi sejarah bagi pelajar dan mahasiswa.

Keberadaan Candi Brahu menjadi bukti nyata kejayaan peradaban Majapahit serta kekayaan warisan budaya yang dimiliki Indonesia.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved