Harmoni Lintas Agama di Balun Lamongan, Ogoh-Ogoh Siap Menghibur Warga di Malam Idulfitri

Perayaan Nyepi 2026 diperkirakan bertepatan dengan malam takbiran umat Muslim pada  Kamis (19/3/2026)

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Hanif Manshuri
OGOH-OGOH - Warga umat Hindu Desa Balun atau yang dikenal dengan Desa Pancasila masih tetap nenggelar  pawai Ogoh-Ogoh yang akan digelar di lapangan desa setempat bertepatan dengan malam takbiran Idul Fitri, Selasa (17/3/2026) 

Ringkasan Berita:
  • Enam ogoh-ogoh raksasa siap dipawai di Desa Balun Lamongan jelang Nyepi.
  • Pembuatan ogoh-ogoh melibatkan warga lintas agama sebagai simbol kerukunan.
  • Pawai dijadwalkan Rabu (18/3/2026), berakhir dengan pembakaran ogoh-ogoh.

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hanif Manshuri

TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN – Persiapan perayaan Hari Raya Nyepi di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, tuntas dilakukan para pemeluknya. 

Enam ogoh-ogoh raksasa kini dalam tahap penyelesaian akhir untuk menyambut pawai yang akan digelar di lapangan desa setempat.

Salah satu warga pemeluk agama Hindu  pembuat ogoh-ogoh, Wisnu Adi Pramono, mengungkapkan  pengerjaan saat ini telah mencapai sekitar 90 persen. 

Meski waktu pengerjaan terbilang singkat, yakni hanya satu bulan, semangat warga untuk menyukseskan perayaan tetap tinggi.

Baca juga: Jelang Nyepi dan Lebaran: Sopir Truk di Pelabuhan Ketapang Protes Tertahan 5 Jam Tanpa Kepastian

Pengerjaan Dikebut dalam Satu Bulan

“Tahun ini pengerjaannya dikebut karena baru diputuskan satu bulan lalu. Biasanya butuh waktu tiga sampai empat bulan, tetapi kami optimistis bisa selesai tepat waktu untuk pawai besok,” ujar Wisnu, Selasa (17/3/2026).

Proses pembuatan ogoh-ogoh di desa yang dikenal sebagai Desa Pancasila karena semangan kerukunannya  ini melibatkan warga lintas agama. 

Tidak hanya umat Hindu, warga Muslim dan Kristen juga turut ambil bagian dalam mengerjakan patung ogoh-ogoh.

Gotong Royong Lintas Agama

“Kami mengerjakan ini bersama-sama. Ada warga Islam dan Kristen yang ikut membantu, terutama pada tahap awal yang membutuhkan banyak tenaga,” katanya.

Secara teknis, ogoh-ogoh dibuat menggunakan rangka bambu yang dilapisi kertas koran, kertas semen, dan tisu sebelum dicat. 

Biaya pembuatan satu ogoh-ogoh besar diperkirakan mencapai Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. Selain itu, warga juga menyiapkan ogoh-ogoh berukuran kecil untuk anak-anak sekolah dasar.

Baca juga: Kota Batu Bidik 1,1 Juta Wisatawan Saat Libur Nyepi & Lebaran, Siapkan Jalur Tikus & Rekayasa Lalin

Perayaan Nyepi 2026 diperkirakan bertepatan dengan malam takbiran umat Muslim pada  Kamis (19/3/2026). Namun, perbedaan momentum ibadah tersebut tidak menjadi persoalan bagi warga Desa Balun.

Wisnu menyebut pihak pura, takmir masjid, dan tokoh agama lainnya telah berkoordinasi untuk menjaga situasi tetap kondusif.

“Warga Balun toleransi sangat tinggi. Kami tidak pernah mempermasalahkan ibadah masing-masing. Jika umat Muslim takbiran keliling, silakan, kami yang sedang Nyepi tetap menjalankan ibadah. Semuanya bisa berjalan beriringan,” jelasnya.

Pawai ogoh-ogoh dijadwalkan berlangsung pada Rabu (18/3/2026) di lapangan Desa Balun. Warga Lamongan dan sekitarnya pun diundang untuk menyaksikan langsung simbol harmoni dan kerukunan antarumat beragama yang telah menjadi ciri khas desa tersebut.

Ogoh-ogoh diaran keliling jalan desa dan berakhir di lapangan desa dilanjutkan dengan pembakaran semua ogoh-ogoh.

Masyarakat yang datang ke lapangan bebas mengabadikan pemusnahan ogoh-ogoh sebagai lambangan pemusnahan angkara murka. 

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved