Tradisi dan Budaya di Jatim
Asal-usul Kupatan, Tradisi Warisan Wali Songo yang Jadi Simbol Persatuan Saat Lebaran
Bukan sekadar makan ketupat, Kupatan menyimpan makna maaf, sedekah, dan kebersamaan yang berakar dari dakwah Wali Songo.
Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Kupatan berasal dari kata “kupat” yang berarti “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan, tradisi ini juga berkaitan dengan dakwah Sunan Kalijaga.
- Filosofi kupatan mencakup “laku papat”: lebaran, luberan, leburan, dan laburan yang mengajarkan maaf, sedekah, dan kesucian diri.
- Dirayakan seminggu setelah Lebaran, Kupatan menjadi momen berkumpul, berbagi makanan, dan mempererat silaturahmi antarwarga.
TRIBUNJATIM.COM – Tradisi Kupatan menjadi salah satu warisan budaya khas masyarakat Jawa yang hingga kini masih terus dilestarikan.
Perayaan ini biasanya digelar sekitar satu minggu setelah Hari Raya Idulfitri dan identik dengan sajian ketupat sebagai hidangan utama.
Kupatan tidak sekadar tradisi makan bersama, tetapi juga sarat makna filosofis yang berkaitan dengan nilai keagamaan, kebersamaan, hingga ajaran untuk saling memaafkan.
Tak heran, tradisi ini tetap bertahan dan menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan Lebaran di berbagai daerah.
Berikut ulasan lengkap mengenai asal-usul tradisi Kupatan yang dirangkum dari berbagai sumber.
Asal-usul Kupatan dan Kaitannya dengan Dakwah Islam
Dilansir dari travel.kompas.com, tradisi Kupatan berasal dari kata “kupat” atau ketupat yang merupakan makanan khas saat Lebaran di masyarakat Jawa.
Namun, kupat tidak hanya dimaknai sebagai makanan, melainkan juga memiliki arti simbolis yang mendalam.
Sebagaimana dikutip dari buku Tradisi Islam di Nusantara, kata kupat merupakan singkatan dari “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan.
Makna ini menjadi pengingat bahwa setelah menjalani Ramadan, umat Islam diharapkan saling memaafkan.
Dikutip dari Kompas.com, Kupatan juga erat kaitannya dengan pelaksanaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Tradisi ini biasanya digelar setelah umat Islam menyelesaikan puasa tersebut, sehingga dikenal juga dengan sebutan Syawalan.
Tradisi ketupat sendiri diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai bagian dari strategi dakwah Islam di tanah Jawa.
Ia mengembangkan tradisi Bakda Lebaran dan Bakda Kupat untuk mendekatkan ajaran Islam dengan budaya lokal.
Asal-usul Kupatan
Hari Raya Idul Fitri
Lebaran
ketupat
Sunan Kalijaga
bulan Syawal
Tribun Jatim
TribunJatim.com
Kupatan
Wali Songo
makna tradisi kupatan
| Grebeg Tengger Tirto Aji, Tradisi Pengambilan Air Suci yang Jadi Simbol Syukur dan Harmoni Alam |
|
|---|
| Tradisi Mbabar Mbubur Suro Malang, Ritual Sakral Menyambut Tahun Baru Islam di Makam Ki Ageng Gribig |
|
|---|
| Meriahnya Tradisi Tumpengan Manggis di Jombang, Dari Kirab hingga Rebutan Dua Ton Buah Gratis |
|
|---|
| Tradisi Kebur Ubalan Kediri, Ritual Sakral Simbol Kemakmuran Desa |
|
|---|
| Mengenal Kesenian Jaranan Kediri, Dari Legenda Dewi Songgolangit hingga Atraksi Kesurupan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/cara-membuat-ketupat-yang-pulen.jpg)