Belasan Suspek Campak Ditemukan di Ngawi, Masih Ada Warga Tolak Imunisasi
Dinkes Kabupaten Ngawi, menggalakkan intensifkan program imunisasi, termasuk melalui Catch Up Campaign (CUC) atau Imunisasi Kejar.
Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Ndaru Wijayanto
Ringkasan Berita:
- Dinas Kesehatan Ngawi menemukan 19 kasus suspek campak sejak Januari hingga awal April 2026.
- Sebanyak 18 sampel telah dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut.
- Program imunisasi kejar (Catch Up Campaign) digencarkan untuk menekan penularan.
- Penolakan imunisasi masih terjadi, meski jumlahnya relatif kecil.
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Febrianto Ramadani
TRIBUNJATIM.COM, NGAWI - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ngawi, menggalakkan intensifkan program imunisasi, termasuk melalui Catch Up Campaign (CUC) atau Imunisasi Kejar.
Program yang menyasar anak anak diharapkan dapat menekan kasus suspek campak. Total ada 19 kasus sepanjang Januari sampai dengan awal April 2026.
Tim Kerja Imunisasi Surveilans Dinkes Kabupaten Ngawi, Daut Setyowahono, menjelaskan, temuan suspek tersebut berasal dari hasil pemantauan di fasilitas kesehatan, terutama pada pasien dengan gejala demam dan ruam.
“Kalau kasus campak berdasarkan hasil laboratorium yang positif belum ada. Tapi data terbaru dari seluruh fasilitas kesehatan yang ada, ditemukan 19 suspek campak,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Dari jumlah tersebut, 18 sampel telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya guna identifikasi lebih lanjut, sementara satu sampel belum dikirim dan masih berada di Dinkes Ngawi.
Baca juga: Kasus Suspek Campak di Sampang Madura Capai 90, Satu Balita Meninggal
Jumlah tersebut, menurutnya terus dipantau mengingat pada tahun 2025 silam, terdapat 2 kasus positif campak dengan 50 suspek yang berhasil terdeteksi.
“Langkah pengambilan spesimen dilakukan sebagai bagian dari kewaspadaan dini, untuk memastikan setiap dugaan kasus campak dapat terdeteksi secara akurat,” jelasnya.
Ia menambahkan, anak-anak yang telah mendapatkan imunisasi lengkap cenderung memiliki risiko lebih rendah, atau mengalami gejala lebih ringan jika terpapar campak.
“Kalau setelah dilakukan screening ternyata imunisasinya belum lengkap, maka dilakukan imunisasi kejar. Ini penting untuk menekan risiko penularan,” imbuhnya.
Baca juga: Kecamatan Saradan dan Geger Jadi Penyumbang Terbanyak Suspek Campak di Madiun Selama 2026
Meski demikian, fenomena penolakan imunisasi oleh sebagian masyarakat masih ditemui, walaupun jumlahnya relatif kecil.
“Penolakan umumnya dipengaruhi oleh alasan tertentu, termasuk kondisi anak yang sedang sakit saat jadwal imunisasi maupun keyakinan orang tua,” terangnya.
Pihaknya rutin memberikan edukasi, supaya kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi dalam mencegah penyakit campak, khususnya pada anak-anak, meningkat
“Kalau yang menolak pasti ada di setiap daerah. Kami terus melakukan edukasi dan sosialisasi bersama tenaga kesehatan, termasuk melalui pendekatan ke masyarakat,” tandasnya.
Baca juga: 418 Anak di Kabupaten Kediri Belum Pernah Imunisasi, Penolakan Orang Tua Jadi Kendala
| Lima Kuliner Khas Ngawi yang Legendaris, Dari Nasi Pecel Pincuk hingga Wedang Cemue Hangat |
|
|---|
| Ngawi Bersinar di Tingkat Nasional, Masuk Jajaran 10 Besar Kabupaten Terbaik di Indonesia |
|
|---|
| Kebut Target Capaian, Puskesmas di Blitar Diminta Sisir Balita yang Belum Imunisasi Campak |
|
|---|
| Jatim Terpopuler: Pemkab Ngawi Kalah Gugatan Pengisian Sekdes hingga Jemaah Haji Termuda di Ponorogo |
|
|---|
| Pemkab Ngawi Kalah Gugatan Pengisian Sekdes Tirak, Bupati Ony Siap Banding |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/19-Suspek-Campak-Ditemukan-di-Ngawi-Masih-Ada-Warga-Tolak-Imunisasi.jpg)