Kecamatan Saradan dan Geger Jadi Penyumbang Terbanyak Suspek Campak di Madiun Selama 2026

Belasan kasus suspek campak dideteksi Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, hingga pertengahan Maret 2026.

Tayang:
Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Ndaru Wijayanto
Tribun Jatim Network/Febrianto Ramadani
TERTINGGI - Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, Agung Dodik Pujiyanto, ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, Senin (16/3/2026). Dinas Kesehatan Kabupaten mengungkapkan, total ada 16 kasus suspek Campak pada anak, dilaporkan oleh sejumlah fasilitas kesehatan. 

 

Ringkasan Berita:
  • Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun mencatat 16 kasus suspek campak hingga pertengahan Maret 2026, sebagian besar dialami anak-anak balita.
  • Dua kecamatan penyumbang kasus tertinggi adalah Saradan dan Geger, masing-masing 3 kasus.
  • Sampel darah telah diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya, sementara hasil konfirmasi belum keluar.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Febrianto Ramadani

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Belasan kasus suspek campak dideteksi Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, hingga pertengahan Maret 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, Agung Dodik Pujiyanto mengungkapkan, total ada 16 kasus suspek Campak pada anak, dilaporkan oleh sejumlah fasilitas kesehatan.

“Sampai saat ini untuk kasus yang terkonfirmasi positif belum ditemukan di Kabupaten Madiun,” ungkap Dodik, Senin (16/3/2026).

Menurutnya, kasus terbanyak ditemukan di dua kecamatan, yakni Kecamatan Saradan dan Kecamatan Geger yang masing-masing tercatat 3 kasus. Sementara sisanya tersebar di kecamatan lain di Kabupaten Madiun.

Baca juga: Jangan Asal Pegang dan Cium Bayi Saat Lebaran, Kasus Suspek Campak di Kota Batu Naik 2 Kali Lipat

“Mayoritas kasus yang dilaporkan dialami anak-anak, terutama balita. Gejala di antaranya demam tinggi, muncul ruam merah di kulit, mata merah, hidung meler, hingga mual dan muntah,” terangnya.

Dinas Kesehatan telah mengambil sampel darah dari kasus suspek tersebut, untuk dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya, guna pemeriksaan lebih lanjut.

Baca juga: H-6 Lebaran 2026: Arus Mudik di Daop 7 Madiun Meningkat, 153 Ribu Penumpang Mulai Padati Stasiun

“Tujuannya untuk memastikan apakah benar campak atau bukan. Sampai saat ini hasilnya masih kita tunggu,” paparnya.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan kepada seluruh fasilitas kesehatan.

‘Surat telah kami edarkan kepada 26 puskesmas serta tiga rumah sakit, yakni RSUD Caruban, RSUD Dolopo, dan RS Paru Dungus,” urainya.

Dodik meminta fasilitas kesehatan segera melaporkan, jika menemukan pasien dengan gejala serupa supaya campak dapat ditangani dan ditelusuri lebih cepat.

Baca juga: Kasus Campak di Tulungagung Meningkat, Dinkes Soroti Penolakan Vaksin

“Kami juga menggencarkan kembali program imunisasi Catch-Up atau Sweeping imunisasi bagi anak-anak yang statusnya belum lengkap,” bebernya.

Program imunisasi tersebut akan dilaksanakan secara serentak mulai 30 Maret hingga 12 April 2026 sesuai arahan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

“Imunisasi campak diberikan dalam beberapa tahap, yakni dosis pertama pada usia 9 bulan, dosis kedua pada usia 18 bulan, serta dosis ketiga atau booster pada usia 5 hingga 7 tahun,” katanya.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved