Waspada 'Gabak', Dinkes Ponorogo Temukan 64 Kasus Suspek Campak hingga April 2026
Tahun 2026 baru bulan April. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo mencatat sebanyak 64 kasus suspek campak sejak Januari.
Penulis: Pramita Kusumaningrum | Editor: Sudarma Adi
Ringkasan Berita:
- Data Kasus: 64 suspek campak di Ponorogo (Januari–April 2026).
- Status Hukum: Masih nihil kasus positif; hasil laboratorium sedang diproses.
- Gejala Utama: Demam tinggi, batuk/pilek, dan ruam merah mulai dari belakang telinga.
Laporan Wartawan Tribunjatim.com, Pramita Kusumaningrum
TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO - Tahun 2026 baru bulan April. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo mencatat sebanyak 64 kasus suspek campak sejak Januari.
Meski jumlahnya cukup tinggi, hingga kini belum ditemukan kasus positif, dan hasil pemeriksaan laboratorium masih terus diproses dengan harapan seluruhnya dinyatakan negatif.
“Masih nihil untuk hasilnya. Belum keluar seluruhnya,” ungkap Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Ponorogo, Anik Setyarini, Selasa (14/4/2026).
Baca juga: Sosok Remaja Ponorogo Didaftarkan Haji oleh Orangtua Sejak Usia 2 Tahun
Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya
Dia menjelaskan bahwa kasus campak merupakan kewaspadaan nasional. Baik itu di kalangan masyarakat maupun tenaga kesehatan (nakes).
“2026 ini, kasus yang positif masih nihil. Tapi ada 64 suspek. Kalau 2025 lalu sampai bulan 12, Ponorogo ada 99 suspek yang diperiksa,” kata Anik.
Dari 99 suspek yang diperiksa ke laboratorium, kata dia, hasilnya adalah yang positif campak ada 2 orang. Sedangkan 3 lainnya rubella.
“Kalau yang ini semoga meskipun kasusnya suspek naik, tapi semoga negatifnya semuanya,” harap Anik saat kepada Tribunjatim.com.
Dia menjelaskan bahwa 2025 ada 99 suspek mulai Januari sampai Desember. Untuk yang suspek merata, tidak hanya pada balita. Namun juga ada yang dewasa.
“Kita kalau tahun yang kemarin sampai Desember tidak ada kenaikan yang signifikan, rata. Kalau tahun ini mulai pekan kedua sudah ada suspek campak,” ujarnya.
Anik menyebut semua harus waspada. “Dimana berawal dari gabak kalau bahasa jawanya. Merah secara menyeluruh dimulai dari belakang telinga. Biasanya, kalau itu identik dengan ruam di belakang telinga,” urainya.
Pasca itu, menyebar ke seluruh tubuh. Kemudian disertai batuk pilek, tapi sebelumnya biasanya demam tinggi panas tinggi sebesar 38 derajat:
Baca juga: Bupati Ponorogo Non Aktif Sugiri Sancoko Pilih Ajukan Eksepsi, Dakwaan Dinilai Tumpang Tindih
“Bisa sampai 3 hari terus kemudian timbul ruam, tapi masa inkubasinya itu sebenarnya antara 7-18 hari. Jadi, sejak dia ditempeli virus sampai manifes, jadi panas itu butuh waktu 7-18 hari,” terangnya.
Dia mengatakan bahwa cara menularnya lewat droplet. “Menularnya, bisa kayak kita ngobrol iya, bersin pokoknya percikan,” papar Anik,
Dia mengimbau masyarakat waspada serta tidak menyepelekan penyakit campak atau gabagen. Anik menyatakan, balita dan bayi sangat rentan terhadap penyakit campak. Meski begitu, orang dewasa pun juga bisa terkena campak.
Anik mendorong masyarakat yang memiliki balita maupun anak untuk mengikutsertakan imunisasi guna meminimalisasi persebaran kasus campak.
“Imunisasi itu kan membentuk kekebalan kelompok ya. Kalau kekebalan tubuhnya baik, maka penyebarannya bisa kita tekan,” pungkasnya.
| 5 Negara Teluk Arab yang Dituntut Iran Bayar Ganti Rugi Terkait Serangan AS-Israel |
|
|---|
| Antisipasi Dampak El Nino 2026: BPBD Mojokerto Siapkan 3 Strategi Hadapi Kemarau Ekstrem |
|
|---|
| Alasan Ahmad Baharudin Tidak Bisa Berkantor di Pendapa Kongas usai Jadi Plt Bupati Tulungagung |
|
|---|
| Awal Kemarau 2026 Diprediksi Mundur, Jawa Timur Hadapi Musim Kering Lebih Lama |
|
|---|
| Percantik Estetika Kota: Pemkot Batu Susun Perwali untuk Tertibkan Kabel Semrawut |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Kabid-Pencegahan-dan-Pengendalian-Penyakit-Dinkes-Ponorogo.jpg)