Ramalan Cuaca Jatim

Ramalan Cuaca Jatim Sabtu 18 April 2026, Semua Daerah Cerah Berawan

BMKG Juanda memprakirakan cuaca Jatim pada 18 April 2026 umumnya cerah dan berawan.

TribunJatim.com/Arie Noer Rachmawati
CUACA CERAH BERAWAN - Kondisi langit di Kendangsari, Surabaya yang didominasi cerah berawan pada Rabu (11/3/2026). BMKG Juanda memprakirakan cuaca Jatim pada 18 April 2026 umumnya cerah dan berawan. 
Ringkasan Berita:
  • BMKG Juanda memprakirakan cuaca Jatim pada 18 April 2026 umumnya cerah dan berawan.
  • Sumenep menjadi wilayah terpanas, sedangkan Kota Batu tercatat sebagai daerah terdingin.
  • BMKG memperkirakan musim kemarau di Jawa Timur akan mundur, lebih panjang, dan lebih kering akibat potensi El Nino.

 

TRIBUNJATIM.COM - Simak ramalan cuaca Jawa Timur yang diprakirakan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda pada Sabtu 18 April 2026.

Seluruh wilayah di Jawa Timur diperkirakan mengalami cuaca cerah berawan.

Ramalan cuaca Jatim ini dilansir dari situs BMKG

Daerah yang Diprediksi Hujan Ringan

Berdasarkan laman resmi BMKG, tidak ada daerah yang diprediksi diguyur hujan ringan.

Suhu Udara di Jawa Timur

  • Sumenep: 25–32°C, menjadi daerah paling panas.
  • Kota Batu: 16–22°C, tercatat sebagai daerah terdingin.
  • Rata-rata suhu udara di Jawa Timur hari ini: 24–32°C.

Awal Musim Kemarau di Jatim Diprediksi Mundur

Musim kemarau tahun 2026 di Jawa Timur diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dan cenderung lebih kering dari biasanya.

Hal ini disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Jawa Timur.

Kondisi tersebut berkaitan dengan potensi munculnya fenomena El Niño pada pertengahan tahun, yang dapat memperkuat dampak kekeringan di berbagai wilayah.

Karena itu, langkah antisipasi sejak dini dinilai penting, terutama untuk sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air.

Berdasarkan analisis BMKG di akun Instagram @infobmkgjuanda, sekitar 75,5 persen wilayah Jawa Timur berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal. 

Artinya, sebagian besar daerah akan menghadapi musim kemarau yang lebih kering, dengan risiko yang meningkat terhadap kekurangan air dan kebakaran lahan.

Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026, saat puluhan Zona Musim mencapai kondisi paling kering.

Selain itu, awal musim kemarau di beberapa wilayah juga diperkirakan mengalami keterlambatan atau mundur dibandingkan pola biasanya.

Sekitar 46,2 persen wilayah DI Jatim baru memasuki musim kemarau lebih lambat dari jadwal normalnya.

Durasi Musim Kemarau Lebih Panjang

Durasi musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang, terjadi di sekitar 39 ZOM di Jawa Timur.

Kondisi ini semakin diperkuat dengan peluang terjadinya El Niño sebesar 50 hingga 60 persen yang diperkirakan mulai berkembang pada pertengahan tahun 2026, sehingga meningkatkan potensi kekeringan berkepanjangan.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi aksi dini yang dapat dilakukan.

Pada sektor pertanian, petani disarankan menggunakan varietas padi berumur pendek dan tahan kekeringan, atau beralih ke tanaman palawija sebagai langkah adaptasi.

Sementara itu, dalam pengelolaan sumber daya air, masyarakat diimbau memaksimalkan penampungan air hujan pada akhir musim hujan untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau.

Selain itu, kesiapsiagaan terhadap potensi bencana juga perlu ditingkatkan, terutama dalam mengantisipasi krisis air bersih dan kebakaran lahan.

Di sisi lain, kondisi kemarau panjang juga dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan produksi garam rakyat, sebagai peluang ekonomi di tengah tantangan musim kering.

Dengan memahami prediksi ini sejak awal, diharapkan masyarakat dan pemangku kepentingan dapat mengambil langkah mitigasi yang tepat guna mengurangi dampak negatif musim kemarau 2026 di Jawa Timur.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews Tribunjatim.com

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved