Tradisi dan Budaya di Jatim

Tradisi Kebur Ubalan Kediri, Ritual Sakral Simbol Kemakmuran Desa

​Mengenal Kebur Ubalan Kediri! Ritual sakral bulan Suro penjaga mata air abadi, simbol syukur warga agraris atas melimpahnya air dan hasil bumi desa.

Tayang:
Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
TribunJatim.com/Isya Anshori
TRADISI KEBUR UBALAN - Tradisi Kebur Ubalan adalah upacara adat tahunan di Desa Jarak, Plosoklaten, Kediri, yang diadakan setiap bulan Suro. Ritual ini meliputi kirab dan perebutan gunungan hasil bumi di sumber air Ubalan sebagai wujud syukur atas air yang melimpah, sekaligus permohonan keberkahan dan hujan bagi petani. 

Kawasan Ubalan telah dimanfaatkan sejak zaman kolonial Belanda sebagai sumber irigasi untuk pabrik gula di sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa sumber air tersebut memiliki peran penting sejak dahulu.

Keberadaan sumber yang terus mengalir sepanjang waktu memperkuat keyakinan masyarakat akan kesakralannya.

Dari sinilah muncul tradisi yang memadukan unsur spiritual dan budaya.

Seiring perkembangan zaman, ritual sederhana yang dilakukan para sesepuh mulai berkembang menjadi tradisi yang lebih besar dan terorganisir.

Gunungan hasil bumi mulai dihadirkan sebagai simbol visual rasa syukur masyarakat. Prosesi kirab dan doa bersama pun menjadi bagian dari rangkaian acara.

Tradisi ini terus berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang diwariskan oleh leluhur.

Baca juga: Gedhogan Banyuwangi, Dari Alat Penumbuk Padi Jadi Seni Tradisi Pererat Hubungan Antarwarga

Makna Tradisi Kebur Ubalan

Kebur Ubalan tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga sarat makna filosofis. Gunungan hasil bumi melambangkan kesejahteraan dan keberkahan.

Empat gunungan kecil yang dihadirkan mewakili empat penjuru mata angin, sementara satu gunungan utama menjadi simbol pusat kehidupan atau “punjer”.

Simbol ini menunjukkan bahwa hasil bumi adalah milik bersama dan harus dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat.

Selain itu, penggunaan air dalam ritual juga memiliki makna mendalam sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga kelestariannya.

Nilai-nilai ini menjadikan Kebur Ubalan bukan sekadar tradisi, tetapi juga sarana edukasi budaya bagi masyarakat.

Baca juga: Mengenal Sinongkelan: Tradisi Bersih Desa Prambon Trenggalek yang Rekam Jejak Pelarian Paku Buwono 2

Tradisi yang Terus Dilestarikan

Hingga kini tradisi Kebur Ubalan terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Jarak. Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen, mulai dari tokoh adat hingga generasi muda.

Pelestarian tradisi ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga kearifan lokal di tengah arus modernisasi.

Masyarakat menyadari bahwa tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga identitas yang membedakan mereka dari daerah lain.

Selain itu, Kebur Ubalan juga mulai dikembangkan sebagai potensi wisata budaya yang mampu menarik pengunjung dari luar daerah.

Dengan demikian, asal usul tradisi Kebur Ubalan tetap terjaga, sekaligus terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan makna utamanya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved