Dampak Rupiah Melemah

BBM dan Rupiah Semakin Melemah, Pengusaha Otobus Lamongan Parkirkan Armada yang Berusia Tua 

Pengusaha bus pariwisata asal Lamongan, Jawa Timur, mengaku mulai mengatur strategi  operasional sejumlah armadanya

Tayang:
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Januar
Tribun Jatim Network/Hanif Manshuri
PO BUS BIRU SAMUDRA. Diantara pengusaha otobus, seperti Biru Samudra yang kini harus mengatur strategi operasionalnya dampak rupiah melemah dan sebagin jenis BBM naik, Rabu (10/6/2026) 

Ringkasan Berita:
  • Pengusaha bus pariwisata di Lamongan mulai melakukan penyesuaian operasional setelah nilai tukar rupiah melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS dan harga BBM naik, yang menyebabkan biaya operasional, suku cadang, oli, dan perawatan kendaraan meningkat.
  • Menurut Tina Indriani, permintaan sewa bus pariwisata masih stagnan sehingga perusahaan melakukan efisiensi, termasuk mengoperasikan armada yang lebih baru dan mengistirahatkan bus yang lebih tua untuk menekan biaya.

 

Laporan wartawan TribunJatim.com, Hanif Manshuri


TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Pengusaha bus pariwisata asal Lamongan, Jawa Timur, mengaku mulai mengatur strategi  operasional sejumlah armadanya menyusul melemahnya nilai tukar rupiah yang menembus Rp18 ribu per dolar AS dibarengi dengan naiknya BBM.

Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap tingginya biaya operasional perusahaan otobus, termasuk belanja suku cadang kendaraan.

Menurut  Direktur Biru Samudra ,Hj. Tina Indriani,  kenaikan kurs dolar membuat harga suku cadang kendaraan, oli, hingga kebutuhan perawatan bus mengalami lonjakan signifikan.

Baca juga: Pertamax Naik Gila-gilaan, Antrean Pertalite di SPBU Jombang Mengular

Apalagi saat ada kenaikan sebagian jenis BBM yang akan berdampak pada  semua sendi ekonomi.

Sementara itu, permintaan penyewaan bus pariwisata hanya berjalan stabil belum sepenuhnya pulih sejak awal tahun 2026.

“Biaya operasional sekarang semakin berat. Harga sparepart naik terus karena banyak komponen yang masih bergantung impor. Di sisi lain, order bus pariwisata belum ada lonjakan yang lebih,” katanya, Rabu (10/6/2026).

Ia menyebut kondisi tersebut memaksa para pelaku usaha melakukan efisiensi. Untungnya armada yang dimiliki  Biru Samudra rata-rata tahun muda.

"Hanya ada satu armada keluaran  dibawah tahun 2019. Lainnya  tahun-tahun mudah yakni 2019 ke atas, " katanya.

Yang beroperasi adalah bus-bus tahun muda. Sementara satu armada tahun tua banyak parkir. Langkah memarkir bus tahun tua itu dilakukan agar perusahaan tetap mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi.

“Bukan berhenti total, tapi  armada itu sementara kami istirahatkan dulu supaya biaya operasional tidak membengkak,” ujarnya.

Selain dampak kurs rupiah, Tina menilai menurunnya aktivitas wisata dan kegiatan rombongan sekolah turut mempengaruhi pendapatan pengusaha bus pariwisata. 

Ia berharap pemerintah dapat memberikan stimulus atau kebijakan yang meringankan beban pelaku usaha transportasi, seperti keringanan pajak kendaraan umum, penurunan harga BBM industri, hingga insentif untuk suku cadang kendaraan.

“Kalau tidak ada langkah konkret, banyak pengusaha bus yang  kesulitan bertahan. Kami berharap ada perhatian khusus dari pemerintah,” tuturnya.

Ia  menambahkan, para pengusaha bus pariwisata di daerah kini hanya bisa bertahan sambil menunggu kondisi ekonomi kembali membaik dan daya beli masyarakat pulih. 

 

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved