Dampak Rupiah Melemah

Inflasi di Lumajang 0,77 Persen Seiring Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Jadi Peringatan Pemkab

Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengalami inflasi sebesar 0,77 persen di awal Juni 2026, saat pelemahan rupiah terhadap dolar.

Tayang:
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Alga W
Tribun Jatim Network/Imam Nawawi
NILAI RUPIAH MELEMAH - Aktivitas warga di Pasar Baru Lumajang, Jawa Timur, Senin (8/6/2026). Inflasi di Lumajang 0,77 persen saat rupiah terus melemah terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat. 

Ringkasan Berita:
  • Kabupaten Lumajang mengalami inflasi sebesar 0,77 persen di awal Juni 2026.
  • Dari 20 komiditas yang disurvei harganya, kata dia, bawang merah, daging ayam ras, dan cabai merah menjadi penyumbang inflasi di awal Juni tahun ini.

Laporan Wartawan TRIBUNJATINTIMUR.COM, Imam Nawawi

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, LUMAJANG - Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengalami inflasi sebesar 0,77 persen di awal Juni 2026, setelah terjadi pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Hal itu berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Lumajang atasindeks perkembangan harga pada minggu pertama Juni 2026.

Baca juga: Wali Murid Cemas Daftarkan Anaknya di SMPN 3 Kepanjen, Masih Banyak yang Belum Paham SPMB Domisili

Kepala Kantor BPS Lumajang, Mochamad Sonhaji mengatakan, dari 20 komiditas yang disurvei harganya, kata dia, bawang merah, daging ayam ras, dan cabai merah menjadi penyumbang inflasi di awal Juni tahun ini.

"Sebagian besar ini karena faktor supply and demand. Biasalah permintaanya banyak, dan itu musiman," ujarnya, Selasa (9/6/2026).

"Bisanya itu tahun baru, Ramadan, Idul Fitri, termasuk Idul Adha. Kalau Idul Adha paling banyak itu daging," imbuh Sonhaji.

Meski inflasi kali ini cenderung kecil, menurutnya, hal itu tetap jadi peringatan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang agar tetap menjaga daya beli pemerintah di tengah rupiah terus melemah terhadap dolar AS.

"Mana yang terlalu tinggi inflasinya, harus direm. Seperti awal 2025, inflasi dipicu beras, jadi harus diturunkan. Itu kewenangan pemerintah dari tim pengendali inflasi daerah," beber Sonhaji.

Sonhaji menilai jika langkah tersebut dilakukan, meski satu dolar tukar Amerika mencapai rupiah Rp18.000, hal itu tidak akan mempengaruhi daya beli masyarakat di Kota Pisang.

"Kalau di daerah ini bisa jaga harga harganya, maka tidak berpengaruh juga. Karena masyarakat masih bisa daya beli untuk kebutuhannya, seperti sembako dan semacamnya," tambahnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kabupaten Lumajang, Muhammad Ridha, mengklaim harga bahan pokok masih stabil di tengah menguatnya dolar terhadap nilai tukar rupiah.

"Sampai saat ini, harga bahan pokok masih dalam kategori normal dan stoknya juga mencukupi. Belum ada kondisi yang membuat kami harus bereaksi secara khusus," tanggapnya.

Lebih lanjut, Rida mengakui, sebagian pedagang pasar mulai menaikkan harga sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan kenaikan biaya produksi di masa mendatang.

Tapi kondisi tersebut, kata dia, belum mengganggu rantai distribusi maupun ketersediaan barang.

"Sebagian pedagang memang sudah mulai menaikkan harga karena ikut bereaksi terhadap isu kenaikan biaya. Padahal stok tidak ada masalah dan belum tentu terkait impor," katanya.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved