Harga BBM Naik

Dari Trauma Brebet hingga Dompet Menipis: Dilema Warga Tuban Usai Pertamax Melonjak

Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter memicu pertimbangan warga Tuban untuk beralih ke Pertalite.

Tayang:
Penulis: Muhammad Nurkholis | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Muhammad Nurkholis
ANTRE BBM – Jalur pengisian di SPBU Pertamina 54.623.05 Sleko, Tuban, Jatim, Rabu (10/6/2026). Dengan naiknya harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter, warga mulai berfikir ulang untuk beralih ke pertalite.  

Ringkasan Berita:
  • Harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, terpaut Rp6.250 dari Pertalite yang tetap Rp10.000
  • Warga Tuban dengan mobilitas tinggi paling terdampak karena kenaikan BBM tidak diimbangi kenaikan penghasilan
  • Seorang guru bahkan rela tanggalkan trauma motor brebet demi kembali ke Pertalite akibat lonjakan harga Pertamax

 


Laporan Wartawan TribunJatim.com, Muhammad Nurkholis

TRIBUNJATIM.COM, TUBAN – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax yang berlaku mulai Rabu (10/6/2026) langsung memicu keresahan warga Kabupaten Tuban.

Sejumlah konsumen yang selama ini setia menggunakan Pertamax kini mulai mempertimbangkan untuk beralih ke Pertalite, semata-mata demi meringankan beban pengeluaran yang kian hari kian terasa berat.

Pemerintah resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter naik sekitar Rp3.950 per liter dalam sekali penyesuaian.

Sementara itu, harga Pertalite masih bertahan di angka Rp10.000 per liter, sehingga selisih antara keduanya kini menganga hingga Rp6.250 per liter. Bagi warga yang berkendara setiap hari, angka itu bukan lagi soal kenyamanan mesin melainkan soal kelangsungan keuangan rumah tangga.

Nafia, warga Desa Beji, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, adalah salah satu yang merasakan dilema itu. Selama ini ia lebih memilih Pertamax untuk sepeda motor Honda Vario miliknya karena dinilai lebih sesuai dengan spesifikasi kendaraan.

"Selama ini cocok menggunakan Pertamax," ujar Nafia, Rabu (10/6/2026).

Namun dengan kenaikan yang cukup signifikan, Nafia mulai mempertimbangkan beralih ke Pertalite. Menurutnya, biaya bahan bakar akan semakin membebani pengeluaran karena tidak diimbangi kenaikan upah, sementara mobilitas hariannya tergolong tinggi.

"Saya tiap hari dari Jenu ke Tuban untuk aktivitas. Intensitas berkendara saya cukup tinggi," imbuhnya.

Baca juga: Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, SPBU Sleko Tuban Justru Kehabisan Stok Pertamax

Trauma Brebet pun Kalah oleh Hitung-hitungan Dompet

Pertimbangan serupa datang dari Abdul, seorang guru asal Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding. Ia sebenarnya punya alasan kuat untuk menjauhi Pertalite pengalaman pahit motor brebet yang pernah menimpanya beberapa waktu lalu membuat ia berpindah ke Pertamax.

"Saya pengguna Pertamax. Sedikit trauma dengan Pertalite karena sempat kejadian motor brebet, jadi saya pindah menggunakan Pertamax," ujarnya.

Namun kini, lonjakan harga Pertamax memaksanya berpikir ulang. Rasa trauma itu perlahan tersisih oleh realita ekonomi yang tidak bisa diabaikan.

"Mau nggak mau sepertinya bakal kembali ke Pertalite karena selisih harga yang cukup tinggi," imbuhnya.

Pengguna Mobil Pun Tak Punya Banyak Pilihan

Dampak kenaikan Pertamax tidak hanya menyentuh pengguna sepeda motor. Niam, warga Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban, yang sehari-hari menggunakan mobil Honda BR-V, juga mengaku kemungkinan akan mengikuti langkah konsumen lain dengan beralih ke Pertalite demi menekan pengeluaran.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved