Harga BBM Naik

Daftar 4 Pengganti BBM yang Ramah Lingkungan, Makin Disorot setelah Harga Pertamax Naik

Berikut ini adalah empat jenis bahan bakar ramah lingkungan yang bisa jadi alternatif pengganti BBM.

Tayang:
Editor: Ani Susanti
KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo
IMBAS BBM NAIK - Situasi antrean pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (2/12/2025). Berikut ini adalah empat jenis bahan bakar ramah lingkungan yang bisa jadi alternatif pengganti BBM. 

Ringkasan Berita:

TRIBUNJATIM.COM - Kenaikan harga BBM yang berlaku pada 10 Juni 2026 kembali memicu kekhawatiran masyarakat akibat meningkatnya biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari.

Pada 10 Juni 2026, Pemerintah melalui Pertamina resmi menaikkan harga beberapa jenis BBM.

BBM non-subsidi Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Di tengah kondisi tersebut, perhatian terhadap bahan bakar pengganti yang lebih ramah lingkungan semakin menguat.

Momentum harga BBM naik ini dapat mempercepat peralihan dari energi fosil menuju energi bersih seperti biofuel, listrik, dan hidrogen.

Selain lebih stabil dari sisi harga jangka panjang, energi alternatif tersebut juga dinilai lebih ramah lingkungan.

Meski tantangan infrastruktur masih menjadi hambatan, transisi energi dianggap semakin mendesak untuk mengurangi ketergantungan pada BBM dan menghadapi perubahan iklim.

Berikut ini adalah empat jenis bahan bakar ramah lingkungan yang bisa jadi alternatif pengganti BBM, melansir dari laman Pertamina.

1. Biofuel (Bahan Bakar Nabati)

Biofuel merupakan salah satu jenis bahan bakar ramah lingkungan yang dibuat dari bahan-bahan organik, seperti tanaman dan limbah hewan.

Ada dua jenis biofuel yang paling umum, yaitu bioetanol dan biodiesel.

Bioetanol: Bioetanol dibuat dari fermentasi gula yang terdapat pada tanaman seperti jagung, tebu, dan gandum. Bioetanol dapat dicampur dengan bensin untuk mengurangi emisi karbon kendaraan bermotor. Selain itu, bioetanol juga dapat diproduksi dari limbah pertanian, sehingga membantu mengurangi jumlah limbah.

Biodiesel: Biodiesel dibuat dari minyak nabati atau lemak hewan. Proses pembuatannya melibatkan transesterifikasi, di mana minyak atau lemak dicampur dengan alkohol untuk menghasilkan biodiesel dan gliserin. Biodiesel dapat digunakan sebagai pengganti diesel konvensional atau dicampur dengan diesel dalam berbagai proporsi.

Biofuel memiliki beberapa keunggulan, seperti mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan mendukung pertanian lokal. Namun, penggunaan lahan untuk produksi biofuel bisa bersaing dengan lahan untuk produksi pangan, sehingga perlu diatur dengan bijaksana.

Baca juga: Harga Pertamax Mendadak Naik, Antrean Pertalite di Kediri Makin Panjang

2. Hidrogen

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved