Dampak Rupiah Melemah

Demi Pelanggan Tetap Bertahan, Penjual Nasi Bungkus di Jember Putar Otak Hadapi Harga Mahal

Pedagang nasi bungkus di Jember mengeluhkan kenaikan harga bahan pokok yang terjadi sejak setelah Lebaran Idulfitri 2026.

Tayang:
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Sri Wahyunik
MAHAL - Pedagang bawang di Pasar Tanjung Jember. Bawang termasuk kelompok bumbu yang harganya meroket dan dikeluhkan para konsumen, seperti pedagang nasi bungkus. 

Riati mencontohkan harga bawang merah yang kini mencapai Rp50.000 per kilogram. Padahal dalam kondisi normal, harga komoditas tersebut bisa berada di kisaran Rp30.000 per kilogram.

Selain bawang merah, harga cabai juga masih menjadi tantangan tersendiri. Saat ini harga cabai berada di kisaran Rp60.000 per kilogram, angka yang dinilai masih cukup tinggi bagi pelaku usaha makanan.

"Jadi sambelnya dibikin nggak begitu pedes," ujarnya.

Untuk kebutuhan beras, Riati menggunakan beras yang harga per 5 kilogramnya mencapai Rp70.000. Bahkan saat membeli kembali pada Senin (8/6/2026), harganya naik menjadi Rp71.000.

"Untuk beras bisa dibilang tiap sepekan sekali naik, antara Rp500-Rp1.000," imbuhnya.

Selain itu, harga minyak goreng MinyaKita kini berada di kisaran Rp21.000 per liter.

"Padahal ini sudah merek yang paling murah. Sebelumnya harganya Rp17.000," lanjutnya.

Di tengah kenaikan sejumlah bahan pokok tersebut, Riati mengaku sedikit terbantu dengan turunnya harga ayam potong yang saat ini berada di kisaran Rp25.000 per kilogram dari sebelumnya Rp29.000 per kilogram.

Bertahan dengan Berburu Promo di Marketplace

Untuk menjaga agar margin keuntungan nasi bungkusnya tidak semakin tergerus, Riati mengaku rutin berburu potongan harga atau promo berbagai kebutuhan pokok.

Salah satu yang sering dibelinya melalui marketplace adalah telur ayam. Menurutnya, harga telur di marketplace sempat berada di angka Rp17.000 per kilogram ketika harga di pasaran mencapai Rp25.000 per kilogram.

Selain telur, ia juga memanfaatkan promo untuk membeli minyak goreng dan gula pasir.

"Akhirnya war promo, biasanya yang kerap saya cari itu promo telur, minyak goreng, dan gula pasir. Harus pintar-pintar nyari promo," imbuhnya.

Menurut Riati, strategi tersebut cukup membantu mengurangi beban biaya produksi, meski belum mampu mengembalikan keuntungan seperti sebelumnya.

Harga Tetap, Keuntungan Turun 30 Persen

Sebagai pedagang nasi bungkus skala rumah tangga, Riati mengaku dampak kenaikan harga bahan pokok sangat terasa.

Hingga saat ini ia tetap mempertahankan harga nasi bungkus sebesar Rp6.000 per porsi yang dijual setiap pagi kepada pelanggannya.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved