Ramadan 2026
Kajian Ramadan, Gus Ulib Ingatkan Pentingnya Syukur untuk Kesehatan Mental
Sebelum memasuki pembahasan utama, KH Zainul Ibad terlebih dahulu mengajak jamaah memanjatkan doa atas wafatnya Ali Khamenei.
Penulis: Anggit Puji Widodo | Editor: Torik Aqua
Ringkasan Berita:
TRIBUNJATIM.COM - Suasana khusyuk menyelimuti kajian Ramadan yang diselenggarakan Pusat Studi Qur’an Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, pada Senin (2/3/2026) siang.
Dalam forum tersebut, Pembina Yayasan Pesantren Tinggi Darul Ulum, KH M. Zainul Ibad As’ad, mengupas tema tentang pentingnya syukur sebagai fondasi kesehatan mental dan ketenteraman batin.
Sebelum memasuki pembahasan utama, KH Zainul Ibad terlebih dahulu mengajak jamaah memanjatkan doa atas wafatnya Ali Khamenei.
Ia menyebut almarhum sebagai figur yang dikenal lantang menyuarakan kebenaran di tengah dinamika politik global.
Baca juga: Pengelolaan Sampah Jombang Masuk 16 Besar Nasional, Dasar Penilaian Dipertanyakan
Dalam pantauan Tribunjatim.com, memasuki inti kajian, ulama yang akrab disapa Gus Ulib itu menegaskan bahwa syukur bukan sekadar lafaz di lisan.
Dalam pandangannya, syukur merupakan bagian dari rangkaian amal yang saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Ia mencontohkan sejumlah perintah dalam Al-Qur’an yang selalu disebut secara berdampingan, seperti kewajiban mendirikan salat dan menunaikan zakat.
Menurutnya, menjalankan salah satu tanpa yang lain membuat amalan menjadi tidak sempurna. Prinsip yang sama juga berlaku pada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, yang harus berjalan seiring.
Konsep tersebut, lanjutnya, juga tercermin dalam ajaran tentang syukur. Dalam Surah Luqman, manusia diperintahkan untuk bersyukur kepada Allah sekaligus berterima kasih kepada kedua orang tua. Mengabaikan salah satunya dapat mengurangi nilai amal yang dilakukan.
“Syukur kepada Allah harus diwujudkan pula dalam sikap hormat dan bakti kepada orang tua,” ucapnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan, bentuk syukur tidak berhenti pada pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari Tuhan.
Lebih dari itu, syukur harus terwujud dalam tindakan nyata, termasuk perhatian, doa, dan berbagi rezeki kepada orang tua, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah wafat.
Menurutnya, perjalanan hidup seseorang tidak lepas dari peran dan doa orang tua. Karena itu, keberhasilan sering kali berkaitan erat dengan keridaan mereka. Ia mengingatkan bahwa ridha Allah sejalan dengan ridha orang tua.
Dalam pemaparannya, tokoh agama yang akrab disapa Gus Ulib ini juga mengaitkan sikap syukur dengan kondisi psikologis seseorang.
| Parade Oklik Semarakkan Malam 29 Ramadan di Bojonegoro, 1.100 Obor Dinyalakan |
|
|---|
| Gubernur Khofifah Belanja Bandeng Kawak di Pasar Bandeng Gresik: Rekomendasi Pemudik |
|
|---|
| Doa Akhir Ramadan yang Diajarkan Rasulullah SAW Lengkap dengan Terjemahannya |
|
|---|
| Ciri-ciri Orang Mendapat Lailatul Qadar Ramadan 1447 H/2026 Menurut Buya Yahya |
|
|---|
| Cara Karyawan Freeport Indonesia Meriahkan Ramadan, Gelar Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/KH-M-Zainul-Ibad-Asad-mengisi-kajian-Ramadan-jombang.jpg)