Waspada PMK, 41 Ribu Dosis Vaksin Ditambah di Kabupaten Kediri

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih perlu menjadi perhatian peternak sapi di Kabupaten Kediri pada awal tahun 2026.

Tayang:
Penulis: Muhammad Nurkholis | Editor: Ndaru Wijayanto
Tribun Jatim Network/Isya Anshori
WASPADA - Petugas DKPP melaksanakan monitor rutin terhadap sapi di Pasar Hewan Tertek Kediri untuk pencegahan PMK. 

 

Ringkasan Berita:
  • DKPP Kabupaten Kediri mencatat 156 kasus PMK pada sapi per 30 Januari 2026, dengan 59 ekor masih sakit, 6 mati, dan 91 ekor telah sembuh.
  • Kecamatan Tarokan menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, disusul sejumlah kecamatan lain, dipengaruhi tingginya populasi dan mobilitas ternak sapi.
  • Peternak diimbau tetap waspada, tidak menjual sapi sakit, segera melapor jika ada gejala PMK, dan aktif mengikuti vaksinasi karena virus masih berpotensi menular.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Isya Anshori

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih menjadi perhatian bagi peternak sapi di Kabupaten Kediri pada awal 2026. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kediri per 30 Januari 2026, tercatat 156 kasus PMK pada sapi.

Dari jumlah tersebut, 59 ekor masih sakit, 6 ekor mati, dan 91 ekor telah sembuh setelah mendapat penanganan dari petugas kesehatan hewan.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner DKPP Kabupaten Kediri, Yuni Ismawati, menegaskan meski angka kesembuhan tinggi, kewaspadaan tetap diperlukan.

"PMK ini belum sepenuhnya hilang. Virusnya masih ada, sehingga kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, terutama di wilayah dengan populasi sapi yang cukup tinggi," kata Yuni saat dikonfirmasi, Sabtu (31/1/2026).

Berdasarkan sebaran wilayah, Kecamatan Tarokan menjadi daerah dengan jumlah kasus PMK terbanyak. Hal ini tidak lepas dari kondisi Tarokan sebagai salah satu sentra peternakan sapi di Kabupaten Kediri.

Selain Tarokan, kasus PMK juga tercatat di beberapa kecamatan lain, di antaranya Ngancar, Grogol, Plemahan, Purwoasri, Ringinrejo, Kandat, Kayen Kidul, Pare dan Semen.

Baca juga: Vaksinasi PMK Serentak di Jatim, Ribuan Dokter Hewan Diterjunkan ke Lapangan

Yuni menjelaskan, tingginya populasi ternak serta padatnya lalu lintas sapi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penyebaran PMK di wilayah tertentu. Sapi potong diketahui memiliki mobilitas tinggi, mulai dari kandang, pasar hewan, hingga perpindahan antarwilayah.

"Mobilitas ternak sapi potong sangat tinggi. Jika biosekuriti tidak dijaga dengan baik, potensi penularan PMK bisa meningkat," jelasnya.

Selain kasus sapi sakit, DKPP juga mencatat adanya sapi yang mati akibat PMK. Dari total enam ekor sapi mati, lima ekor di antaranya dilakukan pemotongan paksa sebagai langkah pengendalian agar tidak menimbulkan penularan lebih luas.

Dalam upaya pengendalian PMK, DKPP Kabupaten Kediri terus melakukan berbagai langkah, antara lain vaksinasi PMK, pengobatan ternak yang sakit.

Selain itu juga penyemprotan disinfektan kandang, serta edukasi kepada peternak terkait penerapan kebersihan dan pembatasan lalu lintas ternak.

Baca juga: Awal Tahun 2026, Kasus PMK di Kabupaten Blitar Tembus 72 Kasus 

"Kami mengimbau peternak agar tidak menjual sapi yang sakit dan segera melapor kepada petugas apabila menemukan gejala PMK pada ternaknya," imbau Yuni.

Adapun gejala PMK yang perlu diwaspadai pada hewan ternak meliputi demam tinggi, air liur berlebihan, mulut dan bibir pecah-pecah, luka pada kuku atau kaki, serta kondisi sapi yang terlihat lemas dan malas makan.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved