3 Hal Penting Tentang Cara Penularan Hantavirus, Hewan Peliharaan Mungkin Bisa Terinfeksi

Inilah penjelasan lengkap tentang cara penularan hantavirus yang kini tengah jadi perhatian masyarakat dunia.

Tayang:
Editor: Ani Susanti
Freepik
WABAH HANTAVIRUS - Foto ilustrasi terkait cara penularan hantavirus yang dapat diwaspadai penyebab utamanya ke manusia. Bisa melalui kontak dengan urin, kotoran atau air liur hewan pengerat. 
Ringkasan Berita:
  • Kewaspadaan masyarakat dunia terhadap wabah hantavirus meningkat setelah temuan di kapal pesiar MV Honduras
  • Tiga hal penting tentang cara penularan hantavirus
  • Penularan hantabirus ke manusia juga dapat terjadi melalui aerosol dari debu atau partikel halus

TRIBUNJATIM.COM - Inilah penjelasan lengkap tentang cara penularan hantavirus yang kini tengah jadi perhatian masyarakat dunia.

Hantavirus merupakan kelompok virus yang secara alami dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus, dan memiliki potensi fatalitas yang tinggi bagi manusia jika tidak ditangani dengan prosedur medis yang tepat. 

Kekhawatiran global muncul bukan tanpa alasan; virus ini dikenal sebagai penyebab dua kondisi kesehatan yang mengancam nyawa, yaitu hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang fungsi ginjal. 

Belakangan wabah hantavirus membuat heboh karena temuan di kapal pesiar MV Honduras.

Hal ini membuat masyarakat dunia dan di Indonesia waspada terhadap proses penularannya.

Di tengah kewaspadaan masyarakat yang kian meningkat, pemahaman mendalam mengenai karakteristik hantavirus ini menjadi benteng pertahanan utama agar kita tidak terjebak dalam kepanikan massal yang tidak berdasar.

Penyebab utama penularan hantavirus kepada manusia bersumber dari kontak langsung maupun tidak langsung dengan kotoran, urine, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. 

Berbeda dengan virus yang menular antarmanusia, hantavirus umumnya berpindah melalui proses aerosol, di mana partikel virus yang mengering dari limbah tikus terbang ke udara dan terhirup oleh manusia saat membersihkan area yang kotor atau berventilasi buruk. 

Selain melalui pernapasan, penularan juga dapat terjadi melalui gigitan hewan pengerat atau ketika seseorang menyentuh permukaan yang telah terkontaminasi virus dan kemudian menyentuh hidung, mulut, serta mata sebelum mencuci tangan. 

Fakta virus ini mampu bertahan di lingkungan tertentu menjadikan area seperti gudang, loteng, atau wilayah pedesaan dengan populasi pengerat tinggi sebagai zona risiko yang memerlukan perhatian khusus.

Baca juga: Daftar 12 Negara yang Dapat Peringatan dari WHO Terkait Wabah Hantavirus

Menanggapi situasi yang berkembang pada tahun 2026 ini, otoritas kesehatan seperti CDC, WHO, hingga Kementerian Kesehatan RI terus memperketat pengawasan dan edukasi publik guna menekan angka persebaran kasus. 

Penting bagi setiap individu untuk menyadari pencegahan dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu rumah dan tempat kerja, dengan cara menutup akses masuk bagi tikus serta menjaga kebersihan sanitasi secara menyeluruh. 

Mengenali mekanisme penularan virus yang mematikan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih sigap dalam mengambil langkah-langkah preventif yang direkomendasikan secara medis. 

Cara Penularan hantavirus

Melansir WHO, penularan hantavirus ke manusia terjadi melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi dan terkontaminasi. 

Infeksi juga dapat terjadi, meskipun lebih jarang, melalui gigitan hewan pengerat

Aktivitas yang melibatkan kontak dengan hewan pengerat seperti membersihkan ruang tertutup atau berventilasi buruk, pertanian, pekerjaan kehutanan, dan tidur di tempat tinggal yang dipenuhi hewan pengerat meningkatkan risiko paparan.

Sampai saat ini, penularan dari manusia ke manusia hanya didokumentasikan untuk virus Andes di Amerika dan masih jarang terjadi. 

Jika terjadi, penularan antar manusia dikaitkan dengan kontak dekat dan berkepanjangan, terutama di antara anggota keluarga atau pasangan intim, dan tampaknya paling mungkin terjadi selama fase awal penyakit, ketika virus lebih mudah menular.

Baca juga: Belum Ada Kasus Hantavirus di Banyuwangi, Dinkes Minta Warga Jaga Kebersihan

Memahami bagaimana hantavirus menyebar adalah langkah krusial dalam upaya pencegahan infeksi yang mematikan ini. 

Secara biologis, siklus hidup virus ini bergantung pada inang alaminya, namun aktivitas manusia sehari-hari sering kali tanpa sengaja bersinggungan dengan jalur transmisinya. 

Penularan ini tidak hanya terjadi antara sesama hewan pengerat, tetapi juga memiliki mekanisme yang spesifik saat berpindah ke tubuh manusia.

1. Transmisi Antar Reservoir Hewan

Di alam liar, penyebaran virus terjadi secara berkelanjutan di antara populasi inang. 

Mekanisme penularan infeksi antar reservoir dapat terjadi melalui aerosol atau kontak langsung seperti perkelahian atau kawin dengan reservoir lain yang telah terinfeksi Orthohantavirus. 

Interaksi sosial dan teritorial antar hewan pengerat inilah yang menjaga keberadaan virus tetap aktif di lingkungan tertentu sebelum akhirnya mencapai pemukiman manusia.

2. Jalur Masuk ke Tubuh Manusia

Interaksi antara manusia dengan lingkungan yang tidak higienis menjadi pintu masuk utama bagi virus ini. 

Penularan penyakit virus Hanta ke manusia dapat terjadi baik melalui kontak dengan reservoir utama (tikus dan celurut) yang terinfeksi (melalui gigitan jarang terjadi) atau kontak dengan ekskresinya seperti saliva, urin atau feses.

Secara lebih detail, menurut Kemenkes dalam Buku Buku Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Virus Hanta di Indonesia yang diterbitkan Kemenkes RI tahun 2023, ada tiga cara utama bagaimana material berbahaya tersebut menginfeksi manusia:

  • Inhalasi (Aerosol): Ini merupakan jalur yang paling umum. Penularan ke manusia juga dapat terjadi melalui aerosol dari debu atau partikel halus yang telah terkontaminasi oleh saliva, urin atau feses reservoir utama. Saat seseorang menyapu gudang atau area kotor tanpa masker, partikel virus yang mengering dapat terhirup masuk ke paru-paru.
  • Kontak Membran Mukosa: Penularan dapat terjadi ketika saliva, urin, feses atau material terkontaminasi langsung mengenai kulit yang luka atau membran mukosa pada mata, mulut, dan hidung.
  • Gigitan: Meski frekuensinya cukup rendah, gigitan langsung dari tikus yang terinfeksi tetap menjadi risiko transmisi yang patut diwaspadai.

3. Batasan Penularan pada Spesies Lain dan Manusia

Meskipun hewan peliharaan sering bersentuhan dengan tikus, risiko penyebaran melalui jalur ini masih sangat terbatas. 

Spesies mamalia lain (kucing, anjing, dan anjing hutan) dapat terinfeksi melalui kontak dengan reservoir utama, tetapi belum dilaporkan penularan virus dari spesies ini ke spesies lain. 

Artinya, hewan peliharaan Anda mungkin bisa terinfeksi, namun mereka kecil kemungkinan menjadi perantara untuk menularkan virus tersebut kembali kepada Anda.

Selain itu, penting untuk dicatat bahwa stabilitas virus ini berbeda dengan virus influenza atau COVID-19 dalam hal interaksi sosial manusia. 

Hingga saat ini, data medis menunjukkan tingkat keamanan yang tinggi dalam interaksi antarpasien, karena penularan dari manusia ke manusia belum pernah dilaporkan. 

Maka demikian, fokus utama pencegahan tetap tertuju pada pengendalian populasi tikus dan kebersihan lingkungan tempat tinggal.

Menurut Kemenkes RI pengendalian hantavirus sangat bergantung pada pengendalian populasi tikus, perbaikan sanitasi lingkungan, edukasi Masyarakat, surveilans berbasis Risiko. 

Dalam pedoman Kemenkes RI, pendekatan yang dianjurkan mencakup pengendalian reservoir secara terpadu, perbaikan sanitasi lingkungan dan komunikasi risiko kepada masyarakat.

Oleh karena itu untuk mencegah terjadinya wabah hantavirus menujukan integrasi antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Artikel ini sebelumnya telah tayang di Tribunnews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved