Picu Ancaman Kesehatan, El Nino Godzilla Bisa Tingkatkan Risiko ISPA hingga Gagal Ginjal
El Nino ekstrem berdampak terhadap kualitas udara dan ketersediaan air bersih yang menjadi faktor penting dalam kesehatan masyarakat.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Alga W
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sulvi Sofiana
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - El Nino ekstrem atau yang kerap disebut El Nino Godzilla diperkirakan membawa dampak serius terhadap kesehatan masyarakat di Indonesia.
Kemarau yang lebih panjang, suhu udara yang meningkat tajam, serta risiko kekeringan dan kebakaran hutan, menjadi kombinasi yang dapat memicu lonjakan berbagai penyakit.
Baca juga: Gara-gara LPG Bocor Rumah di Cerme Gresik Kebakaran, Dua Orang Dilarikan ke Rumah Sakit
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Putri Ayuni Alayyannur mengatakan, El Nino ekstrem berdampak langsung terhadap kualitas udara dan ketersediaan air bersih yang menjadi faktor penting dalam kesehatan masyarakat.
"Dampak kemarau ekstrem terhadap kesehatan masyarakat sangat signifikan, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan panjang dan rentan kebakaran hutan maupun lahan. Kondisi ini mengubah kualitas udara dan ketersediaan sumber daya seperti air bersih," ujarnya.
Menurutnya, salah satu dampak paling nyata adalah meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Cuaca panas yang disertai udara kering membuat debu, asap, dan polutan lebih mudah bertahan di udara karena tidak ada hujan yang membantu mengendapkannya.
"Partikel polusi seperti PM2.5 dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu iritasi serta peradangan. Selain itu, udara kering membuat mukosa di hidung dan tenggorokan mengering sehingga pertahanan alami tubuh terhadap virus dan bakteri melemah," jelasnya.
Ia menambahkan, ancaman kesehatan selama El Nino Godzilla tidak berhenti pada gangguan pernapasan.
Suhu panas ekstrem juga meningkatkan risiko dehidrasi yang dapat berdampak serius terhadap tubuh.
"Dehidrasi dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, gangguan fungsi ginjal, bahkan gagal ginjal apabila terjadi terus-menerus dan tidak ditangani dengan baik," katanya.
Selain itu, keterbatasan air bersih selama musim kemarau panjang juga meningkatkan risiko penyakit berbasis sanitasi seperti diare.
Kondisi udara kering dan debu tinggi turut memicu gangguan kulit serta iritasi mata.
Dr Putri menjelaskan ada sejumlah kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak fenomena ini, yakni balita, anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis seperti asma dan penyakit jantung, serta pekerja luar ruangan seperti petani, nelayan, kurir, dan pekerja konstruksi.
"Masyarakat yang tinggal di daerah dengan akses air bersih terbatas dan wilayah rawan kebakaran hutan juga memiliki risiko lebih tinggi," ujarnya.
| R2 & R4 Selip Berjemaah di Jalur Nasional Arosbaya Bangkalan, Solar Bercampur Oli Tumpah |
|
|---|
| Harga iPhone Awal Mei 2026, Mulai iPhone 15 Hingga iPhone 17 Pro Max Rp 40 Jutaan |
|
|---|
| Hadapi El Nino, Dinas PU SDA Jatim Operasikan 3.800 Sumur Bor untuk Amankan 921 Ribu Hektare Sawah |
|
|---|
| El Nino 2026 Lebih Terik, BPBD Jatim Identifikasi 815 Desa di 26 Kabupaten Berisiko Krisis Air |
|
|---|
| Jaga Status Lumbung Pangan Nasional, Khofifah Siapkan Strategi Mitigasi Kekeringan dan Karhutla 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/BENCANA-KEKERINGAN-Ilustrasi-Musim-kemarau-2026-diperkirakan-mulai.jpg)