Idul Adha 2026

Tips Sehat Makan Daging Sapi dan Kambing saat Idul Adha Menurut Ahli Gizi

Dengan melimpahnya jumlah persediaan daging, penting juga untuk memperhatikan batas konsumsi, mulai dari gizi hingga cara pengolahan.

Tayang:
Editor: Ani Susanti
Shutterstock
OLAH DAGING KURBAN - Dengan melimpahnya jumlah persediaan daging, penting juga untuk memperhatikan batas konsumsi, mulai dari gizi hingga cara pengolahan. Simak caranya. 

TRIBUNJATIM.COM - Hari Raya Idul Adha akan diperingati umat Muslim pada Rabu, 27 Mei 2026.

Perayaan Hari Raya Idul Adha identik dengan olahan daging kurban, baik sapi maupun kambing.

Sajian daging kurban juga membawa manfaat gizi yang besar jika dikonsumsi secara bijak.

Dengan melimpahnya jumlah persediaan daging, penting juga untuk memperhatikan batas konsumsi, mulai dari gizi hingga cara pengolahan.

Namun, berapa banyak sebenarnya daging kurban yang bisa kita konsumsi agar kebutuhan protein tercukupi tanpa berlebihan?

Pakar gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair), Lailatul Muniroh, SKM, MKes, menjelaskan bahwa porsi aman mengonsumsi daging merah matang, baik sapi maupun kambing, sekitar 50 sampai 70 gram per sajian dengan maksimal dua hingga tiga kali seminggu.

Ia juga meluruskan persepsi yang menyebut daging kambing lebih berbahaya dibanding daging sapi.

Menurutnya, dalam beberapa aspek, daging kambing justru memiliki kandungan lemak jenuh dan kalori yang lebih rendah.

Yang terpenting adalah bagaimana metode pengolahan dan seberapa banyak daging yang dikonsumsi.

“Masyarakat ketika mengonsumsi daging tanpa dikontrol, apalagi menyantap jeroan yang tinggi kolesterol, dan memasaknya dengan cara yang tidak sehat seperti digoreng atau dimasak dengan santan,” jelasnya, Kamis (5/6/2025) lalu.

Waspadai Kolesterol

Selain itu, Lailatul menegaskan bahwa mencuci daging dengan air panas atau jeruk nipis untuk mengurangi kolesterol hanyalah mitos dan tidak terbukti secara ilmiah.

“Kolesterol berada di dalam jaringan otot dan tidak larut dalam air. Jadi, mencuci daging meskipun dengan air panas atau jeruk nipis tidak akan mengurangi kolesterolnya,” tuturnya.

Ia menuturkan bahwa cara pengolahan daging dapat sangat mempengaruhi kadar lemak dan potensi munculnya senyawa berbahaya.

Metode memasak dengan suhu tinggi, seperti dibakar atau digoreng, terutama hingga gosong, dapat menghasilkan senyawa toksik.

Maka dari itu, ia menyarankan agar masyarakat memilih metode yang lebih sehat seperti merebus atau mengukus.

“Meskipun tidak serta-merta menurunkan kadar lemak, metode memasak rendah suhu seperti mengukus jauh lebih sehat daripada membakar hingga hangus,” ungkapnya.

Baca juga: Resep Teriyaki Daging Sapi Ala Restoran Bisa Dibuat saat Idul Adha, Perlu Kecap Asin hingga Paprika

Tidak hanya itu, dalam mengonsumsi daging sebaiknya disandingkan dengan makanan tinggi serat seperti sayuran dan buah-buahan.

Pola makan yang seimbang dinilai lebih efektif dalam menjaga kadar kolesterol dan mencegah gangguan metabolik.

“Jika ingin manfaatnya optimal, daging harus dikonsumsi bersamaan dengan serat, protein nabati, dan dimasak dengan metode sehat. Pola makan harus menyeluruh, tidak hanya fokus pada satu jenis makanan,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa daging bukanlah musuh, tetapi tetap harus bijak dalam mengonsumsinya.

Kesadaran masyarakat dalam menjaga pola makan menjadi kunci untuk mencegah meningkatnya prevalensi penyakit di usia produktif.

“Keseimbangan dan kesadaran adalah kunci. Bukan berarti tidak boleh makan daging, tapi harus tahu kapan cukup dan bagaimana mengolahnya,” pungkasnya.

Artikel ini sebelumnya telah tayang di Kompas.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved