Kenali Pola Manipulasi Child Grooming, Agar Anak Terhindar dari Bahaya

Praktik ini dinilai tidak bermoral karena adanya ketimpangan relasi kuasa antara orang dewasa yang matang dan mandiri dengan anak atau remaja

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Samsul Arifin
Istimewa
CHILD GROOMING - Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Yuan Yovita Setiawan, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa pelaku child grooming umumnya menggunakan pola manipulasi yang sistematis dan bertahap. 

Ringkasan Berita:
  • Child grooming adalah manipulasi bertahap yang berujung pada kekerasan seksual terhadap anak/remaja.
  • Korban sering sulit lepas karena ketergantungan emosional dan rasa bersalah yang ditanamkan pelaku.
  • Pencegahan butuh kolaborasi orang tua, sekolah, dan lingkungan dengan komunikasi terbuka dan pengawasan aktif.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sulvi Sofiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Hangat jadi perbincangan pengakuan salah satu artis Indonesia terkait pengalaman child grooming dan manipulasi yang dialaminya sejak usia belia. 

Child grooming merupakan pendekatan manipulatif yang dilakukan orang dewasa dengan tujuan melakukan kejahatan seksual terhadap anak atau remaja di bawah umur. 

Praktik ini dinilai tidak bermoral karena adanya ketimpangan relasi kuasa antara orang dewasa yang matang dan mandiri dengan anak atau remaja yang masih berada dalam tahap perkembangan.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Yuan Yovita Setiawan, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa pelaku child grooming umumnya menggunakan pola manipulasi yang sistematis dan bertahap.

Yuan menguraikan bahwa salah satu model yang kerap digunakan pelaku adalah Sexual Grooming Model (SGM) yang dicetuskan oleh peneliti Georgia M. Winters dan Elizabeth L. Jeglic.

Baca juga: Apa itu Child Grooming? Kisah Pahit Aurelie Moeremans di Usia 15 Tahun di Buku Broken Strings

Karakteristik Tertentu

Dalam model ini, pelaku memulai aksinya dengan memilih korban yang memiliki karakteristik tertentu.

“Pelaku akan memilih individu yang rentan secara psikologis. Misalnya penurut, kurang pengawasan dan perhatian orang tua, membutuhkan kasih sayang, mengalami masalah perilaku, atau merasa kesepian,” ujar Yuan, Kamis (15/1/2026).

Tahap berikutnya, pelaku akan berusaha memperoleh akses terhadap korban dan secara perlahan mengisolasinya dari lingkungan sekitar. 

Hal ini dilakukan melalui interaksi intens yang tampak menyenangkan dan penuh perhatian, hingga korban merasa lebih dekat dengan pelaku dibanding orang-orang di sekitarnya.

Baca juga: Kim Soo Hyun Diduga Child Grooming Kim Sae Ron, Perilaku Grooming Sulit Dikenali, Dampak pada Korban

Setelah kepercayaan korban terbentuk, pelaku mulai memperluas kendali dengan membiasakan korban pada konten seksual maupun kontak fisik. 

Dalam tahap ini, pelaku membuat korban memandang paparan dan kekerasan seksual sebagai sesuatu yang normal.

“Pada tahap akhir, pelaku melakukan pemeliharaan hubungan setelah terjadinya kekerasan seksual. Biasanya melalui pembungkaman, baik dengan pemberian imbalan, manipulasi emosional, maupun ancaman,” jelasnya.

Yuan menambahkan, tahapan manipulasi tersebut membuat relasi yang tidak sehat ini sulit diputus. Korban sering kali menjadi sangat bergantung pada pelaku, baik secara emosional maupun psikologis. 

Tak jarang, pelaku juga memunculkan rasa bersalah pada korban melalui pola komunikasi yang manipulatif.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved