Lifestyle

Mengintip Koleksi Unik Museum Don Bosco Surabaya, Ada Alat Pengiris Daging Lawas Tahun 1898

Tak hanya menyimpan nilai historis dari sisi usia, gedung sejarah Don Bosco juga hadirkan museum dengan konsep yang berbeda dari kebanyakan museum

Tayang:
Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Sudarma Adi
Tribun Jatim Network/Nur Ika Anisa
MUSEUM - Ivy Santoso saat mengunjungi Museum Don Bosco Surabaya 

Ringkasan Berita:
  • Keunikan Museum: Fokus pada narasi humanis kisah hidup biarawan/biarawati, bukan sekadar fisik bangunan.
  • Koleksi Unggulan: Mesin pengiris daging Van Berkel (1898), koper lawas, kamera antik, dan setrika arang.
  • Nilai Sejarah: Menggambarkan keseharian Suster Belanda dan anak panti di Surabaya periode 1916-1955.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Nur Ika Anisa

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Tak hanya menyimpan nilai historis dari sisi usia, gedung sejarah Don Bosco juga menghadirkan museum dengan konsep yang berbeda dari kebanyakan museum pada umumnya.

Alih-alih menonjolkan bangunan sebagai cagar budaya, museum ini lebih berfokus pada kisah hidup dan pengabdian para biarawan dan biarawati yang pernah bertugas.

Pendekatan ini menghadirkan sisi humanis dalam melihat sejarah pelayanan, yang jarang diangkat dalam narasi museum konvensional.

Baca juga: Rekomendasi Tujuh Museum di Surabaya, Dari Jejak Perjuangan hingga Edukasi Modern

Koleksi Autentik: Dari Koper Lawas hingga Mesin Pengiris Daging

“Ada beberapa peninggalan yang masih ada, termasuk beberapa koper lawas, benda-benda zaman dulu, cangkir,” sebut Yulius, pengelola Don Bosco, Senin (4/5/2026).

Saat Tribun Jatim Network berkunjung ke Museum Don Bosco, disambut dengan berbagai koleksi autentik.

Di antaranya koper lawas, kotak kayu jati, kamera lawas, brankas, setrika arang dan masih banyak lainnya.

Bahkan ada alat pengiris daging pertama dieiptakan oleh Tukang daging Belanda dan Insinyur W.A.Van Berkel tahun 1898.

Dalam keterangannya, W.A.Van Berkel capai memotong dagingnya dengan pisau, ia menciptakan sebuah mesin dengan penuh akal untuk membikin irisan daging setipis kertas semudah menaiki sepeda. 

Ciptaan roda gayanya memakai engkol, sedang engkol terhuhung secara relative ke system roda gigi sederhana yang keduanya memutarkan sebuah pisau cekung dan gerakkan daging melawannya pada waktu yang sama.

Pada jaman Belanda tahun 1916- 1955 Suster Belanda di Panti Asuhan Don Bosco memakai mesin pengiris daging ini untuk mengiris daging olahan seperti ham, daging asap dan juga roti.

Baca juga: Museum Musik Indonesia di Malang, Jejak Sejarah Nusantara dari Garasi Kecil hingga Koleksi Dunia

Karena di Panti pada waktu itu para Suster dan juga anak-anak Panti pada pagi hari selala sarapan roti.

“Orang Belanda jaman dulu mereka makan roti dan daging diiris tipis, kami ada alatnya di sini (museum),” sebutnya.

Ada pula beberapa koleksi cangkir kuno dan bendera kebesaran panti yang masih terawat hingga kini.

Pengunjung seakan diajak menyelami perjalanan spiritual dan sosial para tokoh yang pernah mengabdikan diri di tempat tersebut.

“Bagus ya, jadi kita dan anak-anak generasi sekarang di sini bisa tahu bagaimana. Koleksinya masih terawat,” ucap pengunjung Ivy Santoso.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved