Breaking News

Manfaatkan Limbah MBG hingga Air Wudu, Pelajar Madiun Kembangkan Abon Sukun & Lele

Pengolahan lele dan sukun menjadi abon menjadi inovasi yang masih jarang ditemui di masyarakat.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Alga W
Tribun Jatim Network/Sofyan Arif Candra Sakti
ABON - Pelajar MTSN 12 Madiun, Desa Sidorejo, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, mengolah sukun dan lele menjadi abon dengan nutrisi tinggi, Senin (13/4/2026). Sukun dipilih karena melimpah di Desa Sidorejo, sedangkan lele yang digunakan dibudidayakan menggunakan pakan alternatif dari limbah program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Ringkasan Berita:
  • Para siswa MTsN 12 Madiun mengolah buah sukun dan ikan lele menjadi abon bernilai gizi tinggi.
  • Pengolahan lele dan sukun menjadi abon menjadi inovasi yang masih jarang ditemui di masyarakat.

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Siswa MTsN 12 Madiun di Desa Sidorejo, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, turut ambil bagian dalam menyukseskan program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Melalui inovasi berbasis potensi lokal, para siswa mengolah buah sukun dan ikan lele menjadi abon bernilai gizi tinggi.

Baca juga: Beli Produk Online Tapi Barang Tak Sesuai Gambar Bisa Retur Tergantung Marketplace

Pemanfaatan sukun dipilih karena kandungan karbohidrat kompleks, serat tinggi, serta bebas gluten.

Selain itu, tanaman sukun juga melimpah di lingkungan Desa Sidorejo.

Sementara itu, lele yang digunakan merupakan hasil budidaya siswa sendiri.

Menariknya, budidaya lele tersebut dilakukan dengan pendekatan ramah lingkungan.

Para siswa memanfaatkan limbah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pakan alternatif, serta menggunakan air bekas wudu untuk mengisi kolam budidaya tersebut.

Ketua Tim Adiwiyata MTsN 12 Madiun, Ridwanuddin, menjelaskan bahwa inovasi abon sukun dan lele atau disingkat Absule ini merupakan perpaduan dari berbagai program, mulai dari ketahanan pangan, eko-teologi Kementerian Agama, hingga program Adiwiyata dari Kementerian Lingkungan Hidup.

"Ini merupakan bentuk kolaborasi bagaimana lingkungan bisa dikelola dengan baik. Alhamdulillah, perpaduannya ada pada lele dan sukun ini," ujarnya, Senin (13/4/2026).

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi wujud rasa syukur atas melimpahnya potensi alam di sekitar sekolah.

Terutama sukun yang merupakan sumber pangan lokal dengan nilai nutrisi tinggi dan dapat menjadi alternatif pengganti nasi.

"Di lingkungan kami, sukun sangat melimpah. Banyak guru juga memiliki pohon sukun di rumah. Ini potensi yang bisa dimanfaatkan," jelasnya.

Menurut Ridwanuddin, pengolahan lele dan sukun menjadi abon juga menjadi inovasi yang masih jarang ditemui di masyarakat.

Melalui kegiatan ini, siswa diajak untuk lebih kreatif dalam mengolah sumber daya lokal sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap keanekaragaman hayati.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved