Breaking News

Gus Idris Tanggapi Tuduhan Pelecehan Seksual Pada Talent Perempuan Konten Horor

Idris Al-Marbawy atau Gus Idris pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Malang buka suara soal tuduhan pelecehan seksual yang dialami seorang talent

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Luluul Isnainiyah | Editor: Ndaru Wijayanto
Tribun Jatim Network/Luluul Isnainiyah
DUGAAN PELECEHAN : Gus Idris (kiri) bersama kuasa hukumnya mengaku tuduhan pelecehan seksual yang beredar di media sosial, Kamis (5/2/2026). 

 

Ringkasan Berita:
  • Gus Idris, pengasuh pondok pesantren di Malang, membantah tuduhan pelecehan seksual terhadap seorang talent
  • Kuasa hukum menjelaskan kasus yang viral sebenarnya terkait dugaan masalah relasi antara staff, agent, dan talent, dan staff yang terlibat sudah diberhentikan.
  • Pihak Gus Idris menyayangkan penggiringan opini di media sosial yang berpotensi mencemarkan nama baik

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Lu'lu'ul Isnainiyah

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Muhammad Idris Al-Marbawy, atau Gus Idris, pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Malang, buka suara terkait tuduhan pelecehan seksual terhadap seorang talent yang belakangan viral di media sosial.

Melalui kuasa hukumnya, Guntur Putra Abdi Wijaya, Gus Idris membantah adanya tuduhan yang mengarah kepadanya.

"Kami sampaikan mengenai masalah yang viral itu tidak benar mengenai pelecehan seksual. Berdasarkan rapat internal, di situ ada dugaan kuasa relasi antara staff dengan agent dan talent. Kalau talent kan urusannya sama agent, kita dengan agent," kata Guntur, Kamis (5/2/2026). 

Dalam hal ini, Guntur menyampaikan jika staff yang terlibat dalam permasalahan itu telah dihentikan. Sehingga permasalahan masih sebatas dugaan sementara. 

Pihaknya pun menyayangkan adanya penggiringan opini di media sosial. Menurutnya hal ini sudah mengarah ke ranah pencemaran nama baik Gus Idris. 

Baca juga: Konten Sumpah Pocong di Ponpes Malang Meresahkan, Penyiar Radio Jadi Korban Dugaan Pelecehan

"Kami berharap masyarakat tidak percaya begitu saja dengan opini yang ada di mesia sosial. Kalaupun memang pihak Gus Idris terbukti bersalah harusnya sudah ada pelaporan ke kita," sambungnya. 

Jika ada laporan resmi yang mengarah ke Gus Idris, Guntur menegaskan pihaknya siap menindaklanjuti. Sebab, menurutnya Gus Idris merupakan sosok yang taat terhadap hukum dan akan koorperatif. 

"Belum ada (laporan.red). Dan kita akan tunggu perkembangannya. Kalau ada, kita akan melakukan upaya lain," tandasnya. 

Sebelumnya, beredar di media sosial Gus Idris diduga melakukan pelecehan seksual terhadap seorang talent perempuan untuk proses syuting konten horor.

Talent tersebut membagikan cerita dugaan pelecehan ke media sosial melalui instagram @sovinovitav. Kemudian cerita ini berkembang ke media sosial lainnya hingga viral.

Baca juga: Guru Honorer di Jombang Ditetapkan Tersangka atas Kasus Dugaan Pelecehan pada Muridnya

Konten Sumpah Pocong di Ponpes Malang

Viral di sosial media dimana sebuah konten sumpah pocong milik salah satu pengasuh Pondok Pesantren di Malang. 

Setelah ada salah satu talent yang buka suara setelah mengalami tindakan yang kurang menyenangkan hingga dugaan pelecehan seksual secara verbal.

Korban RNH tersebut yang juga berprofesi sebagai penyiar radio.

Peristiwa itu terjadi pada 28 Januari 2026 lalu dan belakangan menjadi sorotan publik setelah cerita RNH dan korban lainnya viral di media sosial.

Awal Mula Kejadian

Saat ditemui TribunJatim.com, RNH menceritakan awal mula dirinya tertarik mengikuti casting karena menemukan akun Instagram yang membuka lowongan talent video dengan iming-iming bayaran Rp 200 ribu. 

Tawaran tersebut mengharuskan talent datang cepat ke lokasi, tanpa proses casting terlebih dahulu.

Tertarik dengan tawaran tersebut, akhirnya perempuan berusia 28 tahun itu langsung menghubunginya karena memiliki waktu luang.

"Setelah saya hubungi, saya diminta untuk langsung menuju ke lokasi. Lokasinya itu berada di daerah Pakis, Kabupaten Malang,"

"Saat saya hampir sampai di lokasi, kemudian saya diminta menghubungi nomor orang lain, yang ternyata itu adalah kru dari pemilik ponpes itu," kata RNH.

Setibanya di lokasi, RNH mengaku sempat merasa yakin karena tempat tersebut tampak seperti rumah produksi (Production House) dan memiliki kanal YouTube dengan jumlah pelanggan mencapai 2 jutaan subscriber.

Namun, rasa tidak nyaman mulai muncul ketika briefing dinilai tidak profesional.

Saat itu RNH tak sendiri. Ia ditemani oleh adiknya dan juga talent lain berjenis kelamin laki-laki.

Baik RNH maupun talent pria tersebut, baru pertama kali ikut casting di tempat tersebut.

Proses syuting dilakukan melalui siaran langsung di YouTube dan TikTok tanpa alur cerita yang jelas. 

Dugaan Pelecehan
Seluruh proses disebut berlangsung improvisasi penuh, dengan peran yang kerap berubah di tengah jalan.

"Briefingnya cuma disuruh mengalir saja. Kita disuruh live, tapi tidak dijelaskan detail materi apa yang harus kita sampaikan, durasi, atau batasannya," kata RNH.

Situasi makin membuatnya resah karena hampir seluruh kru dan talent yang hadir adalah laki-laki, tanpa pendamping perempuan.

Total ada enam laki-laki, satu dari talent dan lima dari orang-orang yang ada di tempat syuting tersebut.

Puncak ketidaknyamanan dialami RNH saat jeda syuting. 

Ia mengaku diajak berbicara secara pribadi oleh asisten produksi dan mendapatkan pertanyaan menyangkut kehidupan pribadi hingga ucapan bernada merendahkan.

"Waktu itu saya ditanya soal pacar, soal gaji, sampai disarankan ‘mending kerja di sini saja’ dengan iming-iming uang dan kedekatan dengan bos (pengasuh ponpes) Itu sangat tidak pantas," ungkapnya.

Tak hanya verbal, Rizka juga mengaku mengalami sentuhan fisik yang membuatnya merasa dilecehkan.

Namun, ia memilih menahan diri karena situasi live dan tekanan psikologis di lokasi.

"Sempat ada sentuhan di paha. Saya itu sangat tidak nyaman, tapi posisinya sulit karena sedang live," ucapnya.

Kasus Viral dan Rencana Korban

Dengan kondisi seperti itu, RNH akhirnya menghubungi rekan-rekannya melalui chat di grup WhatsApp.

Ia menceritakan tentang kondisinya yang mulai tidak nyaman dengan perlakuan kru dan tim produksi di tempat syuting tersebut.

Saking tidak nyamannya, di saat momen syuting berlangsung, RNH sempat mengubah jalan cerita.

Ia terkejut saat mengetahui konsep lanjutan konten yang mengarah pada adegan sumpah pocong secara live

Sesuatu yang sejak awal tidak pernah dijelaskan.

"Saya menolak. Dari awal saya tidak pernah setuju dengan konsep seperti itu," tegasnya.

Ketidaknyamanan itulah yang membuat RNH ingin segera meninggalkan tempat syuting tersebut.

Sebab, waktu sudah pukul 17.00 WIB yang mengharuskan dia pergi karena ada urusan lain yang harus ia datangi.

"Saya di sana itu sejak pukul 12.00 WIB. Karena di awal sudah gak jelas konsepnya bagaimana, alurnya bagaimana, jadi aku gak tahu selesainya sampai jam berapa,"

"Hingga akhirnya sore itu aku putuskan untuk pergi dari tempat itu bersama talent pria satunya," katanya.

Masalah lain muncul ketika RNH mengetahui bayaran Rp 200 ribu tersebut bukan untuk satu sesi, melainkan untuk empat kali siaran langsung. 

Artinya, setiap live hanya dihargai sekitar Rp 50 ribu.

"Jadi yang aku hubungi di awal itu ternyata agency. Bukan langsung dari production house-nya,"

"Dan ketika saya pulang sempat diminta nomor WhatsApp dan nomor rekening oleh pengasuh ponpes tersebut. Katanya nanti mau di transfer. Tapi saya ya gak mau menerima bayaran itu dan lebih baik saya pergi," 

"Parahnya lagi, si pengasuh ponpes itu sempat WhatsApp saat dengan emoticon love. Tapi gak aku balas," ungkapnya.

Kasus ini mendadak viral setelah ada akun Instagram @sovinovitav yang membuat unggahan berkaitan dengan kasus tersebut pada 2 Februari 2026 kemarin.

Awalnya, RNH memilih diam. Namun sikapnya berubah setelah mengetahui ada korban lain yang mengalami perlakuan serupa dan mulai membagikan pengalaman mereka di media sosial.

"Kalau cuma saya, mungkin masih bisa saya pendam. Tapi ternyata ada korban lain, bahkan yang mendapat ancaman. Itu yang membuat saya tidak bisa diam," ujarnya.

Sejak kasus ini viral, RNH mengaku menerima banyak pesan dari perempuan lain yang mengaku mengalami dugaan pelecehan serupa, baik oleh pihak utama maupun asistennya.

RNH menyebut, hingga kini memang belum ada proses hukum yang berjalan karena keterbatasan bukti visual.

Meski demikian, ia dan korban lain berencana menempuh langkah pelaporan akun serta mendorong adanya sanksi sosial.

"Kalau belum bisa diproses hukum, setidaknya masyarakat tahu. Jangan sampai korban berikutnya bertambah," tandasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved