Rupiah Melemah, Ekonom Universitas Brawijaya Minta Masyarakat Tak Panik

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan hingga menembus kisaran Rp17.870 per dolar AS pada Kamis (28/5/2026)

Tayang:
Penulis: Rifki Edgar | Editor: Samsul Arifin
Tribunnews/Jeprima
RUPIAH MELEMAH - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Dr. rer. pol. Wildan Syafitri, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah panik di tengah kondisi rupiah yang semakin melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah hingga Rp17.870 per dolar.
  • Ekonom Universitas Brawijaya menyebut capital outflow dan faktor global jadi penyebab utama.
  • Masyarakat diminta tidak panik karena kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih terkendali.

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, David Yohanes

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan hingga menembus kisaran Rp17.870 per dolar AS pada Kamis (28/5/2026).

Kondisi tersebut membuat Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Dr. rer. pol. Wildan Syafitri, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah panik atau terpengaruh sentimen negatif yang justru bisa memperburuk kondisi ekonomi.

Menurut Wildan, salah satu faktor yang turut menentukan stabilitas rupiah bukan hanya kondisi ekonomi global, tetapi juga ekspektasi masyarakat dan investor terhadap perekonomian nasional.

"Kalau masyarakat merasa ekonomi sedang tidak baik, mereka cenderung mencari aset yang dianggap aman seperti dolar. Permintaan dolar naik, akhirnya rupiah semakin tertekan," kata Wildan pada Kamis (28/5/2026).

Ia menjelaskan, nilai tukar pada dasarnya bergerak berdasarkan mekanisme permintaan dan penawaran (demand and supply). 

Ketika permintaan terhadap dolar meningkat, sementara permintaan terhadap rupiah melemah, maka kurs rupiah akan mengalami tekanan.

Baca juga: Menkeu Purbaya Sebut Rupiah Rp17.800 per Dolar AS Tak Masuk Akal, Padahal Ekonomi Bagus

Capital Outflow dan Suku Bunga AS Jadi Faktor Utama

Wildan menilai, kondisi ini salah satunya dipicu oleh capital outflow atau arus modal asing yang keluar dari Indonesia. 

Situasi tersebut biasanya terjadi ketika investor melihat negara lain, terutama Amerika Serikat, lebih menarik untuk menempatkan investasinya karena suku bunga lebih tinggi dan dianggap lebih aman.

"Kalau suku bunga di Amerika naik, investor cenderung memindahkan dananya ke sana. Dampaknya, permintaan dolar meningkat dan rupiah melemah,” jelasnya.

Tak hanya faktor ekonomi global, Wildan menyebut gejolak geo politik internasional, konflik antar negara, hingga ketidakpastian pasar saham juga ikut memengaruhi kepercayaan investor terhadap negara berkembang seperti Indonesia.

Menurutnya, ketika pasar saham melemah dan kepercayaan investor turun, potensi capital outflow semakin besar, yang akhirnya kembali memberi tekanan pada nilai tukar rupiah.

Wildan menegaskan, pelemahan rupiah memang tidak selalu langsung dirasakan masyarakat.

Baca juga: Kata Purbaya soal Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS, Sebut APBN Aman Tak Perlu Hitung Ulang

Dampak Pelemahan Rupiah Bisa Pengaruhi Harga Barang

Namun, dalam jangka bertahap, dampaknya bisa masuk ke berbagai kebutuhan sehari-hari karena Indonesia masih cukup bergantung pada barang impor, termasuk kedelai, gandum, terigu, hingga sebagian komponen bahan bakar minyak (BBM).

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved