Ramadan 2026

Awal Ramadan Bisa Beda-beda, Kenapa? ini Penjelasan Kemenag dan MUI

Menurut Kemenag, potensi perbedaan penetapan awal Ramadan adalah hal yang wajar.

TribunJatim.com/Sofyan Arif Candra
PENETAPAN AWAL RAMADAN - Ilustrasi rukyatul hilal. Menurut Kemenag, potensi perbedaan penetapan awal Ramadan adalah hal yang wajar, Senin (16/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Kementerian Agama menegaskan, perbedaan awal Ramadan bukan masalah, karena ada mekanisme sidang isbat yang menjadi forum musyawarah bagi semua ormas Islam untuk mengambil keputusan bersama.
  • Menurut Kemenag, potensi perbedaan penetapan awal Ramadan adalah hal yang wajar.
  • MUI menilai perbedaan dalam penetapan awal Ramadan merupakan bagian dari dinamika ijtihad yang menunjukkan kematangan tradisi keilmuan Islam di Indonesia.

 

TRIBUNJATIM.COM - Fenomena yang kerap ditemui di Indonesia menjelang Ramadan adalah penentuan awal Ramadan yang bisa berbeda.

Perbedaan ini muncul karena variasi metode penentuan bulan hijriah yang digunakan oleh berbagai organisasi kemasyarakatan Islam.

Mulai dari hisab, rukyatul hilal, hingga pendekatan terbaru seperti Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Kementerian Agama menegaskan, perbedaan ini bukan masalah, karena ada mekanisme sidang isbat yang menjadi forum musyawarah bagi semua ormas Islam untuk mengambil keputusan bersama.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai perbedaan ini justru mencerminkan kematangan tradisi keilmuan Islam di Indonesia, selama disikapi dengan saling menghormati.

Baca juga: Awal Ramadan 2026: Turkiye hingga Arab Saudi Umumkan Tanggal, Indonesia Berpotensi Berbeda

Baca juga: Jadwal Salat Tarawih Pertama 2026 dan Bacaan Niat Puasa Ramadan 1447 H

Perbedaan Metode, Perbedaan Hasil

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, belum lama ini sempat menyampaikan potensi perbedaan penetapan awal Ramadan adalah hal yang wajar.

“Sebenarnya kalau berbeda itu biasa gitu, karena cara pandang kemudian cara penetapan dari ormas-ormas Islam tersebut tidak sama,” ujarnya, Selasa (10/2/2026), sebagaimana dilansir Antara, dikutip dari Kompas.com.

Menurut Arsad, beberapa pendekatan yang digunakan antara lain metode hisab, rukyatul hilal, dan KHGT.

“Kalau istilahnya Prof Thomas Djamaluddin (astronom BRIN) itu ada hilal global dan hilal lokal. Jelas kalau hilal lokal dengan hilal global, itu sudah pasti berbeda,” tambahnya.

Arsad menegaskan, pemerintah mengundang semua ormas Islam, seperti Muhammadiyah, NU, Persis, dan lainnya, untuk menyampaikan pandangan masing-masing dalam sidang isbat.

Keputusan yang diambil menjadi dasar penetapan awal Ramadan oleh pemerintah.

“Perbedaan itu wajar dan kita harus terlatih untuk menghormati perbedaan-perbedaan tersebut,” katanya.

Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadan 1447 H terjadi Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB.

Posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk, sehingga belum memenuhi syarat terlihat secara teoritis menurut kriteria visibilitas seperti MABIMS.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved