Jatimpedia

Daftar Risiko Hantavirus dan Cara Pencegahan agar Terhindar dari Penularan

Kemenkes menyebut Hantavirus memiliki fatalitas tinggi, terutama pada jenis Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dengan risiko kematian.

Tayang:
Dokumen EnviroCon Termite & Pest via Tribunnews
HANTAVIRUS - Kemenkes menyebut Hantavirus memiliki fatalitas tinggi, terutama pada jenis Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dengan risiko kematian mencapai 40–50 persen akibat gagal napas akut. Hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun pengobatan spesifik untuk Hantavirus. Pencegahan melalui pengendalian tikus dan menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah utama untuk menghindari penularan, Kamis (14/5/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Kemenkes menyebut Hantavirus memiliki fatalitas tinggi, terutama pada jenis Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dengan risiko kematian mencapai 40–50 persen akibat gagal napas akut.
  • Hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun pengobatan spesifik untuk Hantavirus.
  • Pencegahan melalui pengendalian tikus dan menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah utama untuk menghindari penularan.

 

TRIBUNJATIM.COM - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membeberkan tingkat bahaya Hantavirus yang saat ini menjadi perhatian dunia kesehatan internasional.

Dalam pedoman kesehatan yang diterbitkan pada Oktober 2022, Kemenkes menjelaskan Hantavirus memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, terutama pada jenis gejala tertentu yang fatalitasnya dapat mencapai sekitar 50 persen dari total kasus.

Temuan tersebut menjadi peringatan serius bagi masyarakat karena hingga kini belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk infeksi virus yang penularannya berkaitan dengan tikus tersebut.

Baca juga: Daftar Rumah Sakit Rujukan Hantavirus yang Disiapkan Kemenkes, Jawa Timur di Mana?

Angka Kematian: Ancaman Fatal pada Sistem Pernapasan

Kemenkes memerinci tingkat risiko kematian akibat Hantavirus sangat bergantung pada jenis manifestasi klinis atau gejala yang dialami oleh pasien.

  • Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS): Manifestasi yang menyerang paru-paru ini memiliki kemungkinan kematian paling tinggi, yakni pada rentang 40 hingga 50 persen. Kematian biasanya terjadi akibat gagal napas akut karena paru-paru terisi cairan.
  • Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Gejala yang menyerang ginjal ini memiliki angka kematian yang lebih rendah dibandingkan HPS. Risikonya berada pada rentang 5-15 persen jika terinfeksi virus tipe Hantaan, dan di bawah 1 persen jika terinfeksi virus tipe Puumala.

Baca juga: Daftar Aktivitas Harian Berisiko Tinggi Terpapar Hantavirus yang Perlu Diwaspadai Menurut Kemenkes

Vaksin Belum Tersedia, Pencegahan Jadi Kunci

Satu hal yang ditegaskan Kemenkes adalah fakta bahwa dunia medis saat ini belum memiliki vaksin untuk mencegah paparan Hantavirus. 

Tanpa adanya pelindung biologis tersebut, pengendalian populasi tikus dan menjaga kebersihan lingkungan rumah menjadi satu-satunya pertahanan utama.

"Sampai saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah terpapar Hantavirus. Untuk mencegah terpapar Hantavirus, Anda dapat menerapkan upaya pengendalian rodensia dan pencegahan kontak dengan urine, tinja, dan air liur rodensia," bunyi keterangan resmi Kemenkes.

Baca juga: Hantavirus Bisa Sebabkan Gangguan Paru dan Ginjal, Dokter ITS Ungkap Gejala dan Cara Penularannya

3 Langkah Utama Pencegahan Mandiri

Untuk menekan risiko penularan Hantavirus, Kemenkes merilis panduan praktis yang bisa dilakukan masyarakat di rumah maupun di tempat kerja:

  • Menutup akses masuk: Periksa seluruh sudut bangunan dan tutup lubang-lubang sekecil apa pun di dalam maupun luar rumah untuk mencegah tikus bersarang di dalam hunian.
  • Memasang perangkap: Gunakan perangkap tikus di area yang dicurigai sebagai jalur aktivitas rodensia untuk mengurangi populasinya secara berkala.
  • Melindungi bahan pangan: Pastikan makanan dan minuman selalu tertutup rapat menggunakan tudung saji atau wadah kedap udara. Hal ini penting untuk mencegah kontaminasi air liur, urine, atau kotoran tikus pada apa yang kita konsumsi.

Kemenkes mengimbau warga untuk tidak menyepelekan keberadaan tikus di lingkungan mereka.

Mengingat tingginya angka kematian pada tipe HPS, penanganan medis yang cepat di fasilitas kesehatan sangat menentukan peluang hidup pasien melalui terapi suportif.

Kedisiplinan dalam menjaga kebersihan rumah kini bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan langkah penyelamatan nyawa di tengah ancaman virus yang belum ada obatnya ini. 

Artikel telah tayang sebelumnya di kompas.tv

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews Tribunjatim.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved