Ramadan 2026

Menu yang Diperbolehkan dan Dilarang untuk MBG di Bulan Ramadan, sudah Ditetapkan BGN

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipastikan akan tetap jalan. Ada sejumlah menu yang dianjurkan untuk disalurkan saat Ramadan.

Tayang:
Editor: Torik Aqua
TribunJatim.com/Hanggara Syahputra
MENU - Ilustrasi menu MBG. Simak menu yang diperbolehkan dan dilarang selama bulan Ramadan 2026. 
Ringkasan Berita:
  1. Badan Gizi Nasional memastikan Makan Bergizi Gratis tetap berjalan selama Ramadan dan Idul Fitri 1447 H, dengan penyesuaian jadwal.
  2. Menu MBG selama Ramadan berupa makanan kemasan sehat seperti telur asin, abon, dendeng kering, buah, dan kurma.
  3. Distribusi MBG menggunakan sistem dua tote bag berbeda warna.

 

TRIBUNJATIM.COM - Deretan menu MBG yang diperbolehkan selama bulan Ramadan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipastikan akan tetap jalan.

Ada sejumlah menu yang dianjurkan untuk disalurkan saat Ramadan.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menjelaskan jika program MBG hingga cuti bersama Idul Fitri 2026 akan terus berjalan.

Baca juga: Selama Ramadan 2026, MBG di Kabupaten Malang Bakal Sajikan Menu yang Berbeda dari Biasanya

"Program MBG selama Ramadan, libur dan cuti bersama Idul Fitri 1447 Hijriah tetap berjalan," kata Dadan di Jakarta, Sabtu (14/2).

BGN pun menerbitkan, Surat Edaran (SE) Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelayanan Program MBG pada Bulan Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah serta Libur Tahun Baru Imlek 2026, yang diteken langsung oleh Kepala BGN.

Menu yang Diperbolehkan

SPPG menyediakan 2 (dua) buah tote bag untuk setiap penerima manfaat dengan warna yang berbeda (misalnya warna biru dan merah) agar dapat menjadi pembeda antara kantong tote bag yang sebelumnya digunakan, dengan kantong tote bag yang akan ditukar pada hari berikutnya guna memudahkan identifikasi dan pengecekan.

Penerima manfaat diharuskan membawa kembali kantong tote bag yang diterima sehari sebelumnya sebagai syarat untuk mendapatkan paket MBG kemasan sehat berikutnya.

Dalam SE yang diteken kepala BGN Dadan Hindayana merekomendasi menu untuk makanan kemasan.

Seperti telur asin, abon, dendeng kering, buah, dan/atau makanan khas lokal lainnya, serta kurma (opsional).

Makanan-makanan yang diberikan tetap harus memperhatikan keamanan pangan, mutu makanan, serta standar gizi menurut kelompok usia penerima manfaat.

Tidak Direkomendasikan

Dalam penetapan menu MBG selama Bulan Ramadan, tidak dianjurkan menggunakan menu yang cepat basi, bercita rasa pedas, dan berpotensi menimbulkan keracunan pangan.

Tidak boleh makanan kemasan dalam arti produk pabrikan ultra‑processed food (UPF) yang dijadikan menu utama.

PPG dan Sekolah Harus Sepakati Distribusi MBG selama Bulan Ramadan

Khusus saat libur sekolah, SPPG akan berkoordinasi dengan pihak sekolah terkait mekanisme distribusi MBG.

Setiap penerima manfaat akan mendapatkan dua tote bag dengan warna berbeda (misalnya biru dan merah).

Tas ini dipakai bergantian agar mudah dibedakan dan dicek.

Peserta juga wajib mengembalikan tote bag yang diterima sehari sebelumnya sebagai syarat untuk mendapatkan paket MBG berikutnya. 

Sistem ini dibuat supaya distribusi lebih tertib dan terkontrol.

Dalam ketentuan pendistribusian, terdapat beberapa penyesuaian jadwal. 

Pada periode cuti bersama dan libur Tahun Baru Imlek, yakni 16-17 Februari 2026, tidak dilakukan pendistribusian MBG.

Sama halnya pada awal Ramadan, yakni 18-22 Februari, pemberian makanan bergizi tersebut juga tidak dilaksanakan. 

Namun, pendistribusian akan dimulai kembali pada 23 Februari.

Prabowo pamer program MBG ke Internasional

Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program unggulan Presiden Prabowo Subianto kini menarik perhatian internasional.

Termasuk dari para pakar dari White House dan Rockefeller Institute.

MBG menjadi program yang bertujuan untuk menyediakan makanan bergizi secara gratis bagi masyarakat, terutama untuk anak sekolah (PAUD hingga SMA), balita, ibu hamil dan ibu menyusui.

Program ini dijalankan oleh Pemerintah Indonesia.

Baca juga: SPPG Serap Bahan Baku UMKM dan Petani Lokal, Salurkan 755 Porsi MBG ke Sembilan Sekolah

Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas gizi, kesehatan, dan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Hal itu disampaikan Presiden Prabowo dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).

"Tetapi saya hanya ingin beritahu saya baru 1 hari yang lalu para ahli pakar dari White House sedang mempelajari MBG kita ini, sedang mempelajari MBG kita sendiri," ujar Prabowo.

Tak hanya itu, kepala negara RI juga mengungkapkan beberapa bulan lalu ia menerima kunjungan dari Rockefeller Institute.

Lembaga tersebut menilai program makan bergizi gratis merupakan investasi terbaik yang bisa dilakukan suatu negara.

"1 dolar atau 1 rupiah yang kita keluarkan untuk makan bergizi akan menimbulkan lipat ganda minimal 5 kali, dan dalam jangka panjang akan menjadi 35 kali investasinya itu," jelasnya.

Menurut Prabowo, penilaian internasional tersebut menunjukkan MBG bukan sekadar program sosial, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.

"Menteri Kesehatan you boleh cek kan ini direkam Secretary of Health dari Amerika Serikat, saya dapat berita ingin jumpa dengan saya ingin bertanya tentang MBG," ungkap Prabowo.

Di sisi lain, Prabowo menyampaikan hingga saat ini program MBG telah menjangkau 60 juta penerima manfaat dalam waktu sekitar satu tahun lebih. 

Angka tersebut, kata Prabowo, sebelumnya banyak diragukan.

"Tidak ada yang menduga kita mampu tidak ada yang menduga banyak bahkan orang-orang hebat meramalkan, pasti gagal," ucap dia.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) realisasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga akhir Desember 2025 mencapai Rp51,5 triliun.

Angka tersebut setara dengan 72,5 persen dari alokasi anggaran dari APBN yang sebesar Rp71 triliun di tahun 2025.

Artinya masih terdapat 27,5 persen atau Rp19,5 triliun lagi anggaran yang belum diserap.

Dari total tersebut, manfaat yang diterima langsung kepada masyarakat sebesar Rp 43,3 triliun.

Ini untuk penyediaan makanan bergizi bagi siswa, balita, ibu hamil dan menyusui serta guru dan tenaga kependidikan di seluruh Indonesia.

Sedangkan data per tanggal 7 Januari 2026, penerima manfaat program MBG ini sudah sebanyak 56,13 juta yang menyasar ke 38 provinsi.

MBG jadi penyelamat

Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, soal penyebab banyak anak di Indonesia yang putus sekolah, viral di media sosial (medsos).

Dadan Hindayana menilai bahwa saat ini anak berhenti sekolah lantaran faktor uang jajan.

Sehingga menurutnya, program Makan Begizi Gratis (MBG) jadi penyelamatnya.

Baca juga: Kolom Pekerjaan di KTP Diisi Pewaris Keluarga Zhang. Disdukcapil Ternyata Terinspirasi Drama China

Pernyataan tersebut disampaikan Dadan Hidayana saat menjadi narasumber dalam tayangan di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, pada Agustus 2025 lalu.

Dalam wawancara bersama Helmy Yahya tersebut, Dadan memaparkan hasil analisis terbaru.

Analisis tersebut menantang anggapan umum soal mahalnya biaya pendidikan menjadi penyebeb anak putus sekolah. 

Menurutnya, persoalan utama bukan lagi SPP, mengingat pendidikan di Indonesia sebagian besar sudah gratis.

Justru beban ekonomi keluarga untuk memenuhi uang jajan harian anak menjadi faktor signifikan yang mendorong anak untuk berhenti sekolah.

"Ada hasil analisis yang cukup menarik terkait dengan apakah pendidikan gratis atau makanan bergizi," kata Dadan Hindayana, mengutip Tribun Jakarta, Senin (2/2/2026).

"Dari hasil analisis itu, ini terbaru nih, anak muda yang sangat concern apa sih yang menyebabkan anak putus sekolah," imbuhnya.

"Kan pendidikan kita sudah gratis ya, sebagian besar, kecuali sekolah-sekolah swasta yang terkenal kan," lanjut Dadan.

"Dan ternyata yang membuat anak putus sekolah karena kemampuan memberi jajan uang harian kepada anak, itu yang menyebabkan banyak putus sekolah," tambahnya.

Temuan ini membuka perspektif baru tentang keterkaitan antara gizi, ekonomi keluarga, dan keberlanjutan pendidikan.

Dadan menilai, kehadiran program MBG berperan penting sebagai solusi konkret yang membantu anak tetap bersekolah tanpa terbebani dengan biaya harian.

"Jadi hadirnya MBG menyelamatkan mereka, jadi mereka sekarang kalau ke sekolah tidak membutuhkan bekal karena sudah disiapkan di sekolah, atau yang dikasih uang jajan sedikit bisa ditabung juga makannya sudah ada di sekolah," pungkas Dadan Hindayana.

Bantah pakai dana pendidikan

Pada 20 Januari 2026 lalu, Wakil Kepala BGN, Nanik Deyang, membantah bahwa dana MBG menggunakan anggaran pendidikan Rp335 triliun.

Nanik mengaku gelisah mendengar tudingan banyak pihak terkait anggaran MBG yang menyerobot anggaran pendidikan tersebut di media sosial.

Ia kemudian menemui Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Keuangan, Heru Pambudi, guna mengklarifikasi isu yang berkembang di media sosial.

Menurut Nanik, dalam pertemuan tersebut, Purbaya membantah narasi yang beredar di media sosial.

Baca juga: Kucing Ditendang Pria hingga Mati, Pemilik Malah Diancam Pelaku: Nantangin Bawa ke Ranah Hukum

Dana yang digunakan untuk MBG, kata Purbaya, berasal dari pemangkasan anggaran berbagai kementerian/lembaga.

"Pak Purbaya menjawab, 'Tidak benar, tidak hanya dari anggaran pendidikan, dana itu diambil dari mana-mana. Semua kementerian kita potong. Saya di sini (Kemenkeu) juga kena potong'," kata Nanik menirukan Purbaya.

Selain dana dari realokasi kementerian/lembaga, dana untuk MBG juga menggunakan dana rampasan terpidana korupsi.

"Ada dana pampasan dari para koruptor juga disertakan juga untuk ikut membiayai program MBG. Pokoknya dari mana-mana deh," kata Nanik lagi menirukan Purbaya.

Dalam keterangannya, Nanik juga menyampaikan keberatan karena kondisi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) belakangan dibentur-benturkan dengan nasib guru honorer.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, saat menegur pihak SPPG di tengah peninjauan pelaksanaan MBG di SMK 1 Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, saat menegur pihak SPPG di tengah peninjauan pelaksanaan MBG di SMK 1 Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026). (KOMPAS.com/Rahel)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved