Ramadan 2026
Akademisi Ungkap Risiko Pola Tidur Berantakan Selama Puasa Ramadan
Aktivitas berubah selama Ramadan kerap mempengaruhi istirahat. Pergeseran jam makan hingga kebiasaan begadang membuat pola tidur tidak teratur.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Torik Aqua
Ringkasan Berita:
TRIBUNJATIM.COM - Pola tidur yang berantakan saat bulan Ramadan bisa menimbulkan risiko kesehatan.
Aktivitas yang berubah selama bulan Ramadan kerap mempengaruhi waktu istirahat.
Pergeseran jam makan hingga kebiasaan begadang membuat pola tidur menjadi tidak teratur.
Kondisi ini ternyata berisiko mengganggu metabolisme dan daya tahan tubuh.
Baca juga: Pakai Obat Tetes Mata di Bulan Ramadan, Apakah Puasa tetep Sah? Simak Penjelasannya
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Lailatul Muniroh, SKM, MKes, menjelaskan bahwa perubahan pola tidur sering terjadi saat memasuki bulan puasa, khususnya di kalangan mahasiswa.
Aktivitas seperti tarawih, tadarus, berkumpul bersama teman, hingga menyelesaikan tugas kuliah membuat waktu tidur semakin larut.
“Selain itu, saat puasa terjadi perubahan hormon kortisol dan melatonin yang juga memengaruhi kualitas tidur. Hal ini bisa semakin parah apabila seseorang begadang sampai sahur. Akibatnya tidur menjadi lebih larut, durasi tidur berkurang, atau kualitas tidur terganggu,” ungkapnya.
Menurut Lailatul Muniroh, pola tidur yang berantakan tidak hanya berdampak pada rasa kantuk di siang hari.
Dalam jangka pendek, kondisi tersebut dapat menyebabkan konsentrasi menurun, perubahan suasana hati (mood swing), pusing, hingga turunnya daya tahan tubuh.
Dalam jangka menengah, dampaknya lebih luas.
Gangguan tidur dapat memengaruhi metabolisme tubuh, meningkatkan hormon stres, serta membuat nafsu makan sulit terkontrol saat berbuka.
“Ini berisiko pada kenaikan berat badan, gangguan regulasi gula darah, serta ketidakseimbangan hormon lapar,” jelasnya.
Tak hanya kekurangan tidur, kelebihan tidur juga dapat memicu masalah.
Tidur siang yang terlalu lama, misalnya, bisa menyebabkan pusing saat bangun dan membuat seseorang sulit tidur pada malam hari.
“Terlalu banyak tidur menyebabkan metabolisme melambat, apalagi jika kurang aktivitas fisik, tubuh akan terasa lebih lemas,” tambahnya.
Untuk menjaga pola tidur tetap sehat selama Ramadan, Lailatul Muniroh menyarankan agar masyarakat membiasakan tidur lebih awal dan menghindari kebiasaan menggulir ponsel sebelum tidur.
Ia juga mengingatkan agar tidak begadang tanpa alasan mendesak.
Tidur siang singkat selama 20–30 menit dapat membantu memulihkan energi.
Selain itu, masyarakat dianjurkan membatasi konsumsi kafein saat berbuka, melakukan aktivitas fisik ringan di pagi hari, serta mengonsumsi sahur dengan gizi seimbang agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi.
“Ramadan adalah momen belajar pengendalian diri, sekaligus melatih kedisiplinan hidup. Tidur yang teratur bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi bagian dari menjaga tubuh. Jadikan Ramadan sebagai bulan menata ritme hidup agar lebih seimbang, sehat, dan berkualitas. Karena ibadah yang optimal lahir dari tubuh yang sehat,” pungkasnya.
| Parade Oklik Semarakkan Malam 29 Ramadan di Bojonegoro, 1.100 Obor Dinyalakan |
|
|---|
| Gubernur Khofifah Belanja Bandeng Kawak di Pasar Bandeng Gresik: Rekomendasi Pemudik |
|
|---|
| Doa Akhir Ramadan yang Diajarkan Rasulullah SAW Lengkap dengan Terjemahannya |
|
|---|
| Ciri-ciri Orang Mendapat Lailatul Qadar Ramadan 1447 H/2026 Menurut Buya Yahya |
|
|---|
| Cara Karyawan Freeport Indonesia Meriahkan Ramadan, Gelar Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Dosen-FKM-Universitas-Airlangga-Lailatul-Muniroh-SKM-MKes.jpg)