Ramadan 2026
Waspada Risiko Konsumsi Gorengan dan Susu saat Minum Obat di Bulan Puasa
Menurut Steven, makanan tinggi lemak seperti gorengan, makanan bersantan kental, dan jeroan dapat memperlambat pengosongan lambung.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Torik Aqua
Ringkasan Berita:
- Dosen farmasi mengingatkan interaksi makanan dengan obat saat puasa.
- Edukasi berasal dari Fakultas Farmasi Universitas Surabaya.
- Lemak, susu, kafein dapat memengaruhi efektivitas obat.
TRIBUNJATIM.COM - Waspadai risiko mengonsumsi gorengan dan susu saat mengonsumsi obat di bulan Ramadan.
Pola makan saat puasa di bulan Ramadan perlu diperhatikan apalagi ketika menjalani terapi obat.
Sebab bisa memengaruhi efektivitas dari obat tersebut.
Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya), apt. Steven Victoria Halim, M.Farm., mengingatkan bahwa beberapa jenis makanan dapat memengaruhi efektivitas obat bila dikonsumsi berdekatan dengan jadwal minum obat.
Baca juga: Pakai Obat Tetes Mata di Bulan Ramadan, Apakah Puasa tetep Sah? Simak Penjelasannya
Menurut Steven, makanan tinggi lemak seperti gorengan, makanan bersantan kental, dan jeroan dapat memperlambat pengosongan lambung.
Kondisi ini berdampak pada proses penyerapan obat di usus sehingga kerja obat menjadi kurang optimal.
“Secara umum, makanan berlemak bisa menghambat atau memperlambat penyerapan obat tertentu. Saat puasa, waktu konsumsi obat menjadi lebih terbatas, sehingga penting memastikan obat dapat terserap dengan baik,” ujarnya.
Selain makanan berlemak, produk susu dan olahannya seperti susu, keju, dan yoghurt juga perlu diwaspadai.
Kandungan kalsium dalam susu dapat berikatan dengan beberapa jenis obat dan membentuk senyawa yang sulit diserap tubuh.
“Obat-obatan tertentu, misalnya beberapa jenis antibiotik, dapat berikatan dengan kalsium sehingga penyerapannya berkurang. Karena itu, sebaiknya beri jeda waktu antara konsumsi susu dan minum obat,” jelasnya.
Steven juga mengingatkan agar masyarakat membatasi konsumsi makanan pedas dan asam seperti sambal, acar, serta minuman asam. Kombinasi makanan tersebut dengan obat yang memiliki efek samping pada lambung dapat meningkatkan risiko iritasi.
Tak hanya itu, minuman berkafein seperti kopi, teh kental, dan minuman bersoda juga sebaiknya dikurangi selama puasa.
Kafein dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil dan berpotensi memicu dehidrasi ringan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kondisi tubuh secara umum, termasuk respons terhadap obat.
Sebaliknya, ia menyarankan konsumsi makanan kaya protein seperti telur, ikan, ayam, tahu, dan tempe untuk membantu menjaga rasa kenyang lebih lama.
Asupan cairan yang cukup secara bertahap dari waktu berbuka hingga sahur juga penting untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh.
“Air putih yang cukup membantu mencegah dehidrasi ringan selama puasa. Kondisi tubuh yang terhidrasi dengan baik akan mendukung proses kerja obat di dalam tubuh,” imbuhnya.
Mengingat adanya potensi interaksi antara makanan dan obat, Steven menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter atau apoteker, terutama bagi pasien dengan penyakit kronis atau yang mengonsumsi obat dengan aturan waktu ketat.
“Jangan menghentikan atau mengubah dosis obat tanpa konsultasi. Penyesuaian jadwal minum obat selama puasa sebaiknya dilakukan bersama tenaga kesehatan agar terapi tetap aman dan efektif,” tegasnya.
| Parade Oklik Semarakkan Malam 29 Ramadan di Bojonegoro, 1.100 Obor Dinyalakan |
|
|---|
| Gubernur Khofifah Belanja Bandeng Kawak di Pasar Bandeng Gresik: Rekomendasi Pemudik |
|
|---|
| Doa Akhir Ramadan yang Diajarkan Rasulullah SAW Lengkap dengan Terjemahannya |
|
|---|
| Ciri-ciri Orang Mendapat Lailatul Qadar Ramadan 1447 H/2026 Menurut Buya Yahya |
|
|---|
| Cara Karyawan Freeport Indonesia Meriahkan Ramadan, Gelar Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Dosen-Fakultas-Farmasi-Ubaya-apt-Steven-Victoria-Halim-MFarm.jpg)