Ramadan 2026
Menjemput Lailatul Qadar di Malam-malam Ganjil Bulan Ramadan
Salah satu keutamaan malam-malam suci Ramadan ialah turunnnya suatu malam yang disebut malam Lailatul Qadar.
Menjemput Lailatul Qadar
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar
TRIBUNJATIM.COM - Salah satu keutamaan malam-malam suci Ramadan ialah turunnnya suatu malam yang disebut malam Lailatul Qadar.
Malam ini sebetulnya bagi kita mungkin tidak terasa dan dilihat tidak lebih dari malam-malam selainnya.
Hanya saja dalam pandangan ulama hadis memang disebutkan banyak keajaiban malam Lailatul Qadar ini.
Dalam sebuah hadis dijelaskan ketika Nabi Muhammad SAW memimpin salat jamaah yang makmumnya para nabi di Baitul Maqdis, Palestina, menjelang mi’raj ke langit, para nabi memohon untuk dihidupkan kembali secara normal di muka bumi, meskipun hanya sebagai umat biasa dan tunduk kepada ajaran Islam.
Rahasia di balik permohonan itu ialah keberadaan Lailatul Qadar yang tidak pernah ada sebelum umat Nabi Muhammad. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan Tuhan.
Mengapa para nabi tersebut memandang penting makna Lailatul Qadar? Tentu saja mereka melihatnya demikian karena mereka hidupnya di alam barzakh, bagian dari alam gaib, dan menyaksikan betapa sibuk para malaikat langit turun memberikan fasilitas spiritual kepada para manusia, sebagaimana juga disebutkan dalam ayat tersebut di atas.
Keutamaan Lailatul Qadar di dalam bulan istimewa Ramadan luar biasa, sebagaimana disebutkan dalam ayat:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Q.S. al-Qadr/97:4).
Ayat-ayat di atas bagian dari ayat-ayat yang menceritakan keluarbiasaan malam sebagai waktu untuk menjalin komunikasi aktif dan intensif dengan Allah SWT.
Baca juga: Doa yang Sangat Dianjurkan saat Malam Lailatul Qadar, ini Maknanya
Ayat-ayat di atas, seolah-olah lebih menekankan arti penting malam hari dari pada siang hari, meskipun siang hari Ramadan itu kita mengerjakan puasa wajib ramadhan.
Itulah sebabnya para sahabat dan para ulama yang memahami rahasia keutamaan malam Ramadan lebih banyak begadang di malam harinya.
Mereka mengerjakan berbagai aktivitas ubudiah untuk meraih berkah dan kemuliaan Ramadan. Begitu pentingnya malam-malam hari Ramadan sehingga pernah ada sahabat yang membentangkan tali dari tiang ke tiang untuk menyangga badannya yang sudah lemah sambil terus melaksanakan shalat-shalat sunat di malam hari.
Pada masa turunnya Alquran bilangan paling tinggi ialah bilangan angka seribu. Sekiranya ada bilangan triliun seperti saat ini, maka mungkin redaksi Alquran “lebih mulia dari pada setriliun bulan”.
Itulah sebabnya ulama Tafsir tidak mengartikan kata alfun dalam alyat di atas dengan “seribu” tetapi ribuan atau beribu-ribu bulan, atau unlimited¸tanpa batas. Di sini bukan angka-angka yang amat penting tetapi kualitas dan intensitas waktu itu.
Baca juga: Rahasia Lailatul Qadar Menurut Buya Yahya di 10 Hari Terakhir Ramadan, Tak Perlu Dinanti
Ini bisa dimengerti dan di rasakan, bahwa memang malam hari menampilkan kegelapan tetapi bukankah kegelapan menjanjikan ketenangan, keteduhan, keakraban, kepasrahan, kerinduan, kehangatan, kesyahduan, dan kekhusyukan.
Sebaiknya kita lebih bersahabat dengan rahasia malam hari agar kita bisa memperoleh keberkahan hidup yang luar biasa.
Alangkah ruginya kita yang sudah menjadi umat nabi Muhammad tetapi masih menyia-nyiakan dan membiarkan peristiwa dahsyat Lailatul Qadar berlalu begitu saja, tanpa memanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyiapkan bekal hidup akhirat kita.
Seandainya hidup kita dikaruniai umur panjang misalnya 70 tahun, maka kita akan melewati 70 kali momen Lailatul Qadar.
Potong saja usia masa anak-anak yang belum mukallaf 15 tahun maka usia produktif kita masih ada 55 tahun, dikalikan 1000 bulan, maka jumlah usia produktif kita setara dengan 55.000 bulan atau 4583 tahun.
Inilah kelebihan kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan keistimewaan khusus yang tidak diberikan selain kita.
Mari kita menjemput kehadiran Lailatul Qadar di dalam jiwa kita masing-masing.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews Tribunjatim.com
Lailatul Qadar
Menteri Agama
Nasaruddin Umar
Ramadan
Alquran
Tribun Jatim
TribunJatim.com
jatim.tribunnews.com
| Parade Oklik Semarakkan Malam 29 Ramadan di Bojonegoro, 1.100 Obor Dinyalakan |
|
|---|
| Gubernur Khofifah Belanja Bandeng Kawak di Pasar Bandeng Gresik: Rekomendasi Pemudik |
|
|---|
| Doa Akhir Ramadan yang Diajarkan Rasulullah SAW Lengkap dengan Terjemahannya |
|
|---|
| Ciri-ciri Orang Mendapat Lailatul Qadar Ramadan 1447 H/2026 Menurut Buya Yahya |
|
|---|
| Cara Karyawan Freeport Indonesia Meriahkan Ramadan, Gelar Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Menteri-Agama-RI-Nasaruddin-Umar-terkait-malam-Lailatul-Qadar.jpg)